Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui tirai venetian vertikal di ruang kerja pribadi Bambang. Tidak ada lagi sisa ketegangan malam atau debu jalanan pesisir yang melekat. Di sudut ruangan, peti kayu berat berikat plat besi yang dievakuasi dari Gudang Timur telah diamankan di atas meja kerja terpisah.
Pak Broto, Almaz, Abde, Xavier, dan Aulia berdiri di depan meja utama Bambang. Damar dan Raka berdiri agak di belakang. Bambang duduk bersandar di kursi kerjanya, menyesap secangkir kopi hitam. Ia meletakkan cangkirnya perlahan di atas piring kecil.
"Saya rasa kita sudah sampai di ujung," ucap Bambang tenang.
Pak Broto menatap lurus ke arah Bambang. "Maksud Anda?"
Bambang menunjuk selembar laporan inventaris di atas mejanya. "Gudang Timur ditemukan. Peti emas ditemukan. Isinya mungkin sesuai dengan apa yang selama ini saya cari." Ia mendongak, menatap kelompok di depannya satu per satu. "Kesepakatan kita selesai."
Pak Broto mengangguk. "Kalau begitu, kami bisa pulang."
"Bisa dikatakan seperti itu." Bambang membuka laci di sebelah kanannya.
Suara rel laci bergeser terdengar pelan di tengah ruangan. Ia mengeluarkan lima amplop cokelat tebal. Satu demi satu diletakkan di atas meja.
Pak Broto menatap amplop-amplop itu. "Apa itu?"
Bambang menyandarkan punggungnya kembali. "Uang." Ia mendorong tumpukan amplop itu sedikit ke depan. "Masing-masing dua puluh lima juta."
Mata Abde bergerak ke arah amplop. Xavier melirik sekilas lalu kembali menatap Bambang. Aulia berdiri diam. Almaz menatap lurus wajah Bambang.
Pak Broto menggeleng. "Kami tidak butuh itu."
Bambang tersenyum tipis. "Saya tahu."
"Kalau begitu, simpan."
"Ini bukan hadiah, Pak Broto."
Pak Broto menatapnya lebih tajam. "Kalau bukan hadiah, lalu apa?"
Bambang mengangkat satu amplop dengan dua jari. "Uang tutup mulut."
Raka yang berdiri di belakang tidak lagi tersenyum.
"Kalian melihat terlalu banyak selama bekerja dengan saya. Koleksi pribadi saya. Arsip yang tidak tercatat. Cara saya mendapatkan beberapa benda. Jaringan yang saya gunakan" lanjut Bambang. Ia meletakkan kembali amplop itu. "Saya tidak ingin semua itu keluar dari ruangan ini."
Pak Broto menggeleng lagi. "Saya tidak bisa menerima uang untuk membeli diam saya."
Bambang menatap Pak Broto beberapa detik, lalu senyumnya menghilang. "Anda punya tiga mahasiswa dan satu gadis yang perlu dijaga, dan istri yang menunggu di rumah." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit. "Jangan biarkan idealisme Anda menghancurkan itu semua."
Almaz menatap Pak Broto. Abde menunduk. Xavier mengembuskan napas pelan melalui hidung. Aulia meremas jemarinya sendiri.
Pak Broto menatap amplop-amplop di atas meja. Tangannya terulur mengambil satu, lalu mengambil tiga lainnya. Ia berhenti ketika tangannya menyentuh amplop terakhir.
Pak Broto mengangkat wajah. "Ini tidak mengubah apa pun."
Bambang tersenyum tipis. "Tentu."
Pak Broto mengambil amplop terakhir.
Bambang mengangguk. "Bagus."
Pak Broto memasukkan amplop-amplop itu ke dalam map yang dia bawa.
Bambang bersandar kembali. "Tapi saya punya satu tawaran lagi."
Pak Broto menatap Bambang. "Saya dengar."
Bambang melirik ke arah peti emas di sudut ruangan. "Menurut saya, kita terlalu cepat menyebut ini selesai."
Almaz mengangkat wajah.
Bambang melirik sekilas ke arah Almaz. "Satu peti." Ia mengetuk laporan inventaris di atas meja. "Kurang lebih dua puluh lima kilogram emas." Ia menggeleng pelan. "Saya tidak percaya itu seluruh harta yang disembunyikan Hendrick."
"Petunjuk yang kalian ikuti membawa kita ke Gudang Timur," lanjut Bambang. "Tapi seseorang seperti Hendrick tidak mungkin mengambil risiko sebesar itu hanya untuk menyembunyikan satu peti."
Mulut Almaz terbuka, lalu tertutup lagi.
Bambang menatap Pak Broto. "Saya bersedia membiayai pencarian berikutnya."
"Tidak," jawab Pak Broto.
Alis Bambang terangkat "Anda bahkan belum mendengar tawarannya."
"Saya sudah cukup mendengar." Pak Broto menutup map di tangannya. "Kesepakatan kita selesai. Kami menemukan apa yang Anda cari. Anda mendapatkan emas Anda. Kami mendapatkan arsip yang kami butuhkan."