Sinar matahari keemasan menerobos celah tirai jendela ruang makan, memantul di atas lantai keramik yang bersih. Aroma nasi goreng, telur dadar, dan kopi hitam panas memenuhi udara. Almaz, Abde, Xavier, Pak Broto, dan Aulia duduk melingkari meja makan. Percakapan mengalir renyah seputar rencana perjalanan hari itu.
Xavier menyendok suapan terakhir nasi gorengnya, lalu melirik Abde di sebelah kirinya. "De, jujur deh. Lo semalem nggak bisa tidur karena mikirin teori sejarah kita atau karena suara dengkuran gue terlalu merdu?"
Abde mendengus, meletakkan sendoknya pelan. "Gue semalem bertahan hidup, Xav. Lo tidur apa lagi latihan gergaji mesin? Tembok kamar tamu ampir rubuh gara-gara getaran hidung lo."
"Itu bentuk dedikasi psikologis," jawab Xavier. "Biar satwa liar atau penguntit misterius di luar sana ciut begitu dengar suara gue."
Aulia yang duduk di seberang menahan tawa sambil menutup mulutnya dengan cangkir teh. "Di perkampungan ini paling banter cuma ada kucing garong tetangga, Xav. Nggak ada satwa liar."
"Nah, buktinya semalem kucing tetangga nggak ada yang berani berisik di genteng kan?" balas Xavier.
Abde memutar bola matanya, lalu mencomot sekerat kerupuk. "Itu karena kucingnya pada kabur ketakutan gendang telinganya pecah."
Pak Broto menyesap kopi hitamnya pelan di ujung meja. "Sudah, kalau tenaga kalian habis cuma buat debat urusan dengkuran, nanti di lapangan malah kalian berdua yang minta digendong."
Almaz melipat salinan catatan di pangkuannya, menatap Xavier datar. "Xavier emang paling bakat mengalihkan fokus dari masalah utama."
Xavier menunjuk Almaz dengan ujung garpunya. "Eh, saksi mata ya. Semalem gue tidur paling tertib."
"Tertib dalam dimensi lain," sahut Abde.
Suasana meja makan kembali bergemuruh oleh tawa kecil.
Pak Broto meletakkan cangkirnya. "Cukup dramanya. Waktu kita nggak banyak," Ia. bangkit dari kursinya.
Aulia berdiri, membereskan sisa piring kosong di hadapannya. Ia menyambar tas kanvas kecilnya, lalu melirik Abde dan Almaz.
"Catatan sama kamera udah di-cek lagi?" tanya Aulia.
Abde menepuk tas punggungnya. "Aman. Semua arsip, peta, sama kamera udah ready di posisinya."
Xavier ikut berdiri, merapikan jaketnya. Gue juga siap lahir batin" Ia menengadah ke arah Pak Broto. "Tinggal nunggu kunci diserahterimakan ke kapten baru."
"Kunci mobil apa?" tanya Pak Broto.
"Kunci mobil pak," jawab Xavier. "Gantian, hari ini saya yang nyetir. Bapak kan udah bawa mobil dari rumah, ke Kota Tua terus kesini."
"Lagi ada yang usaha buat dapet nilai A+ nih." Abde menyenggol Almaz.
"Udah cocok jadi politisi, bisa banget nyenengin atasan," lanjut Almaz.
"ABS ya," tambah Aulia.
"Betul, Asal Bapak Senang," sahut Almaz dan Abde bersamaan.
Xavier menoleh ke arah Abde dan Almaz. "Gue tulus, anjir. Jangan pada merusak momen kesetiaan gue," sungut Xavier.
Pak Broto menghela napas panjang, menatap Xavier. "Tentu. Saya juga percaya sekali pada ketulusan kamu." Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan gantungan kunci mobil, lalu melemparnya melintasi meja. Xavier menangkapnya dengan sigap di udara.
"Ingat aturan mainnya," ujar Pak Broto, nadanya setengah mengancam. "Salah ambil jalur atau mobil saya baret sedikit saja, nilai A+ kamu langsung otomatis berubah jadi huruf E."
Xavier menyengir lebar, memasukkan kunci itu ke dalam saku celananya. "Siap, Komandan. Dijamin mulus tanpa hambatan."
Abde menepuk bahu Almaz pelan. "Lo lihat? Sistem pendidikan tinggi kita benar-benar bekerja."
Almaz mengangguk. "Sangat efektif."
Pak Broto melirik kedua mahasiswanya bergantian. "Kalian berdua kalau sudah selesai kampanye pemilihan ketua tingkat, tolong bantu beresin meja ini."
Satu per satu mereka merapikan ransel dan memeriksa perlengkapan masing-masing di sudut ruangan.
Aulia sibuk memastikan semua perlengkapan logistik sudah masuk ke dalam tas."Oke, semua udah aman."
Abde menepuk saku jaketnya mantap. "Aman terkendali."