Halaman luas Museum Taman Kota masih basah genang sisa penyiraman rumput pagi. Beberapa petugas kebersihan berseragam orange mendorong sapu lidi, pintu kaca utama digeser terbuka oleh seorang pegawai berompi kremm
SUV hitam berhenti di area parkir Taman Kota, Pak Broto melangkah turun lebih dulu, merapikan kerah kemejanya. Almaz menyusul di belakang, mendekap erat map jurnal bersampul kulit domba di bawah lengan kirinya. Xavier keluar dengan langkah malas, Abde menguap lebar-lebar sambil mengucek matanya yang merah.
Langkah kaki mereka pelan menyusuri jalan setapak di bawah naungan pohon-pohon angsana tua.
Abde menarik napas dalam-dalam, lalu melirik Pak Broto. "Pak, kalau semua museum buka pagi begini, kenapa kita datangnya malah mepet?"
Pak Broto mengawasi gedung kolonial di depan mereka. "Saya nggak mau kalian membaca dokumen sambil ngantuk."
Xavier mendengus pelan, merogoh saku jaketnya. "Bapak baru sadar sekarang?"
Pak Broto melirik sekilas ke arah Xavier. "Saya sadar sejak kalian mulai menghitung uang bensin dan mencatat setiap botol air mineral."
Abde tertawa kecil.
Langkah kaki mereka berderap di atas undakan batu tangga masuk. Pintu kaca bergeser, menyambut mereka masuk ke dalam lobi yang sejuk dan beraroma khas kertas tua serta cairan pembersih lantai.
Mereka menyusuri lorong ruangan di lantai dua. Di beberapa sudut, beberapa pengunjung lokal dan turis asing berdiri di depan panel-panel kayu lapis, membaca reproduksi surat-surat lama yang dipajang di bawah sorot lampu sorot dinding.
Pak Broto berjalan lebih dulu menuju sudut ruangan di bawah peta besar Batavia. Ia mengangkat tangan, menunjuk lambang kecil yang tercetak di salah satu bagian peta.
"Ini yang saya maksud."
Almaz, Abde, dan Xavier mendekat.
Mereka berdiri di depan kaca pelindung yang membatasi pengunjung dengan peta tua. Simbol yang mereka kenal dari jurnal Hendrick tampak kecil di antara garis sungai, jalur pelayaran, dan tanda-tanda wilayah lain yang memenuhi permukaan peta.
Almaz mengeluarkan salinan jurnal dari dalam map. Ia membandingkan simbol di halaman dengan simbol pada peta. "Bentuknya sama. Garis lengkung di bagian atas, potongan pendek di tengah, dan tanda kecil kait di bawahnya."
"Persis." Abde ikut mencondongkan tubuh. "Berarti Hendrick pernah lihat simbol ini juga."
"Belum tentu," jawab Pak Broto. "Bisa jadi simbol itu sudah dipakai lebih lama."
Xavier menunjuk bagian bawah peta. "Ada keterangannya?"
Almaz menggeser pandangan ke panel-panel kecil di sekitar bingkai. Ia membaca judul, tanggal, dan keterangan wilayah yang tertulis di sana.
"Nggak ada." Almaz menggeleng pelan.
Abde berpindah ke sisi kanan peta, mencari nomor referensi lain. Ia membuka kamera ponselnya, memperbesar tulisan yang terlalu kecil. "Nama tempatnya banyak banget."
Pak Broto mendekat. "Cari yang berhubungan dengan simbol itu."
Abde mengangguk.
Almaz membuka beberapa halaman jurnal, mencocokkan bentuk simbol dengan tanda-tanda lain yang pernah digambar Hendrick.
Xavier berjalan menyusuri sisi panel, berhenti di depan beberapa reproduksi peta lama.
Pak Broto membaca keterangan sejarah di bawah masing-masing peta.
Beberapa menit berlalu. Tidak ada yang berubah. Tidak ada nama. Tidak ada catatan tambahan. Tidak ada panah yang mengarah ke lokasi tertentu.
Almaz menutup jurnalnya sebentar, mengembuskan napas melalui hidung. "Simbolnya ada," katanya pelan, "tapi petunjuknya nggak ada."
Pak Broto mengangguk. "Mungkin kita salah nyari."
Almaz membuka jurnal lagi. "Atau petunjuknya bukan di peta."
Mereka kembali terdiam.
Dari sisi lain ruangan, suara langkah pengunjung dan bunyi kamera ponsel sesekali terdengar. Seorang anak kecil berlari melewati mereka sebelum ditegur ibunya.
Xavier masih berdiri di depan lukisan kapal layar. "Kalau simbol ini cuma penanda biasa," katanya, "kenapa Hendrick sampai gambar ulang?"
Almaz mengangkat kepala. Ia membuka halaman jurnal yang sama, kemudian membandingkan simbol itu sekali lagi dengan gambar Hendrick.
"Pak..."
Pak Broto menoleh.
Almaz mendekati etalase kaca panjang yang memuat peta-peta jalur pelayaran abad ke-18. Tangannya membuka kembali salinan map jurnal Hendrick, membandingkan bentuk tarikan garis tinta di halaman catatan dengan simbol-simbol navigasi yang tercetak di panel pameran.
Pak Broto berdiri di sampingnya, membaca teks pengantar sejarah di bawah peta. Abde mengeluarkan ponselnya, membidik nomor katalog dokumen yang tertera di sudut bawah bingkai. Xavier berdiri agak jauh, kedua tangannya bersedekap di dada, ia menatap ke arah lukisan cat minyak besar bergambar kapal layar bermati tiga di dinding seberang.
Almaz menunjuk halaman jurnal. "Yang kita cari bukan simbolnya."
Pak Broto menoleh. "Maksudnya?"
Almaz menunjuk deretan teks di panel sebelah kanan dengan ujung pulpennya. "Kita cari sesuatu yang muncul berulang di catatan Hendrick."
Pak Broto mendekatkan wajahnya ke kaca pelindung, membaca deretan teks berbahasa Belanda kuno yang direproduksi di sana. Mereka menghabiskan beberapa menit dalam keheningan, memindai baris demi baris kata tanpa hasil yang berarti. Almaz membalik halaman jurnalnya, mencocokkan tanggal pelayaran Hendrick dengan catatan waktu di dokumen museum.
Xavier melangkah pelan menjauhi kelompoknya. Ia berhenti di depan panel sudut yang posisinya agak tersembunyi di balik tiang penyangga.
Ia menatap reproduksi dokumen dengan judul Verdediging en Handelsroutes rond Batavia.
Pandamgannya turun ke tujuh paragraf teks yang dicetak dalam font serif kecil.
Voorbij de belangrijkste handelsroute stond een vesting die lange tijd deel uitmaakte van de verdediging van het gebied rond Batavia.
Di luar jalur perdagangan utama berdiri sebuah benteng yang selama waktu yang panjang menjadi bagian dari pertahanan wilayah di sekitar Batavia.
Eens werd deze plaats gebruikt om de doorgang van goederen en schepen te bewaken wanneer de toestand langs de kust onzeker was.
Dahulu, tempat ini digunakan untuk mengawasi lalu lintas barang dan kapal ketika keadaan di sepanjang pesisir tidak menentu.