HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #36

34. CATATAN TERAKHIR

Lampu di sudut ruangan memancarkan cahaya temaram. Di atas meja kayu, jurnal Hendrick terbuka lebar. Bau kertas tua yang mengering dan tinta besi berabad-abad menyeruak, bercampur dengan keheningan.

TUdara di dalam ruangan terasa berat, seolah sisa-sisa napas terakhir Hendrick di tiang gantung masih mengambang di antara mereka.

Jari-jari Almaz masih mencengkeram tepi halaman jurnal. Matanya menatap lurus baris kalimat terakhir yang ditulis dengan goresan gemetar.

Aulia duduk di seberangnya, kedua tangan saling bertumpu di atas paha. "Gue nggak nyangka akhirnya sampai di situ." Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh derit kipas angin gantung di langit-langit.

Rahang Almaz mengeras. Ia menelan ludah. "Hendrick pulang cuma buat kehilangan semuanya," tambah Almaz, Ia menatap sobekan kertas di samping catatan terakhir Hendrick.

Aulia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap pantulan cahaya lampu di kornea Almaz. "Tapi dia sempat pulang."

Almaz menutup jurnal perlahan. Suara debu halus bergesek dengan kertas tua mengisi keheningan.

Dinding kaca besar memantulkan cahaya matahari menyilaukan mata. Di ruangan lantai dua belas gedung kementerian ini, udara beraroma disinfektan dan pendingin ruangan sentral yang dingin mencengkeram.

Pak Broto berdiri tegap di depan meja kerja berlapis mahoni mengkilap. Map cokelat tebal berisi dokumen lapangan dipegang erat-erat.

Pejabat kementerian di balik meja menatap lurus wajah Pak Broto.

Pak Broto meletakkan map cokelat di agas meja. "Gudang timur sudah kami temukan."

Pejabat itu menunduk, menatap map yang diletakkan pak Broto. Kacamatanya melorot sedikit di pangkal hidung. "Dan?"

Pak Broto membuka map, membalik lembar demi lembar foto hasil dokumentasi lokasi. "Kosong."

Detik demi detik berlalu diiringi suara dengung samar AC sentral.

"Tidak ada aset. Tidak ada peti. Tidak ada tanda bahwa tempat itu pernah menyimpan muatan dalam jumlah besar selama ratusan tahun terakhir."

"Jadi, setelah semua ini, Anda masih yakin teori Anda benar, Pak Broto?" Pejabat itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit. Jemarinya mengetuk permukaan meja beberapa kali.

"Selama ini kita sudah menghabiskan waktu, tenaga, dan anggaran untuk mengikuti petunjuk-petunjuk soal Gudang Timur. Sekarang Anda datang dengan laporan bahwa gudang timur kosong."

Pak Broto merapatkan kedua telapak tangannya di tepi meja. "Saya tidak pernah mengatakan pencarian ini selesai."

"Tapi Anda juga belum menunjukkan bahwa semua teori itu membawa kita ke sesuatu yang nyata."

Pak Broto menatapnya lurus. "Karena yang kita cari memang sengaja disembunyikan."

Pejabat itu terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. "Dan Anda masih yakin orang-orang itu meninggalkan petunjuk?"

"Saya yakin mereka tidak membangun semua ini tanpa meninggalkan jalan untuk menemukannya."

Alis pejabat kementerian itu berkerut. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, lalu menatap tumpukan dokumen di hadapannya tanpa menyentuhnya.

Pak Broto mendorong seluruh berkas investigasi itu ke seberang meja. "Semua yang saya punya ada di sana, Pak."

Pejabat itu melirik tumpukan berkas tersebut. "Dan Anda masih meminta saya melanjutkan operasi ini?"

Pak Broto menundukkan kepala sedikit. "Saya meminta satu kesempatan lagi."

"Kalau pencarian ini gagal?"

Pak Broto mengangkat wajahnya kembali. "Saya yang bertanggung jawab."

Aulia bangkit dari kursinya, melangkah menuju lemari di sudut ruangan. Ia mengeluarkan kantong kain blacu kecil. Ia membawanya kembali ke meja, meletakkannya di hadapan Almaz, lalu mengeluarkan isinya satu per satu.

"Ini dokumen yang selalu turun-temurun dari keluarga gue." Aulia menyodorkan selembar kertas robekan usang.

Almaz melirik kertas itu sehenak. Pandangannya beralih ke liontin di samping kertas. Jemarinya terulur menyentuh liontin. Matanya menyipit, mengamatinya ukiran empat kelopak bunga dan inisial HS yang terukir rapi di bagian belakangnya.

Pupil mata Almaz membesar, ia menarik napas dalam-dalam. Pandangannya beralih ke selembar kertas robekan yang tergeletak di samping liontin. Ia meratakan lipatannya pelan, lalu mulai membaca baris demi baris tulisan tangan di atasnya.

"Apabila catatan ini jatuh ke tangan yang semestinya..."

"...barangkali dosaku masih memiliki kesempatan untuk ditebus."

"Perjalanan ekspedisi terakhirku telah kutulis di dalam catatan ekspedisi. Ikuti petunjuknya. Pada akhirnya, kau akan menemukan tempat di mana harta itu kusimpan."

Lihat selengkapnya