Pagi itu, udara di dalam ruang kerja utama kediaman gubernur terasa jauh lebih sejuk dan steril dibandingkan dunia di luar tembok pembatas. Karpet wol tebal meredam setiap bunyi langkah kaki, sementara perabot-perabot kayu jati bergaya Eropa tertata kaku di setiap sudut.
Dari balik jendela-jendela tinggi, halaman kediaman gubernur terlihat begitu tenang. Beberapa pelayan pribumi bergerak membawa nampan sarapan, sementara dua serdadu berdiri di dekat tangga dengan senapan tersandang di bahu. Di kejauhan, suara roda kereta kuda sesekali terdengar melintasi halaman batu.
Tidak ada suara pedagang. Tidak ada teriakan buruh pelabuhan. Tidak ada bau ikan, keringat, atau tanah basah yang biasa menyambutku setiap pagi.
Di tempat ini, kekuasaan memiliki caranya sendiri untuk menciptakan keheningan.
Aku berdiri di hadapan meja kerja yang luas, menempatkan map tebal berisi lembaran audit yang telah kuhimpun selama hampir empat tahun terakhir.
Gubernur duduk di balik mejanya, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan kursi dengan ritme lambat. Ia menatapku lekat-lekat, lalu tersenyum tipis. "Sudah hampir empat tahun kau bertugas di wilayah ini, Hendrick."
Aku menunduk sedikit. "Ya, Tuan."
"Dan laporan auditmu ini... masih belum juga selesai?"
Kutunjuk map dokumen di hadapannya dengan tenang. "Saya menemukan beberapa hal yang membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam."
Gubernur menyandarkan punggungnya, seringai di bibirnya melebar. "Empat tahun hanya untuk beberapa hal?"
"Bukan beberapa hal, Tuan. Ada pola."
Senyum tipis di wajah gubernur memudar.
Kubuka map dokumen, memperlihatkan lembaran-lembaran yang dipenuhi catatan angka, grafik, dan tabel perbandingan.
"Selama tiga tahun terakhir, jumlah barang dagangan yang masuk ke gudang pelabuhan tidak pernah sama dengan catatan pengiriman resmi dari benteng pusat. Beberapa transaksi besar menggunakan nama perusahaan fiktif atau pedagang perantara yang tidak terdaftar."
Gubernur mendengarkan dalam diam, matanya menyipit mengamati kertas-kertas itu.
"Pajak perdagangan tercatat masuk ke dalam buku besar, tetapi dana tunainya tidak pernah utuh sampai ke kas administrasi loji," lanjutku.
"Ada banyak barang yang secara administratif dinyatakan hilang karena pembusukan atau perompakan laut. Namun, dari data logistik yang saya periksa, pejabat-pejabat tertentu selalu muncul berulang kali di dalam rantai dokumen yang sama."
Gubernur mengangkat sebelah tangannya, menghentikan penjelasanku. "Dan apa kesimpulanmu dari semua angka itu?"
"Ada orang-orang di dalam sistem ini yang sengaja mengambil keuntungan pribadi," jawabku tegas.
"Siapa?"
Kubalik halaman berikutnya. "Saya belum bisa memastikan nama-nama pelakunya secara mutlak."
"Tapi kau mengatakan ada pencurian."
"Saya mengatakan ada manipulasi sistematis."
"Yang artinya?"
Kutatap mata lelaki itu tanpa berkedip. "Seseorang di dalam struktur Kompeni sengaja membuat catatan palsu untuk menutupi aliran aset yang hilang."
Gubernur mengulurkan tangannya di atas meja. "Berikan nama-nama mereka."
Aku terdiam. "Saya belum memiliki bukti hukum yang cukup kuat untuk menyeret mereka ke pengadilan militer."
Gubernur menutup map audit itu dengan gerakan kasar. Suasana santai yang sempat ia tunjukkan tadi pagi menguap seketika.
"Kau terlalu sibuk mencari-cari kesalahan di antara orang-orang kita, Hendrick," ucapnya dingin.
Aku tidak bergeming. "Masalahnya memang ada di dalam sistem ini."
"Padahal akar masalahnya sudah jelas."
Aku mengangkat alis. "Apa maksud Tuan?"
Gubernur membuka salah satu halaman laporan, lalu mengetukkan ujung kukunya ke atas kertas. "Para pedagang lokal. Merekalah yang memalsukan jumlah pasokan dan mencuri dari gudang-gudang kita."
"Saya tidak menemukan satu pun bukti audit yang mengarah kepada para pedagang lokal."
Gubernur tersenyum tipis. "Belum, Hendrick. Belum."
"Saya tidak akan pernah menuliskan sesuatu yang tidak saya temukan di dalam angka-angka itu."
Gubernur menatapku tajam, seolah sedang menimbang sejauh mana ia bisa mendikte seorang auditor. "Kau sudah hampir empat tahun hidup di tanah ini."
"Seharusnya kau sudah belajar satu hal mendasar. Laporan resmi bukan sekadar soal apa yang benar."
Kutatap wajah atasanku itu lurus-lurus. "Lalu laporan ini soal apa?"
"Soal apa yang perlu dipercaya oleh publik dan pusat."
Di detik itu, kesadaran pahit menghantam batinku dengan telak. Mereka sama sekali tidak pernah menginginkan audit yang jujur. Yang mereka minta hanyalah selembar kertas pembenaran untuk menutupi kebusukan mereka sendiri.