HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #28

27. PETI EMAS

Langkah kaki mereka memecah ranting-ranting kering di atas tanah lembap, berhenti tepat di hadapan dinding kayu Gudang Timur yang menghitam dimakan usia. Damar melangkah maju. Tangannya bergerak memeriksa bingkai pintu utama.

Raka berdiri siaga di belakangnya, mengawasi sela-sela semak belukar. "Ada bekas gesekan di gagangnya. Pintu ini pernah dibuka orang."

Mata Damar menyipit, meneliti guratan halus di kayu. "Berarti sebelum kita, sudah ada yang pernah datang ke tempat ini."

"Bangunan peninggalan seperti ini wajar kalau beberapa kali berpindah tangan atau sempat digunakan warga jauh setelah era VOC berakhir," timpal pak Broto.

Damar menarik daun pintu kayu.

Kreeeeek...

Suara engsel tua berderit panjang, melepaskan kepulan debu tebal berbau apek dan aroma kayu lapuk yang terperangkap selama berabad-abad. Satu per satu mereka melangkah masuk.

Berkas cahaya matahari siang menerobos masuk melalui celah-celah papan dinding yang renggang, garis-garis putih di tengah udara dipenuhi partikel debu beterbangan.

Damar mengaktifkan senter di tangannya, cahaya putih terang menyorot ke setiap sudut ruangan. Raka mengekor rapat di belakangnya. Pak Broto, Almaz, Aulia, Abde, dan Xavier menyusul masuk.

Mereka mulai menyisir seisi ruangan. Rak-rak kayu sudah keropos dimakan rayap, beberapa tong kayu kosong yang pecah di bagian alas, pecahan papan berhamburan, sisa-sisa bekas perapian di sudut lantai, sarang laba-laba tebal di langit-langit yang hampir runtuh.

Abde membungkuk, membuka peti kecil berukuran sedang di dekat tumpukan balok. Ia mengintip ke dalam. "Nggak ada apa-apa."

Xavier menepuk rak kayu di sebelah kirinya. "Di sini juga bersih."

Aulia menyusuri sisi belakang ruangan. "Sama. Kosong."

Almaz berdiri mematung di tengah-tengah lantai yang berdebu. Matanya menyapu bersih seluruh isi gudang dari ujung ke ujung. "Ini... benaran gudang yang kita cari?"

Pak Broto membuka kembali lembaran catatan arsipnya. "Semua informasi dari warga mengarah ke tempat ini."

Almaz mengembuskan napas panjang, pundaknya merosot. "Tapi nggak ada satu pun tanda-tanda kalau tempat ini pernah dipakai buat nyimpan sesuatu yang penting."

Waktu terus berjalan. Mereka memeriksa setiap jengkal sudut bangunan tanpa hasil tambahan.

Abde mendesah berat, ia duduk di atas sepotong papan kayu yang melintang. "Kayaknya kita beneran salah tempat."

Xavier ikut menyandarkan punggungnya ke dinding, ikut menghela napas. "Kemungkinan besar."

Aulia menatap Pak Broto. "Berarti kita harus cari lagi ke tempat lain?"

Pak Broto menutup map catatannya. "Sepertinya begitu."

Almaz menatap seisi ruangan hampa. "Jadi, petunjuk dari replika kapal itu cuma bawa kita sampai ke Ujung Genteng dan tanpa hasil?"

Pak Broto mengangguk lemah. "Mungkin kita yang keliru menafsirkan arti akhir dari kalimat Hendrick."

Damar bergerak melangkah menuju pintu utama. "Gue keluar sebentar."

Raka hendak beranjak mengikuti langkah Damar. "Gue ikut."

Damar mengangkat sebelah tangannya. "Lo tetap di sini."

Raka mengangguk. Damar melangkah keluar sendirian, pintu terbuka selebar-lebarnya.

Sinar matahari sore menyergap wajah Damar berpadu dengan embusan angin hutan yang segar.

Damar berdiri tegap beberapa meter dari dinding luar gudang, memandang struktur bangunan secara keseluruhan. Ia mengamati

Panjang keseluruhan struktur dari ujung ke ujung. Lebar bentang bangunan. Posisi jendela kecil di sisi samping. Jarak antara dinding luar dan batas tanah. Kemiringan atap seng yang sudah berkarat.

Damar berjalan perlahan, mengitari bangunan tua satu putaran penuh. Ia berhenti di titik sudut belakang. Dahinya berkerut dalam. Ia berbalik, melangkah kembali memasuki pintu gudang. Ia berdiri tepat di tengah ruangan utama.

Raka berjalan mendekat. "Kenapa, Mar?"

Damar berjalan cepat menuju dinding sebelah kanan, lalu mengukur panjang ruangannya menggunakan langkah kaki. Ia berjalan ke sisi sebaliknya, mengulangi hal yang sama, lalu menatap lurus ke arah pintu masuk.

"Ada apa?" tanya pak Broto.

Damar menunjuk bidang dinding di sampingnya. "Panjang ruangannya."

Pak Broto mengernyit. "Maksudnya?"

"Gue ngiterin bangunan ini dari luar." suara Damar menggema di ruangan sempit. "Kalau ukuran struktur luarnya benar, seharusnya ruang di dalam ini jauh lebih panjang."

"Selisihnya berapa meter?" Xavier menegakkan punggungnya.

"Lumayan jauh," jawab Damar.

Pak Broto mengedarkan pandangannya ke sekeliling dinding.

Damar menatap mereka satu persatu. "Ada bagian dari bangunan ini yang sengaja ditutup."

Semua kepala langsung menoleh.

Mereka mulai membagi area pemeriksaan.

"Jangan bongkar semuanya secara asal," perintah Damar. "Cari kejanggalan di struktur sambungan konstruksinya."

Raka bergerak menyisir sisi dinding kiri. Xavier dan Abde berjongkok mengamati papan-papan lantai. Aulia meneliti bidang dinding belakang, Almaz membantu menyusuri celah-celah kayu.

Pak Broto mengawasi, mencoba mencocokkan struktur bangunan dengan fungsi logistik masa lalu.

Raka mengetuk sebuah bidang. "Mar, yang ini?"

Damar mendekat, meraba sambungannya, lalu menggeleng. "Bukan. Itu cuma kayu lapuk."

Mereka berpindah titik. Abde menemukan sebuah celah memanjang di dekat lantai. "Kalau celah ini gimana?"

Damar berlutut, menekan permukaannya. "Bekas sarang rayap."

Abde mengembuskan napas, menyeka keringat di dahinya. "Gue mulai benci sama segala bentuk gudang tua."

Langkah Damar berhenti di hadapan satu bidang dinding papan yang terlihat paling kokoh di sudut belakang ruangan. Ia mendekatkan telinganya, lalu mengetuk permukaan kayu dengan buku jarinya.

Tok. Tok.

Bagian atas berbunyi padat, ketukan di bagian bawah memantulkan suara berongga.

Lihat selengkapnya