HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #37

35. PENINGGALAN

Cahaya matahari siang menyelimuti reruntuhan dinding batu andesit yang ditumbuhi lumut tebal dan akar pohon. Bau tanah basah, kelembapan, dan aroma besi berkarat menusuk hidung. Udara panas menyusup lewat celah-celah kecil di dinding benteng.

Almaz dan Aulia melangkah melewati pintu lengkung benteng. Senter di tangan Almaz menyapu setiap sudut batu bata merah.

"Kalau Cornelis satu pemahaman sama Hendrick. Pasti ada ruang tersembunyi disini," ucap Almaz tanpa menoleh.

Aulia berdiri di sampingnya, mengarahkan cahaya senter ponsel, membantu memindai struktur dinding yang retak dimakan usia. Mereka bergerak memeriksa setiap jengkal bangunan. "Kayak di Gudang Timur?"

"Iya," jawab Almaz

Almaz menyusuri dinding sisi utara, meraba permukaan dinding batu yang tidak rata dan berbeda warna. Ia mengetuk pelan satu per satu dari kiri ke kanan. Suara pantulan bata terdengar padat dan berisi.

Aulia mengangguk. Ia memeriksa garis-garis nat antar-batu di dekat lantai dasar. Kukunya membentur sudut baru tajam.

"Kosong," bisik Aulia parau, suaranya memantul pelan di dinding batu yang lembap. Ia melanjutkan merayap, menekan setiap permikaan batu dengan telapak tangannya.

Almaz bergeser dua meter ke kanan, mengulang hal yang sama. Bahunya menegang, kulit buku jarinya terkelupas. Debu tua dan serbuk kapur berjatuhan dari langit-langit, mengenai tengkuknya.

Ia mengibaskan tangannya, lalu kembali menempelkan telapak tangan ke dinding, meraba setiap tonjolan kasar dan lumut tebal yang menutupi nat dinding.

Mereka berpindah dari sudut utara, menyisir sisi dinding tengah, meraba celah-celah batu di dekat lantai yang dipenuhi sarang laba-laba. Puluhan blok batu diketuk satu per satu.

Otot lengan Almaz mulai kaku, tarikan napasnya memburu. Aulia mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya, noda debu hitam tertinggal di pipinya.

Almaz mendesah, ia berdiri beberapa saat tanpa bergerak. Ia memutar pergelangan tangan, lalu mengangkatnya, menyeka keringat di pelipis. Sikunya bersandar di dinding.

Batu di sikunya terdorong ke dalam. Lapisan debu dan lumut jatuh ke kakinya. Dinding di sebelah Almaz bergeser sedikit, lalu berhenti.

"Ini." Telapak tangan Almaz menyusup ke celah dinding yang bergerak. "Bukan ruangan Ul, tapi lemari." Ia menoleh ke arah Aulia.

Aulia menghentikan langkahnya, menyorotkan cahaya senter tepat ke arah tangan Almaz.

Almaz mendorongan celah dinding. "Nggak gerak." Ia mendorong lebih keras, urat lengannya menonjol, giginya menggertak.

"Nggak bisa kalau cuma digeser. Pintunya macet total." Almaz mendengus, napasnya memburu.

Aulia menyorot celah itu dari dekat. Cahaya senter berhenti di bagian dalam yang gelap, lalu bergeser mengikuti garis batu yang saling bertumpuk. "Harus dijebol."

Almaz mengusap telapak tangannya yang berdebu ke celana. "Kita butuh tenaga." Ia menoleh ke arah rumah.

"Lo panggil Abde sama Xavier. Gue jaga disini." Aulia melangkah mendekat ke celah dinding.

Almaz berbalik cepat menuju arah rumah. Ia berlari ke kamar tamu. Ia mendorong pintu kamar tamu kasar, napasnya memburu.

Abde tersentak, matanya terbuka. Ia mengucek kelopak matanya, lalu mendongak. Ia menatap wajah Almaz penuh keringat dan debu.

"Ada apa, Maz?" tanya Abde.

Di sisi ranjang yang lain, Xavier berguling, mengusap wajahnya. Ia mendesis pelan. "Lo abis ngapain?"

"Gue nemu ruang rahasia di benteng," potong Almaz. "Batunya macet, nggak bisa digeser pakai tangan. Kita butuh linggis."

Abde mengerjap beberapa kali. "Ruang rahasia... benteng belakang?"

"Buruan bangun, bantuin gue. Aulia nunggu disana."

Abde dan Xavier bangkit bersamaan, keduanya saling pandang.

Almaz berbalik, melangkah keluar dari kamar tamu, menerobos ruang keluarga.

Ayah Aulia duduk di kursi rotan sudut ruangan. Alisnya berkerut tajam, matanya menatap lurus ke arah Almaz. "Kamu kenapa, Maz?"

"Saya pinjem perkakas pak." Almaz berhenti di hadapannya, kedua tangannya mengepal di sisi paha. "Kami butuh linggis."

Ayah Aulia meletakkan cangkirnya di atas meja. "Buat apa?"

"Bongkar lemari rahasia di benteng belakang."

"Kalian mau bongkar benteng?!" Suara ayah Aulia meninggi.

"Nanti Aulia yang jelasin, Pak." Napas Almaz tersengal. "Ada sesuatu di dalam lemari itu."

Ayah Aulia bangkit dari kursinya, lalu melangkah mendahului Almaz menuju gudang belakang rumah. Abde dan Xavier menyusul di belakang Almaz.

Mereka tiba di depan pintu gudang perkakas. Pintu gudang berderit saat didorong terbuka. Aroma debu, kayu lapuk, dan besi tua langsung menusuk penciuman.

Xavier merangsek masuk ke dalam sudut gelap, jemarinya mencengkeram batang linggis. Di sampingnya, Abde mengangkat palu godam besar berhulu kayu tebal.

Lihat selengkapnya