HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #15

14. BENTENG YANG TERLUPAKAN

Sinar matahari pagi menembus celah-celah anyaman bilik bambu, memantulkan garis-garis emas di atas lantai papan kayu jati. Punggungku menempel di tiang beranda saat aku memegang sepasang benang jahit dan jarum tumpul, berusaha merapikan jahitan tali pelana kuda yang mulai mengelupas.

Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat. Manto muncul dari balik pintu dapur membawa dua cangkir tanah liat beruap di atas nampan kayu. Ia meletakkan nampan di atas meja, lalu melirik sepatu bot kulit hitamku yang tergeletak di sudut tangga.

"Tuan masih memakai sepatu itu?" tanya Manto.

Aku mendongak, melirik sepatu bot yang sudah dua kali kuolesi minyak ikan agar tidak pecah. "Masih bisa dipakai."

Manto tersenyum geli. "Tuan berkata seperti itu tiga bulan lalu.

Aku tertawa kecil. Di rumah ini, batas-batas seragam dan pangkat melebur bersama bau kayu bakar dan uap air teh tubruk.

Dari lorong gelap di balik dapur, Sekar keluar membawa selembar kain katun tipis berwarna kelabu yang dilipat rapi. Ia berjalan mendekatiku, lalu menyodorkan sebuah topi laken bertepi lebar yang terbuat dari jerami halus tersulam rapat.

"Pakai ini," kata Sekar.

Aku mengerjap, menatap topi di tangannya lalu beralih ke topi segitiga dinas ku yang tergantung di paku dinding. "Aku punya topi."

Sekar melirik topiku sesaat sebelum kembali menatap mataku lurus-lurus. "Itu membuat kepalamu panas dan mudah pusing saat siang hari."

Manto tertawa dari balik cangkirnya. "Dengarkan anak saya."

Aku mendengus pelan, tanganku terulur mengambil topi pemberian Sekar dan langsung mengenakannya di kepala. Ukurannya pas.

Sekar memperhatikan pergerakanku sesaat, memastikan topinya kupakai dengan benar, lali ia berbalik tanpa banyak cakap menuju sudut ruangan.

Manto menyesap tehnya, lalu menaruh cangkir itu kembali ke atas meja. "Hari ini kita jalan."

"Ke mana?" aku merapikan peralatan jahit di pangkuanku.

"Ke sebuah benteng," jawab Manto singkat.

"Benteng besar? Di dekat pelabuhan?" tanyaku lagi, mengingat benteng-benteng batu bata merah yang biasa dijaga satu kompi serdadu.

Manto menggeleng pelan. "Bukan. Benteng yang sudah tidak banyak orang pedulikan."

Sekar ikut menyela tanpa mengalihkan pandangannya. "Bapak bilang tempat itu dulu ramai."

Manto mengangguk. "Dulu. Waktu kompeni masih sibuk memperluas batas tanah."

Kami berjalan meninggalkan pekarangan. Manto melangkah di sisi kiriku, sementara Sekar sering kali berjalan beberapa langkah di depan, membaca arah angin dan jejak-jejak tapak kuda di atas tanah liat yang mengering.

"Di petaku, jalur utamanya melewati rawa sebelah timur," kataku sambil menunjuk gulungan kertas.

Sekar berhenti sejenak, menoleh lewat bahunya. "Di peta Tuan mungkin begitu."

Aku mengerutkan kening, menghentikan langkah. "Maksudmu?"

"Jalan itu sudah berubah sejak banjir besar tiga tahun lalu," jawab Sekar tenang. "Lumpurnya menelan jembatan kayu. Tidak ada gerobak kompeni yang bisa lewat sana sekarang."

Manto tersenyum kecil melihat kebingunganku. "Peta tidak tinggal di sini, Tuan. Sekar tinggal di sini."

Aku terdiam. Kalimat itu menohok dengan cara yang halus. Selama ini, aku terbiasa memperlakukan Sekar sebagai bayangan Manto, anak perempuan yang kebetulan ikut tinggal di rumah itu. Namun detik itu, aku sadar ia adalah ensiklopedia hidup yang mencatat setiap jengkal perubahan tanah ini lebih akurat daripada arsip mana pun di loji Batavia.

Tiga puluh menit berjalan kaki, kami sampai di benteng di ujung jalan setapak, berdiri terbuka di balik rumpun pohon kelapa dan semak belukar liar. Sebagian besar tembok batu batanya telah ditumbuhi lumut hijau tebal dan akar pohon beringin yang merayap turun seperti jaring laba-laba. Beberapa bagian dinding runtuh, menyisakan reruntuhan batu yang ditumbuhi rumput liar setinggi pinggang.

Aku menatap sekeliling dengan rasa heran. "Tempat ini... masih berdiri?"

Lihat selengkapnya