Bunyi gesekan koper dan desau resleting ransel ditarik rapat memenuhi udara rumah Aulia. Dua tas ransel besar, satu tas kamera milik Abde, dan beberapa kantong perlengkapan disusun rapi di dekat pintu depan.
Pak Broto berdiri di dekat meja ruang tamu, telunjuknya memeriksa kembali lembar demi lembar dokumen arsip dan salinan jurnal Hendrick yang tersimpan di dalam map cokelat. Di sudut lain, Aulia memastikan termos air kecil dan obat-obatan pribadinya sudah masuk ke dalam kantong samping tas. Abde dan Xavier masih berdebat sengit di dekat pintu depan soal siapa yang membawa beban logistik lebih berat, sementara Almaz berdiri agak terpisah di dekat jendela, memegang selembar kertas perkamen hasil temuan mereka semalam.
Almaz menatap kembali baris kalimat terakhir yang ditulis oleh tangan Hendrick ratusan tahun lalu.
...daratan yang selalu dikelilingi laut dan dinaungi pohon-pohon kelapa.
Aulia melangkah mendekat, menyampirkan jaket tipis di lengannya. "Masih lo baca terus?"
Almaz mengangguk tanpa menoleh. "Takut ada detail kecil yang kelewat."
Aulia tersenyum tipis. "Kita kan sudah sepakat tujuannya Ujung Genteng."
Almaz melipat kertas itu, menyelipkannya kembali ke saku dada jaketnya. "Sepakat bukan berarti seratus persen pasti benar."
Suara deru mesin mobil berkapasitas besar memecah keheningan pagi di depan pagar rumah. Aulia menoleh ke arah jendela, menatap SUV hitam mengilap berhenti sempurna di pelataran.
Pintu pengemudi terbuka. Damar turun lebih dulu.
Raka keluar dari sisi seberang. Ia menegakkan punggung, mendongak menatap arsitektur rumah kayu berpadu tembok tua milik keluarga Aulia.
Aulia melangkah ke ambang pintu depan. "Cari siapa?"
Raka menyipitkan mata tersenyum. "Ini rumah Aulia, kan?"
"Iya," jawab Aulia singkat.
"Bagus juga tempatnya." Raka menoleh ke sekeliling halaman yang dipenuhi pot tanaman bunga milik ibunya. "Kalau rumah gue modelnya kayak gini, gue nggak bakal pernah mau keluar rumah."
Damar melirik Raka dari balik kap mobil. "Kita datang bukan buat menilai properti orang, Raka."
Raka mengangguk. "Benar juga." Lalu ia kembali menatap Aulia dengan senyuman tipis. "Tapi tetap saja, rumahnya bagus."
Dari dalam rumah, suara langkah kaki terdengar mendekat. Ayah dan ibu Aulia muncul dari balik tirai ruang tengah. Mereka tertegun menatap dua pria asing berbadan tegap berdiri di teras rumah. Pandangan mereka beralih ke arah Pak Broto dan keempat mahasiswa yang sudah menenteng tas masing-masing.
Ibu Aulia menghampiri putrinya, jemarinya mencengkeram erat lengan Aulia. "Kamu mau pergi berapa lama sebenarnya?"
Aulia mengangkat bahu. "Belum tahu, Bu."
Ibunya menghela napas berat, matanya menyapu ransel di punggung Aulia. "Kamu ikut perjalanan aneh ini terus?"
Aulia mengangguk ragu. "Iya, Bu."
Ayah Aulia melangkah maju, berdiri di samping istrinya. Pandangannya lurus menatap Pak Broto. "Pak Broto, anak saya aman, kan?"
"Aman, Pak. Saya sendiri yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan mereka."
Ayah Aulia mengamati wajah Pak Broto beberapa detik, lalu mengangguk. "Saya percaya sama Bapak." Ia menoleh ke pelataran rumah, menatap Damar dan Raka berdiri di dekat pintu mobil. "Mereka siapa?"
Raka mengulurkan tangan. "Raka, Pak."
Damar menyusul di sampingnya, menjabat tangan Ayah Aulia. "Damar."
Ayah Aulia menerima uluran tangan keduanya bergantian. "Kalian yang bertugas mengantar?"
Damar mengangguk. "Betul, Pak."
Raka tersenyum tipis. "Sampai tujuan dengan selamat, Pak. Tenang saja."
Pandangan Ibu Aulia ke putrinya. Tangannya terulur merapikan kerah jaket Aulia. "Kabari Ibu kalau sudah sampai."
"Iya, Bu."
"Jangan lupa makan yang benar."
Aulia tersenyum. "Iya, Bu."
Ibunya menatap Pak Broto sekali lagi. "Tolong dijagain anak saya, Pak."
Pak Broto tersenyum, mengangguk hormat. "Pasti, Bu."
Almaz memperhatikan interaksi itu dalam diam.
Raka membuka pintu tengah mobil lebar-lebar. "Kalau sesi pamit keluarga bahagianya sudah selesai, kita bisa berangkat sekarang sebelum Damar ceramah."
Damar menatap Raka datar. "Gue emang bakal marah."
Raka mengangguk santai. "Nah, kan."
Abde tertawa di belakang, Xavier ikut menggeleng pelan.
Aulia memeluk ibunya erat sebelum melangkah mundur. "Aku berangkat ya, Bu."
Ibunya mengangguk pelan, menelan ludah. "Hati-hati di jalan."
Abde dan Xavier mendekati SUV hitam itu sambil menenteng ransel tebal mereka.