Suasana di ruang keluarga rumah Aulia jauh lebih lesu dibanding pagi hari. Tas diletakkan begitu saja di lantai, sepatu dilepas sembarangan. Kegagalan di Pelabuhan Tangerang menyedot sebagian besar energi fisik dan mental mereka.
Pak Broto merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, memijat pelipisnya. "Kita sekarang punya dua kemungkinan besar. Salah milih titik pelabuhan, atau cara baca kita terhadap petunjuk itu dari awal sudah keliru."
Abde mengerutkan dahi, kuku jarinya mengetuk garis pantai di atas lembaran peta di layar ponsel. Ia mendengus pelan.
"Kalau kemarin kita salah pilih titik pelabuhan di Tangerang, logikanya kita tinggal geser ke pelabuhan lain." Abde menggeser layarnya. "Di Bekasi atau pesisir Karawang masih banyak muara tua yang dari dulu jadi jalur dagang. Kita sisir saja wilayah sana besok."
Aulia menggeleng, menarik selembar peta topografi kuno, menumpuknya di atas meja. Karawang masa VOC itu cuma hutan bakau sama endapan lumpur dangkal, De! Kompeni nggak bakal nekat lewat situ kalau muatannya nggak mau kandas."
"Lo kira VOC cuma punya satu rute?" Abde mendengus. "Namanya juga pelarian logistik, mereka bisa lewat celah mana aja."
"Pelarian dari mana?" Aulia menaikkan suaranya, telunjuknya menekan kertas peta. "Arsip loji jelas nyatet kalau kapal muatan berat selalu menghindari muara timur pas musim angin barat karena arus baliknya mematikan!"
Xavier menjatuhkan keningnya ke atas lipatan lengan di meja dengan suara buk yang cukup keras. "Udah, stop. Kalau kalian mau lanjut kuliah umum soal navigasi angin VOC, mending kita buka biro jasa pengiriman barang antik sekalian."
Abde melirik tajam ke arah Xavier. "Dari tadi lo cuma mangap doang tanpa ngasih solusi, Xav."
"Solusi gue jelas. Kita tidur dulu," jawab Xavier tanpa mengangkat kepalanya dari meja. "Biar otak kita nggak konslet mikirin lumpur Karawang yang nggak ada buktinya."
"Lo mah mau apa aja juga solusinya tidur," timpal Abde sengit.
"Sudah, jangan malah saling serang," interupsi Pak Broto, mengetukkan ujung pulpennya ke atas meja. "Argumen kalian berdua sama-sama punya celah metodologi. Administrasi VOC mencatat rute pengiriman berdasarkan kapasitas tongkang dan efisiensi harian, bukan sekadar besar kecilnya muara di peta modern."
Abde merosot di kursinya, mengusap wajahnya. "Terus kalau bukan barat, bukan timur, kita mau nyari ke mana lagi, Pak? Mau gali selokan kota sampai perbatasan?"
Tidak ada yang menjawab. Xavier tetap membenamkan wajahnya di lipatan lengan, Aulia melipat tangan di dada sambil membuang muka ke arah jendela, Abde menatap nanar deretan titik yang sudah ia coret-coret sendiri di layar ponselnya.
Xavier memijat tengkuknya yang kaku. "Jadi alternatifnya apa? Mau nyusurin selokan kota sampai perbatasan Cirebon?"
"Ya makanya kita baca ulang data arsipnya, jangan asal comot wilayah!" Abde mendengus, melempar pulpennya ke atas meja.
"Data arsip mana lagi yang mau dibaca? Semuanya udah kita bolak-balik dari tadi sore," timpal Xavier sengit.
"Kita istirahat dulu," Almaz berdiri, ia menatap Aulia. "Gue numpang mandi, ya."
"Mandi aja," jawab Aulia datar.
Xavier mendengus pelan dan meraih ponselnya dari saku celana. "Gue butuh cuci otak sebentar."
Abde melirik sinis. "Nonton film lagi?"
"Iya." Xavier membuka aplikasi pemutar video di ponselnya.
Suara musik orkestra film yang megah mengalun pelan, memenuhi sudut ruang keluarga dari speaker ponsel Xavier. Di meja seberang, Aulia masih sibuk mencoret-coret catatan waktu dengan ujung pulpen yang bergesek pelan, sementara Pak Broto membolak-balik arsip Profesor Soedirjo dalam keheningan.
Lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Almaz keluar sambil melangkah santai, menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil yang tersampir di leher.
Langkah Almaz terhenti. Ia menoleh, lalu berjalan mendekati sofa tempat Xavier duduk bersila.
"Nonton apaan?" tanya Almaz, melirik sekilas ke layar ponsel.
"Jack Sparrow," jawab Xavier tanpa menoleh.
Almaz menarik kursi, duduk di samping Xavier. "Banyak film baru, kenapa malah nonton film jadul?"
Xavier menyeringai, jempolnya mengusap layar ponsel. "Siapa tahu dapet pencerahan cara baca peta harta karun pakai gaya bajak laut."
Almaz mendengus geli. Detik berikutnya pandangannya terkunci ke layar. Suasana santai itu menguap saat mereka berdua mulai tenggelam dalam visual adegan demi adegan.