HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #12

11. PERKENALAN

Sepatu bot kulit hitamku menginjak lumpur pelabuhan Sunda Kelapa yang basah oleh sisa air pasang. Keranjang-keranjang rotan bergesekan di sepanjang dermaga, diiringi suara teriakan para pedagang Arab bergamis putih yang menawarkan gulungan kain katun.

Di sisi lain, pedagang Tionghoa berkaos longgar berdiri di bawah payung kertas merah, menimbang balok-balok tembakau kasar di atas dacing perunggu. Bau tajam cengkeh dan pala bercampur pekat dengan asin ikan teri yang dijemur di atas hamparan tikar pandan.

Mataku menyapu barisan kuli panggul pribumi yang punggungnya melengkung di bawah karung gula berat, lalu beralih ke buku catatan bersampul kulit domba di tanganku. Aku mencatat angka-angka timbangan dan volume muatan.

Aku melanjutkan langkah ke sebuah kedai kayu beratap rumbia berdiri di ujung dermaga yang mulai rapuh, tiangnya terendam setengah di air keruh. Di salah satu meja sudut, seorang pria berseragam VOC dengan kancing leher terbuka lebar duduk membungkuk, memutar-mutar cangkir tanah liat di antara jemarinya.

Aku berhenti tepat di depan meja itu.

Ia mendongak. Matanya menyipit menahan silau terik matahari pagi yang memantul dari permukaan air. "Kupikir kau sudah jadi jenderal."

Aku menarik kursi di hadapannya, lalu duduk tanpa melepaskan topi segitiganya. "Kupikir kau sudah mati kena malaria."

Kami tertawa singkat di antara deru ombak kecil dan suara benturan lambung kapal layar.

Cornelis mengambil kendi tanah liat di tengah meja, lalu menuangkan cairan kecoklatan yang mengepulkan uap tipis ke dalam cangkir di hadapanku. Jemarinya yang penuh bekas luka goresan menghentikan penuangan saat cairan hampir menyentuh bibir cangkir.

"Aku dengar kau datang untuk mengaudit pembukuan," bisiknya, suaranya hampir tenggelam oleh hiruk-pikuk buruh bongkar muat di luar.

Aku mengangguk, jemariku melingkar di sekeliling cangkir yang mulai menghangat. "Perintah dari dewan."

Cornelis terdiam sesaat. Matanya menatap ampas teh yang mengendap di dasar cangkirnya sendiri. "Kalau begitu, jangan percaya siapa pun."

Aku tersenyum tipis. "Termasuk kau?"

Cornelis ikut tersenyum, sudut matanya berkerut dalam. "Terutama aku."

Ia meletakkan cangkirnya pelan di atas papan kayu meja. "Kita mengenakan lambang yang sama di dada, Hendrick. Namun jangan kira setiap orang yang memakai lambang itu mengabdi kepada tujuan yang sama."

Pandangannya beralih ke luar kedai, mengikuti beberapa serdadu VOC yang baru turun dari dermaga sambil bercanda keras. Ia menunggu mereka berjalan cukup jauh sebelum kembali menatapku.

"Di Batavia," katanya lirih, "Musuhmu belum tentu datang dari luar tembok benteng. Bisa jadi ia duduk di meja yang sama denganmu."

Aku mengikuti arah pandangnya. Para serdadu itu tampak sama saja dengan prajurit lain yang pernah kutemui di Belanda. Seragam rapi, sepatu mengilap, senjata tergantung di pinggang.

Namun cara Cornelis memandang mereka membuatku sadar akan satu hal. Barangkali musuh yang sebenarnya memang tidak selalu berdiri di seberang medan perang.

Cornelis berdiri, menepuk bahuku dua kali. "Ada seseorang yang harus kau kenal."

Lihat selengkapnya