HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #30

29. LAMARAN

Sudah beberapa bulan sejak pertama kali aku mengajaknya berjalan ke pantai bersama sekar. Waktu melompat begitu cepat, membawa kami ke tempat yang tidak pernah kurencanakan sebelumnya. Sekarang, aku tidak lagi datang ke tempat Manto sebagai seorang tamu yang canggung.

Sering kali, ketika aku datang dengan seragam VOC yang melekat di badan, aku mendapatinya duduk tenang di teras kayu, membantu Manto memilah rempah.

Dari kejauhan, suara roda pedati yang mengangkut karung-karung hasil bumi terdengar bergesekan dengan jalan tanah yang mengeras. Sesekali terdengar teriakan para kuli yang sedang memindahkan muatan dari satu pedati ke pedati lainnya. Bau cengkih, lada, dan kayu basah bercampur dengan asap dapur dari rumah-rumah penduduk yang terbawa angin hingga ke halaman Manto.

Dunia yang kutinggalkan setiap pagi selalu bergerak dengan cara yang sama. Karung-karung datang, ditimbang, dicatat, lalu berpindah tangan. Para pedagang menunggu keputusan orang-orang yang memiliki cap dan surat izin. Di antara semua itu, angka-angka yang kutulis di atas kertas sering kali terasa lebih menentukan nasib seseorang daripada tenaga yang mereka keluarkan untuk menghasilkan barang-barang tersebut.

Tetapi di rumah Manto, semua suara itu terasa jauh. Di sini, Sekar hanya duduk di teras, memilah rempah bersama keluarganya seolah dunia di luar pagar kayu itu tidak sedang sibuk menghitung berapa banyak yang bisa diambil darinya.

Dari ambang pintu, aku kerap berdiri cukup lama hanya untuk mengamatinya. Ada kehangatan asing yang merayap di dadaku, menyadarkanku bahwa kehadirannya di tempat ini telah bergeser dari sekadar singgahan sementara menjadi bagian dari ritme hidup kami sehari-hari.

Musim berganti membawa hari-hari yang melelahkan. Pernah suatu petang, aku baru saja meninggalkan loji ketika matahari mulai turun di balik deretan bangunan pelabuhan. Jalanan masih ramai oleh pedati dan orang-orang yang membawa barang dari gudang menuju dermaga. Bau asin laut bercampur dengan bau tajam rempah yang menempel pada karung-karung terbuka.

Beberapa pekerja pribumi berjalan menunduk ketika berpapasan dengan serdadu dan pegawai Kompeni. Aku sudah terbiasa melihatnya. Terlalu terbiasa, mungkin.

Namun hari itu, entah kenapa, pemandangan tersebut terasa lebih berat dari biasanya.

Aku pulang dengan kepala pening, pundak yang terasa kaku, dan mulut yang terkunci rapat setelah menghadapi perdebatan panjang di loji. Aku duduk di sudut ruangan, enggan menatap siapa pun, bahkan sekadar membuka jaket dinas yang terasa mencekik.

Sekar masuk membawa nampan berisi air putih dan semangkuk kecil makanan hangat. Gadis itu hanya duduk tenang di sebelahku, menjaga jarak yang nyaman.

"Hari yang buruk?" tanyanya pelan.

"Sangat," jawabku parau, menatap lantai.

Sekar menyodorkan mangkuk, lalu menatapku dengan sorot mata yang memahami lelahku luar biasa. "Kalau begitu, kau tidak perlu bercerita."

Aku menoleh, keningku berkerut tipis. "Kenapa?"

"Karena kalau kau belum ingin membaginya, aku juga tidak punya hak untuk memaksamu," ucapnya lembut.

Jeda panjang menyergap di antara kami. Di detik itu, aku menyadari bahwa Sekar menerima sisi diriku yang paling bisu, paling lelah, dan paling buruk tanpa menuntut apa pun sebagai bayaran.

Namun, kedamaian kecil itu selalu dibayangi malam-malam gelisah di kamarku.

Malam-malam di loji tidak pernah benar-benar sunyi. Dari luar jendela kamar, kadang terdengar derap sepatu penjaga yang berpatroli, suara rantai gerobak yang belum sempat diparkir, atau bunyi lonceng dari arah pelabuhan yang menandai pergantian waktu.

Bahkan setelah lampu-lampu di bangunan utama dipadamkan, pekerjaan tetap berjalan di tempat lain. Gudang-gudang masih menyimpan muatan. Kapal-kapal masih menunggu giliran. Surat-surat masih berpindah tangan.

Kompeni tidak pernah benar-benar tidur.

Dan semakin lama aku berada di dalamnya, semakin sulit bagiku membedakan apakah aku sedang bekerja untuk sebuah perusahaan dagang atau hidup di dalam sebuah mesin yang tidak pernah peduli siapa yang dihancurkannya.

Semakin lama aku mengabdi di bawah panji VOC, semakin aku merasa ada bagian dari nuraniku yang tergerus. Kebijakan-kebijakan dingin, laporan-laporan manipulatif, dan kepentingan segelintir petinggi loji mulai memperlihatkan sisi busuk yang tidak bisa lagi kuabaikan dengan sebelah mata.

Angka-angka di dalam laporan tidak selalu sama dengan apa yang kulihat sendiri di gudang. Jumlah karung yang tercatat terkadang berbeda dari muatan yang benar-benar tiba.

Harga yang ditulis di atas kertas dapat berubah sebelum barang berpindah tangan. Nama-nama tertentu muncul berulang kali di dalam catatan, sementara nama orang-orang yang benar-benar bekerja menghilang begitu saja dari halaman.

Aku ditugaskan memastikan semuanya terlihat benar. Bukan memastikan semuanya benar.

...Berapa lama lagi seseorang dapat terus melangkah di jalan yang salah hanya karena itu adalah perintah?...

Lihat selengkapnya