HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #16

15. BENTENG TANPA NAMA

Mereka melanjitkan langkah ke minimarket di sisi jalan. Pintu otomatis terbuka, disusul hembusan udara dingin dari pendingin ruangan. Abde berjalan menuju rak minuman. Xavier mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin, Almaz masih memegang map berisi salinan jurnal Hendrick di bawah lengannya.

Pak Broto masuk paling belakang. "Jangan kelamaan. Kita masih punya beberapa tempat yang harus dicek hari ini."

"Makanya minum dulu, Pak," Xavier membuka tutup botol. "Biar nyarinya nggak sambil sekarat."

Pak Broto mengambil kopi dingin dari lemari pendingin, lalu berjalan menuju meja kecil di sudut minimarket.

Mereka duduk mengelilingi meja besi yang menghadap jendela.

Almaz meletakkan map di atas meja. Pak Broto membuka kembali foto panel museum yang tadi mereka ambil. Tujuh paragraf berbahasa Belanda terpampang di layar ponselnya, dengan huruf pertama setiap paragraf membentuk kata VESTING.

Pak Broto melepas kacamatanya, membersihkan salah satu lensanya, lalu memasangnya kembali. "Masalahnya sekarang justru bertambah."

Abde membuka sedotan minumannya. "Karena kita tahu artinya benteng?"

Pak Broto mengangguk. "Jakarta dan wilayah sekitarnya punya terlalu banyak benteng dan bekas benteng."

Xavier menyandarkan punggung ke kursi. "Berarti kita tinggal cari semuanya."

Pak Broto menatap Xavier. "Kalau semuanya masih bisa dicari, saya nggak perlu pusing."

Almaz membuka mapnya kembali. "Berarti kita butuh daftar."

Pak Broto mengangguk pelan. "Daftar semua benteng yang pernah tercatat di wilayah Batavia." Ia kembali menatap layar ponselnya. "Tapi saya nggak punya akses ke inventaris selengkap itu."

Pak Broto mencari satu kontak penting, lalu menekan tombol panggil.

Sambungan berdering dua kali sebelum suara berat seorang pria paruh baya terdengar dari ujung sana.

"Halo, Broto? Tumben malam-malam."

"Prof, saya sudah di Jakarta."

"Di Jakarta? Kamu berangkat?"

"Iya, Prof."

"Tanpa menunggu kabar dari kementerian?"

Pak Broto terdiam sejenak. "Saya rasa ini nggak bisa ditunggu."

"Broto..." suara Profesor Soedirjo meninggi. "Saya sudah bilang, kita tunggu pembaruan resmi dulu. Belum ada laporan apa pun dari kementerian. Kamu malah sudah membawa mahasiswa keluar kota dan sekarang sudah sampai Jakarta."

"Mereka yang menemukan petunjuknya, Prof."

"Dan kamu dosen pembimbingnya. Justru karena itu kamu seharusnya tahu kapan harus berhenti."

Pak Broto mengembuskan napas pelan. "Saya tahu."

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, yang pertama dipanggil bukan mahasiswa itu. Tapi kamu."

"Saya paham, Prof."

Professor Soedirjo menghela napas panjang. "Sudah. Kamu di Jakarta sekarang. Mau cari apa?"

Pak Broto menatap foto salinan dokumen museum di atas meja. "Daftar lengkap benteng dan pos pertahanan yang pernah tercatat di wilayah Batavia dan sekitarnya dari abad ke-18."

"Semua?"

"Semua."

Suara kursi bergeser terdengar dari ujung sambungan.

"Broto, kamu tahu sendiri arsip seperti itu tersebar di mana-mana. Ada yang di perpustakaan, ada di lembaga pelestarian, ada yang bahkan belum terdigitalisasi."

"Saya tahu."

"Dan kamu tetap mau semuanya?"

"Baik yang masih berdiri, sisa strukturnya masih ada, maupun yang sudah hilang tertutup bangunan modern."

Profesor Soedirjo terdiam beberapa saat.

"Untuk apa seluas itu?"

Pak Broto menatap kembali salinan dokumen di tangannya. "Saya belum tahu persis benteng mana yang sedang kami cari, Prof. Tapi saya rasa kami harus mulai dari semua kemungkinan yang ada."

Jeda panjang terdengar di ujung sambungan.

Profesor Soedirjo menghela napas. "Baiklah."

Pak Broto menegakkan tubuhnya.

"Tunggu sebentar. Saya kirimkan salinan dokumen yang bisa kamu gunakan."

Lihat selengkapnya