Udara panas memantul dari permukaan aspal gang yang sempit, debu tipis berterbangan setiap kali sepeda motor melintas. Dari kejauhan, suara anak-anak berteriak mengejar bola plastik bersahut-sahutan dengan dengung televisi dari balik jendela rumah warga.
Almaz, Abde, Xavier, dan Pak Broto berdiri membatu di depan pagar berkarat. Di balik penghalang logam, susunan batu bata merah tua yang diselimuti akar liar.
Daun pintu rumah utama di dekat pagar berderit terbuka. Seorang perempuan muda melangkah keluar dari bayangan teras. Usianya sepantar dengan mereka, mengenakan kaos katun polos dan celana kain sederhana. Ia berhenti di ambang pintu. Sebelah alisnya terangkat menatap empat orang asing yang berdiri di depan rumahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya perempuan itu.
Pak Broto melangkah maju, merapikan letak kemejanya, lalu menunjukkan kartu identitas kampus. "Maaf mengganggu. Saya Broto, dosen sejarah. Kami sedang melakukan penelitian mengenai bangunan-bangunan lama di kawasan ini."
Perempuan itu melirik kartu identitas yang diulurkan Pak Broto, lalu beralih menatap wajahnya. "Penelitian?"
"Iya." Pak Broto berbalik menunjuk struktur batu bata di balik pagar. "Kami mendapat informasi ada bangunan kuno di belakang rumah ini."
Perempuan itu menoleh ke arah belakang rumahnya, lalu kembali memandang mereka. "Yang itu?"
"Iya."
Perempuan itu terdiam sejenak. "Saya sendiri sebenarnya nggak tahu bangunan itu dulunya apa." Ia melangkah mendekat, membuka slot gembok pagar, menariknya melebar. "Dari saya kecil, bangunan itu sudah ada di sana."
Maga Abde menyipit, menatap dinding bata yang mulai ditumbuhi lumut. "Nggak pernah dibongkar sama warga sekitar?"
Perempuan itu menggeleng. "Nggak boleh."
Dahi Xavier mengerut. "Kenapa?"
Perempuan itu tersenyum tipis. "Nggak tahu persisnya. Kata orang-orang tua di kampung sini memang dari dulu begitu." Ia kembali menoleh ke bangunan tua di belakangnya. "Aturan dari sesepuh sini. Bangunan itu nggal boleh dihancurkan atau diubah bentuknya selama belum runtuh sendiri."
"Menarik." Pak Broto mengusap dagunya. "Ada alasan sejarahnya? Catatan khusus atau apa?"
Perempuan itu mengangkat bahu. "Mungkin ada. Tapi keluarga kami nggak pernah tahu cerita lengkapnya."
"Kami tidak datang untuk mengambil atau merusak apa pun, Neng. Kami hanya ingin melihat bagian dalamnya, kalau keluarga berkenan mengizinkan." Pal Broto mencondonglan tubuhnya ke depan.
Perempuan itu menatap tiga mahasiswa di hadapannya satu persatu, menilai penampilan mereka di bawah terik matahari.
Xavier mengangkat kedua tangannya sedikit ke udara. "Kami cuma mau lihat-lihat, Mbak. Sumpah, nggak bawa palu atau linggis."
Abde menyikut pinggang Xavier. "Jangan bikin orang curiga, tolol."
Perempuan itu tertawa kecil. Ia mengangguk pelan. "Kalau sekadar melihat ke dalam, saya rasa nggak masalah." Ia berbalik menghadap pintu rumah. "Sebentar, saya panggil ibu dulu di dalam."
Xavier melirik Abde. "Gue suka bagian nggak bawa palu tadi. Efektif."
Abde melirik tajam. "Lo kalau ngomong emang nggak punya filter."
Pak Broto menghela napas panjang.
Perdebatan kecil itu tenggelam oleh suara angin yang berdesir di dahan pohon mangga tetangga.
Tidak lama kemudian, perempuan itu kembali bersama seorang wanita paruh baya. Pak Broto kembali menjelaskan maksud kedatangan mereka secara umum, sebatas penelitian akademis mengenai bangunan-bangunan lama di kawasan tersebut.
Wanita paruh baya itu beberapa kali mengangguk sambil mendengarkan. Sesekali matanya berpindah dari Pak Broto ke tiga mahasiswa yang berdiri di belakangnya. "Jadi cuma mau lihat bangunannya?"
"Iya, Bu," jawab Pak Broto. "Kami tidak akan mengubah atau mengambil apa pun."
Wanita itu menatap ke arah bangunan tua di belakang rumah melalui celah pagar.
"Kalau begitu silakan. Dari dulu memang sudah ada. Keluarga kami juga nggak pernah berani macam-macam sama bangunan itu."
Perempuan muda yang berdiri di sampingnya mengangguk kecil. "Ibu, aku bukain."
Wanita itu menoleh kepadanya. "Iya, Lia. Ambil kuncinya."
Perempuan itu berbalik menuju dapur. Almaz sempat melirik ke arah ibunya.
"Namanya Lia?" tanya Pak Broto.
Perempuan itu berhenti sebentar, lalu menoleh sambil tersenyum tipis. "Aulia."
Pak Broto mengangguk. "Saya Broto."
"Pak Broto, ya?"
"Iya."
Aulia menunjuk tiga mahasiswa di belakangnya. "Kalau mereka?"
Pak Broto menunjuk ketiganya bergantian. "Almaz. Abde. dan Xavier."
Aulia mengangguk satu per satu, "Berarti semuanya mahasiswa Bapak?"