HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #27

26. GUDANG TIMUR

Matahari sore meluncur turun di balik garis cakrawala barat, menyisakan bias jingga tua yang memantul di permukaan air laut. SUV hitam berbelok mulus memasuki area pelataran penginapan sederhana yang telah dipersiapkan oleh jaringan Bambang.

Dua kendaraan pengawal di belakang menyusul masuk beberapa menit kemudian, merapatkan posisi di sudut halaman parkir yang dikelilingi rimbunnya pohon kelapa.

Kelelahan setelah berjam-jam merayap di jalanan pesisir seolah melumpuhkan tenaga di sekujur tubuh mereka.

Pintu mobil terbuka pelan. Raka turun lebih dulu dari kursi penumpang, meregangkan bahunya yang kaku. "Akhirnya sampai juga."

Abde menyusul keluar di pintu sebelah kiri, mengangkat kedua lengannya tinggi, sendi-sendi tulangnya berbunyi. "Kalimat paling indah yang pernah gue dengar hari ini."

Xavier menutup pintu mobil, melangkah beberapa langkah ke tepi pembatas halaman, menatap hamparan laut lepas di kejauhan. "Babak baru dimulai."

Damar berputar arah mengecek kondisi kendaraan, memastikan pintu bagasi dan perlengkapan logistik aman tanpa ada yang bergeser.

Pak Broto berdiri di dekat teras, mengedarkan pandangan ke seluruh kawasan Ujung Genteng. Suara deburan ombak berpadu konstan dengan desau angin sore.

"Kita jangan berasumsi terlalu cepat," ujar Pak Broto memecah keheningan. "Petunjuk dari replika kapal itu memang mengarah ke wilayah ini. Tapi bukan berarti tempat yang kita cari sudah pasti ada di depan mata."

Almaz mengangguk setuju.

Satu per satu mereka mengangkat tas dan ransel masing-masing menuju kamar penginapan.

Malam beranjak naik. Setelah makan malam di ruang tengah penginapan, Pak Broto mengumpulkan mereka dalam satu meja kayu panjang.

"Kita butuh informasi lokal. Apakah ada sejarah, cerita rakyat, atau artefak peninggalan era VOC yang tersimpan di sekitar kawasan ini." Pak Broto, membentangkan salinan catatan di atas meja.

Mereka mangangguk, lalu bergegas beranjak ke jalur masing-masing.

Langkah kaki Aulia menyusuri jalan setapak di dekat warung kopi tempat beberapa warga paruh baya duduk santai menikmati malam.

"Teh manis hangat satu, Mang." Aulia menarik kursi, duduk di antara para pria paruh baya yang tengah mengepulkan asap kretek.

"Susah kalau sudah masuk bulan terang, Mang. Ikan pada lari ke tengah," ujar salah seorang dari mereka, meludah ke tanah.

Aulia mencondongkan tubuhnya ke depan, menunjuk jaring yang koyak. "Bisa-bisa robek total kalau dipaksa turun pas gelombang tinggi begini, Pak."

Si nelayan mendongak, menyipitkan mata. "Hafal juga sama ombak selatan, Neng? Jarang anak kota ngerti angin."

"Cuma baca-baca sedikit, Pak." Aulia tersenyum tipis. Ia menerima segelas teh manis hangat yang baru diletakkan pemilik warung di atas meja, lalu menyeruput pelan.

"Bapak-bapak semua sudah lama tinggal di sini, ya?" Aulia meletakkan gelasnya.

Seorang kakek mendongak. Ia mengisap rokok kreteknya dalam-dalam, bara di ujungnya menyala terang dalam gelap. "Sudah dari kakek-nenek buyut saya lahir, Neng."

Aulia mengangguk. "Wah, berarti pasti banyak tahu sejarah daerah sini dong."

"Tau banget dong, Neng." Si Kakek menyeringai.

Aulia tersenyum. "Kalau bangunan-bangunan sisa zaman Belanda atau loji lama gitu, di sekitar sini masih ada nggak, Pak?"

Si kakek mendengus pelan, ia terkekeh. "Kalau bangunan sisa zaman Belanda... di pinggir pantai mah sudah habis rata jadi beton sejak puluhan tahun lalu."

"Tapi kalau agak masuk ke dalam kawasan agak tersembunyi, ada nggak, Pak?"

Si kakek mengetuk jarinya ke atas meja kayu. "Hmm... kalau nggak salah, kakek saya dulu sempat cerita. Di arah utara, masuk ke wilayah perkebunan dekat Desa Cipaku, ada bekas bangunan tua. Orang-orang tua dulu nyebutnya Gudang Lama."

Aulia menahan napas. "Gudang?"

"Iya. Katanya gudang peninggalan zaman kompeni, tapi sudah lama sekali ditinggal orang," jawab si kakek.

"Sampai sekarang bangunannya masih ada, Pak?" kejar Aulia.

Si kakek mengangkat bahu. "Nggak tau, Neng. Masuk ke sana jalurnya susah, tertutup semak belukar dan hutan kawasan. Jarang ada orang yang ke sana."

Aulia tersenyum. "Ah makasih, kek." Ia berdiri, mengeluarkan uang lima puluh ribuan, berjalan ke pemilik warkop. "Kalo masih ada sisanya buat bayar jajanan bapak-bapak itu, Mang."

Ia berbalik, keluar dari warkop, lalu merogoh ponsel dari sakunya. Jemarinya bergetar menelan nomor Pak Broto.

Di meja posko penginapan, Abde dan Raka sibuk memperbesar garis kontur di layar laptop.

"Cipaku." Aulia masuk ke posko penginapan.

Abde mendongak. "Apaan yang Cipaku?"

"Gudang tua peninggalan VOC. Warga lokal nyebutnya Gudang Lama di kawasan Desa Cipaku," terang Aulia.

Raka mengetik nama wilayah Cipaku di mesin pencari peta digitalnya. Ia menatap area hijau yang lebat di sebelah utara garis pantai. Jemarinya memperbesar resolusinya hingga maksimal.

"Ini masuk area hutan." Raka menunjuk titik hijau pekat di layar. "Jalurnya putus di tengah kebun warga."

Abde mendekatkan wajahnya. "Artinya kita harus jalan kaki tembus hutan?"

Pak Broto dan Damar ikut mengamati peta.

Pak Broto mengembuskan napas panjang. "Kalau kita nekat masuk malam ini, kita cuma buang waktu dan membahayakan keselamatan."

Damar mengangguk. "Setuju. Medan hutan gelap di wilayah asing punya risiko terlalu tinggi."

Pak Broto mengetuk meja pelan. "Kita istirahat malam ini di sini. Besok pagi-pagi, kita bergerak menuju Cipaku."

Raka menatap layar peta, tersenyum tipis. "Artinya gudang itu belum tentu benar-benar ada isinya."

Lihat selengkapnya