Pintu belakang menuju reruntuhan pos pertahanan telah ditutup rapat, menyisakan gerendel besi yang bergeser berat. Suasana di ruang keluarga rumah Aulia kini berubah dari tegangnya eksplorasi sejarah menjadi kehangatan domestik yang tenang.
Ibu dan bapak Aulia duduk di sofa panjang. Pak Broto menjelaskan secara umum bahwa kelompok mereka akan melanjutkan penelusuran ke titik berikutnya keesokan harinya.
Aulia duduk di antara mereka. Matanya menatap lembar-lembar catatan di atas meja, lalu perlahan mendongak menatap kedua orang tuanya.
"Bu, Pak..." suara Aulia memecah keheningan malam. "Kalau besok mereka lanjut... aku mau ikut."
Ibunya menoleh cepat, alisnya bertaut. "Ikut ke mana, Nak?"
"Ke tempat yang mereka cari."
Bapaknya memandang Aulia beberapa saat. "Kamu yakin?"
Aulia mengangguk. "Aku sudah lama penasaran sama bangunan di belakang rumah kita. Selama ini aku cuma dengar cerita dari orang-orang. Sekarang, aku punya kesempatan buat tahu kenapa bangunan itu ada di sana."
Pak Broto melipat tangannya di atas meja, menatap lurus ke mata Aulia. "Kamu paham risikonya, Lia? Ini bukan studi lapangan kampus yang bisa selesai dalam dua jam, lalu kita kembali dengan laporan bersih. Medan yang kita datangi bisa di luar kendali."
Aulia membalas tatapan Pak Broto. "Justru karena saya capek baca teori dari buku-buku yang setengah-setengah, Pak. Kalau pos di halaman belakang rumah saya menyimpan sejarah yang sengaja dikaburkan, saya mau tahu jawabannya langsung dari akarnya."
Pak Broto menoleh, mengalihkan tatapannya ke kedua orang tua Aulia.
Ibu Aulia menghela napas panjang, bahunya merosot pelan. Ia menatap Aulia, lalu tersenyum tipis. "Anak ini memang keras kepala kalau sudah urusan arsip lama, Pak Broto."
Bapak Aulia bergeming sejenak sebelum mengangguk pelan.
Pak Broto melirik jarum pendek jam dinding kayu di atas lemari sudah merayap ke angka sepuluh malam. Ia menghela napas pendek, lalu bangkit dari kursinya sambil merapikan ritsleting jaketnya.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, Bu, Pak. Sudah malam, tidak enak mengganggu waktu istirahat keluarga," ucap Pak Broto sopan.
Ibu Aulia bangkit dari duduknya, melambaikan tangan. "Mau cari losmen ke mana jam segini, Pak Broto? Jangan aneh-aneh. Kamar tamu di belakang masih luas dan bersih buat kalian semua," sela Ibu Aulia.
Pak Broto tersenyum kaki, tangannya mengibas pelan. "Ah, nggak usah repot-repot, Bu. Biar kami cari losmen atau penginapan di ujung jalan saja." Pak Broto merapikan tali ranselnya. "Kasihan ibu dan keluarga jadi harus repot menyiapkan tempat."
"Nggak merepotkan sama sekali, Pak. Daripada malam-malam cari losmen di luar."
"Besok aku juga ikut berangkat bareng kalian," tambah Aulia meyakinkan.
"Nah, benar itu, Pak. Daripada malam-malam kita malah nyasar cari losmen melati," sambung Xavier dari sudut ruangan.
Abde menyikut pinggang Xavier pelan.
Pak Broto mengembuskan napas, lalu tersenyum tipis. "Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih banyak, Bapak, Ibu. Kami jadi tidak enak merepotkan malam-malam begini." Ia menurunkan kembali tali ransel dari bahunya.
Ibu Aulia tersenyum lebar. "Tidak merepotkan sama sekali, Pak. Sebentar saya ambilkan karpet dan selimut tambahan di belakang."
Xavier melirik ke arah Abde, berbisik pelan, "Gratis tempat tidur."
Abde mendengus. "Gratis bukan berarti lo boleh ngorok kencang."
"Gue nggak ngorok."
"Kemarin malam lo sendiri yang bangunin gue gara-gara suara hidung lo."
Pak Broto melirik sekilas dari ujung sofa, keduanya terdiam. Tidak lama kemudian, ibu Aulia menunjukkan kamar tamu di bagian belakang rumah. Mereka mulai memindahkan tas serta peralatan masing-masing ke kamar tamu.
Mereka melangkah masuk ke dalam kamar. Satu kasur ukuran queen di sudut dan ruang lantai yang cukup luas untuk menggelar tikar tipis. Xavier merebahkan diri di atas kasur.
Abde menatap Xavier lalu mendengus.
"Pak, Bapak dosen. Bapak tidur di kasur aja." Xavier menepuk kasur di ruang kosong sebelahnya.
Pak Broto menatap Xavier dari ambang pintu. "Kenapa?"