Jarum jam dinding di atas meja kasir berdetak malas, suaranya bergema di sudut ruangan. Di luar, jalanan Jakarta sudah mulai menyepi, menyisakan deru kendaraan sesekali yang memecah kesunyian malam.
Widya menghela napas panjang, lalu mulai mematikan lampu-lampu display satu per satu.
"Pacar kamu nekat juga, Wi," gumam Om Darto dari balik meja kasir. Ia sibuk menghitung tumpukan uang tunai, jari-jarinya memilah lembaran kertas.
Widya mendekat ke meja resepsionis, membereskan tumpukan kuitansi yang berserakan, mengambil penggaris besi, merapikan tepi kertas hingga sejajar. "Namanya juga Xavier, Om. Dia nggak bakal tenang sebelum dapat apa yang dia mau."
Om Darto tertawa kecil. "Mobil bagus digadai."
"Katanya nanti ditebus lagi," Widya meletakkan tumpukan map ke dalam laci besi, lalu menguncinya.
"Semoga aja," Om Darto memasukkan uang ke dalam brankas kecil di bawah meja. "Kalau nggak, yaudah. Barang bagus, sayang kalau cuma jadi pajangan showroom."
Radio tua di pojok ruangan memutar lagu lawas, Bunga Terakhir milik Bebi Romeo, sayup-sayup memenuhi udara. Mekanik mematikan lampu bengkel dan melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu samping.
Widya menuang teh hangat dari termos ke dalam gelas plastik. Uapnya mengepul, aroma melati menggantung di udara. Ia menyeruputnya pelan, kehangatan menjalar di tenggorokan.
Om Darto memeriksa kuitansi terakhir. Matanya menyipit saat menatap sebuah formulir pemesanan. "Memangnya penelitian apa sampai segitunya?"
Widya menyesap tehnya lagi, lalu bersandar di meja. "Sejarah."
Om Darto mendongak. "Sejarah apaan? Kok sampai harus gadai mobil segala?"
Pupil mata Widya bergerak ke atas. "Katanya nyari jejak ekspedisi VOC."
Om Darto mengangguk. "Oalah..."
"Mereka sih nggak tau isinya apa. Kata Xavier penting buat study mereka," lanjut Widya.
Om Darto mengangguk pelan. "Anak sejarah memang kadang susah dipahami."
Widya terkekeh. "Yang penting mobilnya nanti bisa ditebus."
Bunyi mesin hidrolik terdengar dari area bengkel belakang. Seorang mekanik mendorong sedan yang baru selesai dicuci ke depan showroom, lalu menggantungkan gantungan kunci pada papan serah terima.
"Pak, mobilnya sudah selesai," panggil mekanik itu.
Seorang pelanggan yang sejak tadi duduk di kursi ruang tunggu melipat koran di pangkuannya. Ia bangkit, meraih dompet dari saku belakang celananya, lalu berjalan menuju meja kasir.
Widya menerima pembayaran, menghitung lembar demi lembar uang tunai, kemudian menyerahkan kunci mobil yang sudah dibungkus plastik bening.
"Terima kasih, Pak."
Pria itu mengangguk singkat. Ia mengambil kunci, berbalik, lalu melangkah keluar menuju parkiran.
Suara mesin mobil menyala dari luar. Lampu depannya menyapu dinding showroom sesaat sebelum kendaraan itu keluar meninggalkan halaman.
Widya kembali menurunkan layar komputer kasir.