HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #34

32. EKSPEDISI

Pagi buta masih menyisakan embun dingin yang menempel di dinding bambu rumah Manto. Tidak ada suasana heroik yang membakar semangat. Rumah panggung itu perlahan berubah menjadi pos pengumpulan logistik rahasia. Satu per satu warga datang menyelinap dalam gelap, membawa barang-barang yang selama ini disembunyikan di balik loji kompeni, kotak kayu tertutup rapat, bungkusan kain tebal, hingga map-map dokumen yang berhasil diamankan.

Aku duduk di meja kayu bundar dengan lampu pelita kecil yang menerangi catatan-catatanku. Jariku memegang pena, mengelompokkan setiap barang bukan layaknya seorang pencuri yang berniat menjarah, melainkan seorang auditor yang tengah merapikan neraca terakhir dalam hidupnya.

"Kau masih sempat mencatat di saat-saat seperti ini, Hendrick?" tanya Manto lirih, berdiri di sebelahku sambil mengawasi tumpang tindih barang di sudut ruangan.

Aku tidak mengangkat kepala, penaku terus menari di atas kertas. "Kalau kita tidak tahu persis apa saja yang kita pindahkan, kita akan kehilangan arah di tengah jalan."

Manto menghela napas panjang, menatap tumpukan dokumen tebal di dekat jendela. "Apakah semua kertas usang ini benar-benar penting?"

Kutarik satu lembar dokumen berstempel VOC, lalu kuangkat di hadapannya. "Tidak semuanya penting." Kupecah dokumen itu ke tumpukan berbeda. "Tetapi kita tidak pernah tahu lembar mana yang kelak akan menjadi bukti paling jujur atas apa yang telah mereka lakukan."

Manto tersenyum tipis. "Kau benar-benar tidak bisa berhenti menjadi seorang auditor sampai detik terakhir, ya?"

Aku ikut tersenyum tipis, meski dadaku terasa sesak. "Mungkin itu satu-satunya hal yang benar-benar kukuasai di dunia ini."

Menjelang siang, barang-barang yang dikumpulkan warga semakin banyak. Beberapa datang dalam keadaan masih berdebu, sebagian lain dibungkus tergesa-gesa dengan kain kasar dan diikat tali rami.

Sebuah peti kecil dibuka di atas meja. Di dalamnya tersusun beberapa keping koin dengan cap yang kukenal dari catatan kas loji. Aku mengambil salah satunya, membaliknya di antara dua jari, lalu meletakkannya kembali tanpa berkata apa-apa.

Tak lama kemudian, dua orang membawa masuk sebuah kotak kayu dengan tulisan angka yang masih terlihat di bagian sampingnya.

Aku mengenali nomor itu. Nomor inventaris gudang pelabuhan.

"Taruh di sebelah sana," kataku sambil menunjuk sudut ruangan.

Mereka mengangkatnya tanpa bertanya.

Barang berikutnya datang berupa beberapa kantong kulit. Ketika salah satunya dibuka, cahaya logam kuning memantul sebentar di bawah cahaya pelita. Ada pula gulungan kain, beberapa benda logam kecil, keping-keping perak, dan sejumlah dokumen yang sebagian ujungnya telah terlipat atau terkena air.

Satu demi satu semuanya diletakkan di hadapanku.

Aku mulai mencatat ukuran, nomor peti, dan apa pun yang masih bisa digunakan untuk mengenali asal barang tersebut. Sesekali aku menemukan tanda yang pernah kulihat di meja audit. Sebuah cap lilin, nomor pengiriman, nama kapal dan tanggal.

Semakin banyak barang yang datang, semakin sering tanganku berhenti di atas kertas. Beberapa di antaranya bahkan tidak perlu kubuka untuk mengetahui dari mana asalnya. Aku pernah membaca catatannya. Aku pernah memeriksa jumlahnya. Aku pernah mencari keberadaannya di dalam laporan. Kini benda-benda itu berada di hadapanku.

Menjelang sore, lantai rumah Manto hampir tidak lagi menyisakan ruang kosong. Peti-peti disusun merapat ke dinding. Kantong-kantong kulit ditumpuk berdasarkan ukuran. Dokumen dipisahkan dari barang logam agar tidak rusak selama perjalanan.

Manto berdiri di tengah ruangan, memandangi seluruh hasil yang terkumpul.

"Sebanyak ini?" gumamnya.

Mataku bergerak dari satu tumpukan ke tumpukan lainnya, sementara pena kembali menari di atas halaman. Angka-angka yang selama bertahun-tahun hanya hidup di atas kertas kini berubah menjadi benda nyata di hadapanku.

Dan aku tahu, jika satu saja dari semua ini terlacak kembali ke tempat asalnya, orang-orang di loji akan segera menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar selisih laporan yang telah hilang dari tangan mereka.

Aku memeriksa setiap item yang diletakkan di atasku. Seorang pemuda desa meletakkan sebuah kantong kulit berat di atas meja. "Ini dari brankas kecil pos penjagaan pelabuhan."

Kubuka ikatan kantong itu, memeriksa isinya, lalu kembali mencatatnya.

Pemuda itu mengerutkan dahi kebingungan. "Kenapa harus dicatat serinci itu, Tuan? Toh, kita sedang mengambilnya kembali."

Kutatap matanya lekat-lekat. "Karena kalau suatu hari nanti seseorang menemukan semua ini dan bertanya dari mana asalnya, kita harus bisa menjawabnya dengan kepala tegak."

Salah seorang tetua desa yang duduk di sudut ruangan tiba-tiba bersuara, menyuarakan keraguan yang sejak tadi menggantung di benak banyak orang. "Jika kita mengambil dan memindahkan semuanya dari tangan mereka... bukankah itu artinya kita sama saja dengan para perampok Kompeni?"

Aku mendongak, menatap lelaki paruh baya itu tanpa gentar. "Tidak."

"Apa bedanya, Hendrick?" tanyanya menuntut penjelasan.

"Mereka merampas dan memindahkan kekayaan ini semata-mata untuk memiliki dan memperkaya diri sendiri," jawabku tegas.

"Sedangkan kita memindahkannya agar mereka tidak bisa lagi terus-menerus merampas tanah dan kehidupan orang lain."

Manto memerhatikanku dalam diam.

Lihat selengkapnya