HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #24

23. VOOR SEKAR

Pintu kayu jati berukir di ruang kerja Bambang menutup tanpa suara. Kelompok Almaz melangkah keluar ke koridor utama. Seorang staf pria berjas rapi berjalan beberapa langkah di depan mereka.

"Bos meminta kalian melihat sebagian koleksinya," ujar staf itu tanpa menoleh ke belakang.

Pak Broto menghentikan langkahnya. Alisnya bertaut tajam. "Sekarang?"

Staf itu berhenti, berbalik setengah badan. "Katanya, kalau kalian mau bekerja sama dengan bersih, sebaiknya kalian tahu persis siapa yang membiayai perjalanan kalian."

Pak Broto menoleh ke belakang, melirik empat mahasiswanya.

Abde mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Xavier. "Gue nggak tahu kenapa kalimat tadi kedengarannya jauh lebih serem daripada todongan pistol."

Xavier menatap lurus ke punggung staf di depan mereka, rahangnya mengeras. "Sekarang kita tahu dia bukan sekadar penjahat kelas teri. Dia punya galeri bawah tanah."

Aulia merapatkan tali tasnya, menahan napas kecil di antara mereka. Almaz tidak ikut menimpali. Tatapannya kosong menerobos lorong panjang di hadapan mereka.

Staf itu kembali berbalik, melanjutkan langkahnya. menuju ke ruang koleksi Bambang.

Suhu di dalam lorong menuju ruang kolekasi mendadak turun beberapa derajat, deretan etalase kaca tebal berbingkai baja hitam yang memagari sepanjang sisi kanan dan kiri dinding.

Mereka melewati pajangan lembaran dokumen VOC, kompas kuno berbahan tembaga kusam, pecahan keramik porselen biru-putih khas Dinasti Ming, koin-koin perak perdagangan berlubang, hingga alat-alat ukur navigasi abad ke-18 yang masih mengkilap di balik vakum kaca.

Aulia memperlambat langkahnya, matanya bergerak membaca deretan benda-benda itu. "Ini... semua koleksi pribadi?"

Staf di depan melirik sekilas lewat bahunya. "Sebagian kecil dari inventaris utama."

Abde berhenti di depan lemari sudut. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca dingin. "Ini... asli?"

"Semua barang yang dipajang di sini tidak pernah menyentuh pasar terbuka."

Xavier merapat ke sisi Abde, matanya membelalak melihat label kecil beraksara latin kuno di bawah sebuah teleskop kuno berlapis kulit ikan pari. "Gila."

Langkah Pak Broto melambat, matanya bergerak cepat. Jemarinya terulur, menyentuh tepi kaca etalase saat ia membaca nomor katalog yang diukir rapi dengan label putih di sudut setiap benda.

Rahang Pak Broto mengetat. Tangannya mengepal di samping pahanya. "Dia punya terlalu banyak benda dari periode waktu dan perdagangan yang sama persis."

Aulia menoleh, menatap Pak Broto. "Maksud Bapak?"

"Orang yang mengoleksi barang secara acak akan beli apa saja yang keliatan antik," gumam Pak Broto, matanya menyusuri deretan dokumen kapal di etalase seberang. "Tapi ini bukan koleksi acak." Ia mendongak, menatap ujung lorong yang gelap. "Dia tahu persis apa yang dia cari dari sejarah negeri ini."

Mereka melewati lengkungan pintu terbuka, memasuki ruangan yang jauh lebih luas. Di tengah ruangan, peti kayu jati berikat besi tempa hitam berukuran besar berdiri di atas podium khusus, dikelilingi puluhan kotak arsip tertutup segel lilin merah.

Abde terpaku di depan peti, matanya menyipit membaca label kecil di lantai podium. "Itu... peti logistik VOC?"

Xavier membungkuk, mengamati cap stempel timbul di sudut kayu peti itu. "Pasti. Lambang VOC-nya masih keliatan."

Abde menegakkan tubuhnya, menatap sekeliling ruangan yang dipenuhi rak-rak besi bertingkat berisi ratusan artefak. "Xav... gue baru sadar."

"Apaan?"

"Kita dari kemarin setengah mati keliling kota cuma buat ngejar satu petunjuk di benteng reyot." Abde menunjuk rak-rak di sekeliling mereka. "Orang ini kemungkinan besar sudah mengoleksi ratusan artefak di gudang pribadinya."

Pandangan Xavier beralih ke punggung staf yang memandu mereka. Ia menelan ludah. "Dan dia masih menyewa orang buat nyari sisanya."

Aulia melepaskan diri dari rombongan di tengah ruangan. Ia melangkah pelan menuju lemari rendah di dekat dinding utara.Ia membungkuk, membaca teks kecil berbahasa Belanda kuno di peta navigasi pelayaran pesisir yang digambar tangan di atas kulit domba.

Almaz melangkah mendekat, berhenti tepat di samping bahu Aulia. "Kenapa?"

Aulia menunjuk garis tinta hitam pudar di atas peta kulit. "Jalur distribusi logistiknya lewat sini. Garis ini nggak pernah masuk ke catatan resmi arsip pusat Batavia."

Pandnavan Almaz mengikuti arah telunjuk Aulia yang terhalang kaca. "Terus?"

"Wilayah ini dulunya bukan sekadar pos singgah," bisik Aulia, matanya berbinar. "Ini titik simpul pengalihan kargo sebelum barang-barang itu masuk ke gudang utama pelabuhan."

Almaz mengangguk pelan. " Lo beneran paham sejarah kita, Ul."

Aulia menoleh, menatap lurus mata Almaz. "Lo baru sadar?"

Almaz menyeringai, lalu menoleh, menghindari tatapan Aulia. Matanya menatap pantulan cahaya lampu sorot di sudut ruangan lain.

Aulia menegakkan tubuhnya. Ia melirik wajah samping wajah Almaz. "Lo masih nyari petunjuk?"

Almaz menatap lurus sudut ruangan yang remang. "Sudah kebiasaan."

Aulia tersenyum kecil. "Belum capek?"

Lihat selengkapnya