HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #35

33. PULANG KEMBALI

Pagi itu, langit di atas pelabuhan Batavia menggelantung kelabu, menumpahkan mendung berat yang membuat air laut tampak keruh. Pelabuhan tetap berdenyut ramai seperti biasa dengan aktivitas bongkar muat kapal-kapal dagang Kompeni. Namun, perahu layar bercadik yang merapat pelan ke dermaga kayu itu membawa atmosfer yang jauh berbeda dari kapal-kapal lainnya.

Layar utamanya koyak di beberapa bagian, tali-temali menjuntai berantakan dihantam angin, dan lambung kapalnya dipenuhi goresan serta bekas hantaman gelombang badai selatan yang ganas. Di geladak yang basah, beberapa orang awak berdiri diam dengan tatapan kosong. Ada ruang-ruang kosong yang mencolok di antara mereka.

Aku berdiri di buritan depan, menatap lurus ke arah daratan Batavia yang perlahan mendekat. Tubuhku terasa jauh lebih kurus, pakaian dinasku kotor, dan luka goresan di lengan kiriku masih menyisakan perih.

Manto melangkah pelan, berdiri beberapa langkah di belakangku. Ia ikut memandang kota pelabuhan itu dalam keheningan yang panjang.

"Akhirnya kita pulang, Hendrick," bisik Manto lirih.

Aku menatap deretan bangunan loji di kejauhan. "Tidak semuanya," kataku datar.

Manto menoleh, menatapku dengan mata yang menyendu. Kami sama-sama tahu siapa yang tertinggal di dasar laut, dan siapa yang tidak akan pernah lagi melihat rumah mereka.

Satu per satu kami mulai menuruni titian dermaga. Orang-orang pelabuhan dan para buruh sempat melirik sekilas ke arah kapal kami yang babak belur, namun mereka segera mengalihkan pandangan, terbiasa melihat kapal-kapal Kompeni datang dalam kondisi mengenaskan akibat cuaca buruk.

Beberapa orang serdadu berseragam rapi berdiri agak jauh di ujung dermaga, mengawasi setiap gerak-gerik kami turun dari kapal.

Manto mengikuti arah pandanganku, rahangnya mengeras. "Mereka menunggu kita."

"Bukan kita," jawabku tenang.

"Lalu?"

"Mereka menunggu jawaban atas laporan yang gagal kuselesaikan."

Manto menelan ludah. Tidak ada rasa panik di dalam diriku. Anehnya, aku merasa begitu tenang untuk seorang buronan yang baru saja merampok sistem di mana dia bekerja. Aku tahu sejak hari pertama kapal itu berlayar, kepulanganku pasti akan bermuara di tempat ini.

Belum sempat kami melangkah lebih jauh dari area sandar, sebuah suara memanggil namaku di antara bisingnya buruh pelabuhan.

"Hendrick!"

Kupalingkan wajah. Cornelis berjalan cepat membelah kerumunan dermaga. Wajahnya pucat, tidak menyisakan sedikit pun guratan kelegaan layaknya seorang teman yang menyambut kedatangan sahabatnya dari pelayaran panjang. Ia tampak seperti seseorang yang membawa berita buruk.

Aku menatapnya tajam. "Cornelis."

Cornelis berhenti tepat di hadapanku. Matanya menyapu penampilanku dari kepala sampai kaki dengan napas memburu. "Kau terluka."

"Hanya goresan kecil. Tidak parah."

Cornelis melirik sekilas ke arah kapal, melihat sisa awak yang tampak kelelahan, lalu kembali menatapku. "Kita bicara di rumahku. Sekarang."

Aku mengerutkan dahi. "Kenapa harus ke rumahmu?"

Cornelis melirik sekilas ke arah serdadu Kompeni yang masih berdiri mengawasi kami dari kejauhan. "Karena mereka sudah lama menunggumu di sini," suaranya merendah. "Dan aku tidak yakin mereka datang membawa niat baik."

Cornelis membawa kami berdua meninggalkan area dermaga menuju kereta kuda sewaan yang sudah ia siapkan di sudut jalan. Manto ikut melangkah di belakang kami.

Cornelis sempat menoleh, melirik lelaki paruh baya pribumi yang ia kenalkan dulu. "Dia ikut?"

"Dia bersamaku sejak hari pertama," jawabku tegas.

Cornelis menghela napas, lalu membuka pintu kereta. "Kalau begitu, masuk."

Kereta bergerak meninggalkan pelabuhan, membelah jalanan kota Batavia yang sibuk. Sepanjang perjalanan, Manto diam membisu di sudut kursi, sementara aku menatap keluar jendela kaca.

KOrang-orang berjalan hilir mudik, pedagang berteriak menawarkan barang dagangan, kereta-kereta mewah berlalu-lalang. Semuanya berjalan seolah tidak pernah ada badai, tidak ada kapal yang karam, dan tidak ada pengkhianatan di dalam tubuh Kompeni. Tetapi bagiku, dunia luar ini mendadak terasa begitu asing.

Begitu pintu rumah Cornelis tertutup rapat dan dikunci dari dalam, suasana langsung berubah mencekam. Cornelis memastikan tidak ada pelindung atau pengintai di sekitar halaman, lalu ia berbalik menatapku lekat-lekat.

"Sekar sedang hamil," ucap Cornelis tanpa basa-basi.

Untuk pertama kalinya sejak aku turun dari kapal tadi pagi, seluruh topeng ketenanganku runtuh seketika. Jantungku seperti dihantam palu berat. "Apa...?"

Cornelis tersenyum getir. "Aku tahu kau pasti ingin mendengarnya langsung darinya. Tapi dia sedang menunggumu di kamar belakang."

Aku terduduk di kursi terdekat, menundukkan wajah dalam-dalam. Dua pusaran emosi yang bertolak belakang menghantam dadaku bersamaan. Rasa lega yang luar biasa karena ia baik-baik saja, disusul gelombang rasa bersalah yang teramat pekat.

Manto berdiri mengawasi dari sudut ruangan dalam diam yang menghormati.

Aku mengangkat wajahku perlahan, menatap Cornelis dengan suara bergetar parau. "Sudah berapa lama?"

Lihat selengkapnya