HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #10

9. PERSIAPAN

Laju mobil taksi online merayap pelan menembus padatnya lampu jalanan kota yang mulai lengang menjelang pukul delapan malam. Bau khas pengharum ruangan berpadu dengan aroma carrier kanvas basah yang mendesak kaca jendela belakang

Almaz duduk di kursi penumpanb depan. Abde duduk di sisi kiri, terjepit di antara dua ransel ukuran enam puluh liter yang memenuhi separuh jok tengah. Di sebelah kanannya, Xavier berbagi ruang sempit, lutut mereka membentur laci dasbor setiap kali pengemudi mengerem mendadak di lampu merah.

Di lampu merah perempatan jalan raya yang sepi, Xavier melirik Abde di sebelahnya.

"Kalau ternyata beliau berubah pikiran?" tanya Abde.

Xavier bersandar, melipat tangan di dada. "Minimal kita bisa pinjem mobil."

"Kalau mobilnya juga nggak boleh?"

"Ya berarti ngecer."

Almaz menatap mereka dari kaca spion tengah tertawa kecil.

Mobil taksi online itu berbelok perlahan, memasuki gerbang kompleks rumah Pak Broto.

Rumah pak Broto berdiri di balik pagar tanaman hias setinggi pinggang, lampu teras memancarkan cahaya kuning hangat. Di teras depan, dua pasang sepatu kets berjejer rapi di samping pot lidah buaya.

Xavier menekan bel rumah dua kali. Tiga ekor anak kucing berbulu belang tiga melesat keluar lebih dulu dari balik celah pintu, mengeong ribut menyambut tamu di malam hari.

Xavier berjongkok di atas ubin teras. Salah satu anak kucing berbulu putih abu-abu melompat ke atas pahanya, mengusap dagunya ke lutut celana jeans Xavier dengan dengkuran halus.

Abde terkekeh. "Baru juga datang, lo udah dapet pawang baru, Xav."

Pintu terbuka lebar. Seorang perempuan muda berusia awal tiga puluhan mengenakan kaos polos abu-abu longgar dan celana katun rumahan berdiri sambil melipat tangan di dada.

Ia menatap Pak Broto yang berdiri di belakangnya, lalu beralih ke tumpukan ransel carrier raksasa di sudut ruangan, mengunci pandangannya ke tiga mahasiswa yang cengar-cengir di teras.

Pak Broto merapikan kerah kemejanya yang tidak berantakan, batuk kecil dua kali. "Ekhm... Maya..."

"Mas..." potong Maya. "Katanya cuma mau mampir diskusi sebentar soal administrasi kampus."

Pak Broto menunjuk ransel carrier di punggung Xavier. "Mereka datang emang buat diskusi, Yang."

Maya menghela napas panjang, matanya melirik tiga ekor anak kucing yang mengerumuni sepatu Abde, lalu kembali menatap mereka bertiga.

"Yang tiga itu tiap hari bikin rumah pusing," Maya menunjuk kucing-kucingnya, lalu menggeser pandangannya ke arah mereka. "Sekarang malah nambah tiga ekor lagi."

Xavier mengangkat tangan kanannya mengelus kepala kucing di pahanya. "Tenang, Bu. Kami nggak makan whiskas."

Abde terbahak keras, Pak Broto menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Pak Broto berdehem pelan. "Daripada berdiri di depan pintu terus..." Ia melirik ke arah Maya sekilas. "...mending kita beresin barang dulu."

"Betul." Maya mengangguk cepat. "Biar tetangga nggak ngira rumah kita lagi buka jasa pendakian."

Abde meraih carrier miliknya. Xavier mengangkat kardus logistik yang diletakkan di dekat pintu, Almaz mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya