Cahaya jingga menyelinap di antara celah rumah-rumah, bayangan pagar dan pepohonan memanjang di permukaan jalan. Dari masjid di ujung gang, suara azan magrib terdengar perlahan, menyusup di antara suara kendaraan dan percakapan warga yang mulai menutup aktivitas hariannya.
Aulia membuka pintu ruang tamu, mempersilakan mereka masuk, lalu berjalan menuju dapur.
Debu masih menempel di sepatu dan ujung celana mereka. Pak Broto meletakkan map dan beberapa lembar catatan di atas meja, Abde menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
Xavier mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. "Capek juga ternyata."
Almaz masih memikirkan benda-benda yang mereka temukan di dalam benteng.
Aulia meletakkan beberapa gelas teh manis di atas meja. "Kalian mau istirahat dulu?"
Pak Broto melihat jam tangannya. "Kita punya waktu sampai malam untuk memastikan satu hal."
Almaz menatapnya. "Ke mana petunjuk ini membawa kita."
Di luar, azan masih terdengar dari kejauhan.
Pintu kayu tua didorong menutup. Suara gerendel berkarat berderit nyaring saat Aulia menguncinya kembali.
Ibu Aulia masuk ke ruang tamu, duduk di kursi rotan sudut ruangan. "Sudah selesai lihat-lihatnya?"
Pak Broto berdiri. "Sudah, Bu. Terima kasih banyak sudah mengizinkan kami masuk."
Aulia duduk di sebelah ibunya. Ibunya melirik sekilas ke arah ekspresi wajah anaknya. "Kenapa, Nak?"
Aulia menggeleng. "Nggak apa-apa, Bu."
Ibu Alia mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap Almaz, Abde dan Xavier bergantian. "Jadi... tadi kalian nemu apa aja di dalam?"
Pak Broto kembali duduk. Ia menatap ibu Aulia lalu beralih ke Aulia. Ia menunjuk ke arah pintu belakang yang mengarah ke bangunan tua di halaman.
"Di dalam tadi, kami menemukan beberapa besi jangkar yang sudah berkarat," ucap Pak Broto. "Ada juga sisa laras meriam kecil dan beberapa potongan kayu lambung perahu."
Ibu Aulia mengangguk, mendengarkan penjelasan, sebelah tangannya memegang tepi meja.
"Bangunan itu sepertinya cuma pos pengamatan biasa untuk memantau lalu lintas perahu di sungai masa lalu." Pak Broto menyandarkan punggungnya ke kursi. "Arsip-arsip lamanya kemungkinan hanya berisi laporan harian serdadu pos dan daftar persediaan makanan."
Pak Broto melirik Almaz, memberi isyarat melanjutkan.
"Ada beberapa artefak besi dan kayu yang bentuknya identik dengan perlengkapan maritim, Bu" jelas Almaz. "Kemungkinan besar, benda-benda itu berhubungan langsung dengan kapal."
Ibu Aulia terdiam. Alisnya berkerut."Kapal?"
Almaz mengangguk.
Aulia menoleh sekilas ke arah ibunya, lalu kembali menatap kelompok Almaz. "Aku dari kecil sering dengar cerita-cerita samar soal daerah sini dari kakek."
"Cerita apa?" Pak Broto meraih gelas teh manisnya.
"Orang-orang tua dulu sering bilang, air pasang di wilayah ini dulunya beda," jawab Aulia. "Banyak cerita soal perahu-perahu ukuran besar yang dulu bisa merapat jauh sampai ke daratan dalam."
Aulia menatap Pak Broto dan Almaz bergantian. "Kalau kalian benar-benar mau cari tahu kelanjutan soal benteng itu... aku ikut."
Xavier langsung menegakkan duduknya. "Ikut ke mana?"
"Ke tempat berikutnya yang bakal kalian datangi," jawab Aulia.
Pak Broto menatap lurus mata Aulia. "Kamu yakin, Aulia? Ini bukan sekadar jalan-jalan meneliti tugas kuliah."
"Sebenernya... saya juga kuliah di jurusan sejarah, Pak."