Aroma tembakau bercampur sisa tumpahan single malt mengental di udara. Di dalam lounge bawah tanah di kawasan Setiabudi, Bandung, lantai parket memantulkan cahaya neon keunguan dari sudut bar. Alunan jazz lambat dari pengeras suara dinding, bersaing dengan suara es batu yang berderak di dalam gelas-gelas rendah para pengunjung berjas gelap.
Damar duduk di sudut paling dalam. Punggungnya bersandar ke sandaran sofa kulit sintetis yang retak. Segelas whisky di hadapannya menyisakan cairan kecoklatan setinggi dua sentimeter, permukaannya tenang tanpa riak. Pandangannya menatap lurus ke daun pintu masuk utama, bayangan orang-orang lalu-lalang di balik kaca buram. Tangannya terlipat di atas meja.
Seorang pelayan berompi hitam datang membawa lap bersih, berdiri sejenak di sisi meja. "Masih nunggu temennya, Pak?"
"Iya," jawab Damar tanpa mengalihkan pandangan dari pintu.
Pelayan itu membungkuk sekilas, lalu berbalik pergi.
Damar mengangkat gelasnya, pandangannya turun ke layar ponsel yang tergeletak di samping asbak.
Satu foto memenuhi layar. Potongan kertas tua berwarna kecokelatan. Sebagian tepinya sudah terbakar, di tengah halaman terdapat simbol berbentuk lingkaran yang dipotong tiga garis pendek.
Damar memperbesar gambar itu dengan dua jari. Simbol tersebut sudah ia lihat berkali-kali selama hampir setahun terakhir. Di arsip kolektor pribadi. Di salinan peta pelayaran lama. Di bagian belakang sebuah dokumen lelang yang tidak pernah tercatat dalam katalog resmi. Ia mematikan layar ketika suara pintu lounge kembali terdengar.
Seorang pelayan berjalan melewati mejanya sambil membawa nampan. Damar memasukkan ponsel ke dalam saku jaket, lalu kembali menatap pintu.
Dua menit kemudian, daun pintu berayun terbuka lebar. Udara malam lembab sisa hujan menyelinap masuk bersama seorang pria. Pria itu melepas jaket kulit hitamnya yang basah di bagian bahu, melipatnya sekadar, lalu melangkah ke sudut lounge. Ia menarik kursi di seberang Damar lalu duduk.
"Lo lama banget," sapa Damar setelah Raka duduk.
"Macet, bro." Raka meletakkan kunci mobil logam di atas meja. "Biasa, Bandung."
"Alesan klasik," balas Damar datar.
"Harus pake alesan lagi?"
"Abis introgasi orang? Gue lebih ekspek lo pake alesan itu."
"Gue nggak perlu introgasi kalo cuma buat nuark info." Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi, mengembuskan napas panjang. Ia mengambil serbet dari meja, mengusap sisa air hujan yang masih menempel di pergelangan tangannya. "Lo masih ngerjain yang kemarin?"
Damar mengangkat alis. "Yang mana?"
"Yang bikin lo dua minggu terakhir keliling nyari arsip bekas."
Damar tidak menjawab.
Raka terkekeh. "Berarti masih."
"Kalau belum selesai, kenapa harus berhenti?"
"Biasanya lo berhenti kalau tahu barangnya nggak ada."
"Biasanya."
Raka menatapnya beberapa detik. "Kali ini beda?"
Damar mengangkat gelas, meneguk sedikit whisky. "Belum tahu."
"Jadi?" tanyanya.
Damar menatapnya. "Gue yang manggil lo ke sini."
"Makanya gue datang."
"Berarti ada yang mau gue tanyain."
Raka tersenyum tipis. "Nah. Dari tadi gue nunggu bagian itu."
Seorang pelayan lain datang menghampiri. Raka memesan segelas gin tonik tanpa es, lalu melambaikan tangan. Mereka menghabiskan waktu beberapa detik dalam keheningan, es di gelas masing-masing mencair perlahan.
Damar mengangkat gelasnya, meneguk sisa cairan di dalam gelas, lalu meletakkannya kembali.
"Lo telat sepuluh menit," ucap Damar.
Raka merogoh saku kemejanya, mengeluarkan bungkus rokok, lalu menyulut sebatang dengan korek gas zippo. Asap kelabu mengepul tipis, meliuk-liuk di bawah temaram lampu gantung.
"Tadi nunggu mobil," Raka mengembuskan asap ke arah samping.
Damar menaikkan sebelah alisnya. "Rusak?"