HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #22

21. JALAN BUNTU

Aroma kayu tua dan cat pernis menyambut mereka begitu pintu kaca Museum Maritim terbuka. Di bawah sorot lampu sorot kuning hangat, deretan model kapal pinisi, sekunar VOC, hingga diorama mercusuar tersusun rapi di balik vitrin kaca.

Lantai kayu jati berderit pelan di setiap langkah kaki mereka, berpadu dengan suara dengung AC dan langkah segelintir pengunjung yang berjalan lambat.

Pak Broto berdiri di depan sebuah model kapal perang tiga tiang berukuran besar, menatap struktur geladaknya yang rumit. "Kalau petunjuk itu memang mengarah ke replika secara harfiah, tempat ini seharusnya jadi salah satu kandidat paling logis."

Aulia mendekati etalase, membungkuk sedikit mengamati detail tali-temali kecil yang dirangkai teliti. "Tapi model di sini kebanyakan dibuat untuk kebutuhan edukasi sejarah atau pajangan museum, Pak"

Almaz mengangguk, matanya menyapu barisan label keterangan di setiap meja peraga. "Makanya kita cari yang punya hubungan langsung sama periode dan jalur perdagangan VOC, bukan sekadar miniatur umum."

Abde mengembuskan napas panjang, bahunya merosot. "Kalau ternyata petunjuknya cuma nyuruh kita datang ke museum kapal buat jalan-jalan sore, gue resmi mau protes sama orang abad kedelapan belas."

Xavier menoleh sekilas. "Orangnya udah mati, De."

"Nah. Itu masalahnya. Nggak bisa gue protes langsung ke muka mereka."

Pak Broto menggeleng pelan. "Oke, seperti biasany, kita nyebar."

Empat mahasiswa di belakangnya mengangguk, lalu berjalan ke berbagai arah.

Aulia memeriksa koleksi khusus kapal-kapal tradisional Nusantara di sisi kiri ruangan. Abde dan Xavier mengamati model kapal dagang Eropa di sudut seberang. Almaz bergerak sendiri, mengabaikan estetika fisik model-model kapal. Ia mencari artefak yang memiliki tautan naratif dengan catatan Hendrick.

Dada Almaz bergerak naik turun, matanya menatap lurus model kapal layar bercadik ganda dari abad ke-18. Pandangannya turun membaca plat kecil di sudut kaca, membaca catatan Replika rekonstruksi tahun 1984.

Almaz berdiri agak lama di depan vitrin tersebut, tangannya terbenam di dalam saku mantel.

Pak Broto mendekat perlahan, melirik model kapal di dalam kaca lalu beralih pada wajah Almaz. "Bukan?"

Almaz menghela napas panjang, lalu menggeleng. "Terlalu baru."

Pak Broto mengangguk. Mereka beralih ke model kapal lain, menelusuri setiap sidit museum.

Jarum pendek di jam tangan Abde bergeser jauh melewati angka tiga. Ia melangkah mendekat ke arah Xavier. "Udah satu jam."

Xavier menyandarkan punggungnya ke pilar, menatap kosong barisan miniatur kapal nelayan modern di balik kaca. "Masih belum ketemu."

Aulia menutup buku catatan kecilnya. Ia menatap deretan nomor inventaris yang baru saja ia periksa, semuanya berujung pada tahun pemugaran abad ke-20 atau katalog replika pameran impor.

Di sudut seberang, Almaz berdiri mematung di depan etalase kaca kelima yang ia bedah dalam sepuluh menit terakhir. Plat keterangan di bawah model kapal layar itu kembali mencantumkan informasi yang sama. Replika rekonstruksi tahun 1991.

Almaz membuang muka, rahangnya mengetat rapa.

Pak Broto melirik arlojinya sekali lagi. Ia menutup map dokumen di tangannya, lalu melangkah pelan menyusuri lorong menghampiri mahasiswanya satu per satu.

Abde menegakkan tubuhnya, Xavier mendengus lesu, Aulia memasukkan pulpen ke dalam tas. Mereka berkumpul kembali di dekat pilar pintu keluar.

Pak Broto menatap wajah lelah mereka satu persatu.

"Kita pulang dulu," ucap Pak Broto pelan.

Pintu kaca otomatis museum bergeser menutup.

Lihat selengkapnya