Almaz masih berdiri mematung di depan lemari kaca sudut. Beberapa langkah di belakangnya, Bambang berdiri bersidekap, mengamati setiap gerak-gerik Almaz dalam diam.
Almaz mendekatkan wajahnya sedikit ke kaca, telapak tangannya terangkat tanpa menyentuh permukaan transparan. Matanya menelusuri detail lambung replika, tiang-tiang kecil yang dirangkai teliti, hingga lunas bagian bawah kapal.
"Pak..." panggil Almaz pelan. "Kalau tulisan di plakat ini memang benar-benar dibuat Hendrick... kenapa dia harus repot-repot bikin kapal sekecil ini?"
Pak Broto merapatkan posisinya di sebelah Almaz, menatap lurus ke dalam etalase. "Mungkin Sekar nggak pernah benar-benar berlayar ke mana pun."
Almaz mengangguk pelan. "Berarti replika ini bukan sekadar kenang-kenangan biasa."
Dari belakang, Bambang melangkah maju mendekati mereka. Ia menatap replika di dalam kaca. "Kalian menduga kapal kecil itu menyimpan sesuatu di dalamnya?"
Almaz menoleh sekilas. "Belum tahu."
"Tapi kalau Hendrick sengaja merancang benda ini khusus untuk Sekar, saya yakin ada alasan kenapa dibuat bertahan sampai ratusan tahun," lanjut Almaz.
Bambang tersenyum tipis. "Silakan dicari tahu." Ia melambaikan tangannya pelan ke arah stafnya. "Buka kacanya."
Mereka mulai bergerak mengelilingi meja pameran. Abde membungkuk rendah, mengamati garis sambungan papan di lambung kiri kapal. Xavier memiringkan kepalanya, memeriksa lem kayu di tiang kemudi menggunakan senter kecil dari ponselnya. Aulia berdiri di sisi seberang, membandingkan proporsi kapal dengan arsip dokumentasi arsitektur maritim abad ke-18. Pak Broto mengawasi dari dekat, sementara Bambang memilih berdiri agak jauh.
Abde mendengus pelan, melirik Xavier di sampingnya. "Kalau ternyata di dalam kapal ini isinya cuma rongga kosong atau udara doang, gue bakal malu banget seumur hidup."
Xavier melirik sekilas tanpa menoleh. "Dari kemarin juga lo nggak kelihatan punya urat malu, De."
"Makanya gue santai," jawab Abde. "Nggak punya beban mental."
Aulia menahan senyum kecil di balik genggaman tangannya.
Almaz berjongkok perlahan, menyamakan tinggi matanya dengan permukaan meja. Jemarinya bergerak meraba bagian bawah lambung.
Jemarinya berhenti di antara deretan papan kayu jati tua yang tersusun rapi, satu garis sambungan terasa sedikit berbeda. Almaz menahan napasnya, memperlambat kedipan mata lalu menoleh ke arah Pak Broto.
"Pak." Almaz menunjuk titik sambungan. "Bagian ini... sambungannya beda."
Pak Broto menyipitkan mata, mengulurkan telunjuknya, meraba garis kecil yang ditunjuk Almaz. Jarinya menyusuri pinggiran papan. "Bukan sekadar sambungan kayu biasa." Ia menekan permukaan papan kecil.
Klik.
Suara mekanisme mekanik kuno berbunyi pelan, memecah keheningan ruangan. Seluruh aktivitas di sekitarnya terhenti.
Sebuah panel kecil di bagian bawah lambung kapal bergeser turun. laci tipis tersembunyi begitu rapat hingga menyatu sempurna dengan struktur lunas kapal.
Aulia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya membelalak. Abde menahan napas, lehernya memanjang ke depan. Xavier membungkuk. Bambang yang tadinya bersandar santai menegakkan tubuhnya.
Pak Broto menarik keluar selembar kertas perkamen tua yang dilipat rapi menjadi empat bagian dari laci tersembunyi.
Ia mengangkat lembaran tersebut, membukanya perlahan di bawah lampu sorot. Tinta hitam pudar beraksara Belanda kuno memenuhi permukaannya.
Almaz mendekat, membaca baris-baris kalimat. Dahinya berkerut dalam. "Saya... nggak ngerti artinya."
Pak Broto mengeja setiap kata yang tertulis di atas kertas perkamen.
"Dit schip nam hem nooit hem op reis. Toch zou de ware reis beginnen zodra hij voet aan wal zette. Op een plek die voor altijd door de zee werd omringd en in de schaduw van kokospalmen lag."
Almaz mengerjap. "Apa artinya, Pak?"
Pak Broto menatap ulang bait kalimat, ia mengangkat wajahnya, menatap empat mahasiswa di depannya. "Isinya... kapal ini tidak pernah membawanya berlayar. Tetapi perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai ketika ia menyentuh daratan yang selalu dikelilingi laut dan dinaungi pohon-pohon kelapa."