HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #32

30. KELUARGA

Pagi hari di rumah kami selalu datang lewat cahaya matahari yang merayap di atas lantai kayu, memantul hangat di dinding-dinding papan yang kami bangun bersama.

Hari ini, Sekar sibuk di sudut dapur kecil, menyiapkan sarapan sederhana dari bahan-bahan yang dibawanya dari kebun. Sementara aku, seperti biasa, duduk di meja kayu bundar dengan beberapa lembar dokumen audit yang berserakan di hadapanku.

Sekar melirik sekilas dari balik bahunya, melihat tumpukan kertas itu dengan kening berkerut tipis. "Kalau setiap pagi kau harus melihat kertas sebanyak itu, apa kau tidak bosan, Hendrick?"

Aku bahkan tidak mengangkat kepalaku dari angka-angka di atas meja. "Aku dibayar untuk merasa bosan."

Sekar tertawa kecil, melangkah mendekat membawa dua piring makanan. "Jadi pekerjaanmu memang membosankan?"

Aku akhirnya mendongak, menatapnya lekat-lekat. "Tidak. Orang-orang yang membuat angka-angka di atas kertas inilah yang sebenarnya membosankan."

Sekar menarik kursi, duduk di hadapanku. "Bedanya di mana?"

"Angka tidak pernah berbohong," jawabku ringan.

"Lalu manusia?"

Aku tersenyum tipis. "Manusia jauh lebih kreatif."

Sekar tersenyum, membiarkan perbincangan kecil itu larut dalam keheningan pagi. Tanpa disadarinya, dunia kerjaku sebagai auditor telah melatihku membaca lebih dari sekadar hitung-hitungan dagang. Aku mulai melihat bahwa masalah terbesar di loji ini bukanlah selisih neraca, melainkan kelicikan manusia yang bersembunyi di baliknya.

Sebelum matahari naik terlalu tinggi, aku harus bersiap berangkat ke kantor administrasi. Sekar berdiri di ambang pintu, merapikan kerah kemejaku.

"Kau pulang malam?" tanyanya lembut.

Aku mengangguk ragu. "Mungkin."

"Berarti aku tidak perlu menunggumu untuk makan malam?"

Aku berhenti sejenak, menatap matanya, lalu menggeleng pelan. "Tunggu."

Sekar mengerjap, terkejut kecil. "Kenapa?"

"Aku ingin pulang dan menemukanmu masih menungguku di rumah ini."

Sekar tersenyum, tatapannya melembut. "Baiklah. Aku akan menunggu."

Aku meninggalkan rumah ketika jalanan mulai dipenuhi aktivitas pagi. Beberapa pedati bergerak perlahan membawa karung-karung hasil bumi menuju kawasan perdagangan, roda kayunya berderit setiap kali melewati permukaan jalan yang tidak rata.

Para pekerja berjalan di sisi jalan dengan langkah cepat, sebagian memanggul keranjang, sebagian lainnya membawa barang yang akan ditimbang dan dicatat sebelum diteruskan ke gudang.

Semakin mendekati kawasan loji, bangunan-bangunan kayu sederhana perlahan berganti dengan bangunan berdinding lebih kokoh, halaman-halaman yang dijaga, serta gudang-gudang dengan pintu besar yang mulai terbuka satu per satu.

Dari arah pelabuhan, aroma asin laut bercampur dengan bau lada, cengkih, kayu basah, dan asap dari perahu-perahu yang baru kembali. Teriakan para pekerja terdengar bersahutan dengan suara roda pedati dan perintah para pengawas.

Di tempat ini, hampir segala sesuatu memiliki tujuan. Barang harus dihitung. Muatan harus ditimbang. Nama harus dicatat. Surat harus diberi cap.

Bahkan orang-orang yang bekerja di dalamnya seolah-olah telah berubah menjadi bagian dari sistem yang sama.

Aku melewati gerbang loji, menunjukkan tanda pengenal kepada penjaga, lalu melangkah masuk ke dalam kompleks administrasi. Udara di sini selalu terasa lebih dingin, berbau debu kertas tua, tinta hitam, dan keputusasaan para pegawai rendahan.

Meja panjangku dipenuhi buku besar, laporan keuangan bulanan, dan stempel kayu. Sebagai seorang auditor, pekerjaanku menuntut ketelitian. Aku memeriksa angka masuk, angka keluar, biaya pengiriman, pajak, dan catatan gudang hingga ke detail terkecil.

Dan hari ini, aku menemukan celah yang tidak beres.

Seorang pegawai kompeni berdiri di samping mejaku, mencoba tersenyum kaku. "Itu... hanya kesalahan pencatatan biasa, Kolonel."

Aku mengangkat wajah, menatapnya tajam tanpa berkedip. "Kesalahan pencatatan yang sama terjadi sampai tiga kali?"

Pegawai itu menelan ludah.

Kutunjuk baris dokumen pertama. "Di laporan lokal tercatat dua puluh peti rempah." Kubalik lembarnya ke catatan laporan VOC. "Di sini tercatat dua belas peti." Kubuka lembar berikutnya. "Dan di dokumen gudang, tertulis sebelas."

Jeda sejenak membuat ruang itu terasa senyap. "Tiga catatan berbeda untuk satu muatan yang sama. Jelaskan padaku di mana sisa barangnya."

Pegawai itu mulai berkeringat dingin, jemarinya meremas ujung seragamnya. "Saya... saya akan memeriksa ulang catatan itu."

Kututup dokumen itu dengan bunyi tep yang tajam. "Tidak usah."

"Kolonel?"

"Aku sendiri yang akan memeriksanya."

Setelah pegawai itu pergi, aku membuka kembali seluruh berkas yang berkaitan dengan muatan tersebut.

Lihat selengkapnya