Pak Broto berjalan pelan ke arah parkiran. Wajahnya dibuat tenang.
Mata Almaz menyipit menatap bahu pak Broto menegang. "Pak?"
Pak Broto merangkul pundak Almaz sekilas. "Kalian pergi dari sini duluan."
Abde mengernyitkan dahi, berjalan mendekat bersama Xavier. "Ke mana, Pak? Kita baru mau balik."
Pak Broto menatap mereka satu per satu. "Saya ada urusan mendadak."
"Sama siapa, Pak?" tanya Almaz.
Pak Broto menggeleng, menghindari tatapan Almaz. "Kalian pulang saja naik taksi."
Xavier mengedarkan pandangannya ke sekeliling area parkir. Tatapannya berhenti ke orang-orang berjas yang terus mengikuti arah pergerakan mereka sejak keluar museum.
Wajah Xavier mendadak pucat. "Pak... orang-orang itu..."
"Sudah, jangan bertanya di sini," potong Pak Broto. "Saya antar kalian nyari taksi."
Alis Almaz terangkat. "Pak, ada apa sebenarnya?"
"Jangan membantah. Jalan sekarang." perintah Pak Broto dengan.
"Kalo ada yang nggak beres, bapak bisa bilang sekarang." Almaz tetap diam di tempatnya.
"Dengerin saya." Pak Broto menatap lurus mata Almaz. "Sekarang bukan waktunya berdebat. Oke?"
Almaz mengikuti arah pandangan Xavier, lalu menoleh ke pak Broto. "Mereka dari kementrian?"
Salah seorang pria berjas berjalan menghampiri mereka. "Kalau mereka tidak berkenan untuk pergi. Mereka bisa ikut." Ia menatap wajah mereka satu persatu. "Selama mereka koperatif. Mereka akan aman."
Pak Broto memejamkan mata, menarik napas dalam. "Ini urusan saya. Kalian nggak perlu ikut."
Almaz menggeleng. "Kita berangkat bareng, pergi bareng."
Abde dan Xavier mengangguk bersamaan. "Sepakat."
Pak Broto menoleh ke arah Aulia. "Kamu bisa pulang."
Aulia tersenyuk tipis. "Saya udah jadi bagian kelompok ini, Pak."
"Baiklah." Pak Broto menghela napas. "Tapi, setelah ini, nggak ada perdebatan. Kalian ikutin instruksi saya."
"Siap, pak," sahut mereka serempak.
Mereka digiring masuk ke dalam sebuah mobil van hitam ber-AC dingin yang sudah terparkir di ujung area. Tidak ada candaan, tidak ada perdebatan soal nilai A+.
Aulia duduk diam di pojok kursi belakang, jemarinya mencengkeram erat tali tasnya. Abde beberapa kali melirik ke kaca spion belakang, melihat mobil van lain mengekor tepat di belakang mereka. Xavier terdiam kaku di sebelah kemudi.
Almaz duduk di samping Pak Broto, matanya menatap lurus ke depan. Jemari Pak Broto mengepal kuat di atas pahanya.
"Pak," suara Almaz memecah keheningan kabin yang menyesakkan, "sebenarnya siapa mereka?"
Pak Broto menoleh pelan, menatap Almaz lurus. "Saya nggak tahu."
"Bapak kenal mereka?"
"Nggak." Pak Broto menarik napas pendek. "Tapi kayaknya... mereka sudah lama mantau kita."
Mobil van berhenti di halaman belakang gedung perkantoran tua di kawasan Menteng. Tidak ada preman bertato atau penjaga bersenjata laras panjang yang menyambut di depan pintu.
Mereka digiring masuk ke ruang kerja yang luas. Rak buku kayu jati berjajar di sepanjang dinding, meja kerja besar dari marmer hitam berdiri di tengah ruangan.
Seorang pria paruh baya berwajah dingin dengan setelan jas mahal berdiri di balik meja kerja.
Pintu di belakang mereka tertutup, ia merapikan lengan jasnya lalu menatap rombongan yang baru datang.