HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #38

36. KERJASAMA

Cahaya jingga memudar di balik deretan pohon di halaman belakang rumah Aulia. Sisa-sisa hawa panas seharian ini masih menempel di aspal jalanan, bercampur dengan aroma rumput yang baru disiram.

Mobil SUV berhenti tepat di depan pagar. Aulia, Abde, dan Xavier berdiri serempak. Mereka mendekat ke pagar, tatapan mereka tertuju ke pintu penumpang depan yang masih tertutup. Pak Broto turun dari balik kemudi.

Pak Broto berjalan mendekat. pandangannya menelusuri wajah Aulia, Abde, lalu Xavier. "Almaz mana?" tanya Pak Broto.

Aulia bertukar pandang dengan Abde. Bahu Xavier merosot.

"Bukannya sama Bapak?" tanya Aulia pelan.

Pak Broto terdiam. Alisnya bertaut Ia menoleh ke halaman kosong, lalu kembali menatap ketiganya. "Sama saya?"

"Iya," sahut Abde.

"Tadi dia pamit ke mana?" Pak Broto menatap lurus mata Abde.

"Dia mau nyusul Bapak." Abde meremas kuat pinggiran jaketnya. "Dia bilangnya langsung ke kementerian."

Pak Broto membeku. Ia menghela napas panjang. "Dia berangkat kapan?"

"Sekitar satu jam yang lalu," jawab Aulia cepat.

Pak Broto menggeleng pelan, sebelah tangannya merogoh saku jas, ia mengeluarkan ponsel. "Kantor pusat tutup jam lima sore tadi," ujar Pak Broto dingin. "Kalau dia jalan dari sini sore, dia punya waktu cukup buat sampai sebelum gerbang ditutup. Tapi nggak ada catatan namanya di buku tamu pos penjagaan."

"Tapi kementerian pusat kan searah sama jalur yang biasa Bapak lewatin kalau pulang," selidik Xavier. "Mustahil kalau mobil Bapak nggak papasan di jalan raya utama."

"Saya lewat jalur tol lingkar luar karena ada urusan sore tadi," balas Pak Broto. "Saya harus antar Profesor Soedirdjo dulu."

Abde mengusap wajahnya dengan kedua tangan, meninggalkan jejak debu benteng di pipinya.

"Kalau dia nggak ke kementerian, terus ke mana?" suara Abde meninggi, memecah malam. "Dia nggak punya tujuan lain selain nyusul Bapak!"

Jangkrik di semak-semak belakang rumah mendadak berhenti mengerik. Angin malam yang membawa bau sisa pembakaran sampah dari ladang sebelah berembus pelan, menerpa ujung jaket Abde yang tergantung longgar. Di seberang jalan, lampu jalan desa berkedip sekali sebelum kembali berpendar redup, menyisakan bayangan tiang yang memanjang di atas aspal halaman.

Ruang kerja Bambang diselimuti hawa dingin dari AC yang menderu pelan. Wangi kayu gaharu samar-samar tertangkap indra penciuman. Almaz melangkah masuk, diikuti Damar dan Raka dibelakangnya.

Bambang memutar kursinya, menghadap ke arah Almaz. "Selamat datang kembali, Almaz."

Langkah Almaz terhenti di depan meja, menatap lurus wajah Bambang. "Apa mau anda?"

"Dosen dan mahasiswa tidak ada bedanya, ya." Bambang meraih cerutu di atas asbak. "Langsung intinya."

Mata Almaz menyipit. "Saya nggak punya banyak waktu, Pak Bambang."

"Santai dulu, Almaz. Duduk dulu." Bambang menunjuk kursi di seberangnya. Ia menoleh ke Raka.

Raka mengangguk, lalu berjalan ke lemari berisi minuman. Ia mengambi sebotol Cognac, lalu berbalik.

"Minum dulu. Jangan buru-buru, kita punya banyak waktu." Bambang menggeser gelas kristal ke hadapan Almaz,

Raka menuangkan cairan Cognac setengah penuh.

"Kamu mengira Pak Broto sedang berjuang atas nama kebenaran sejarah," lanjut Bambang. "Tapi beliau bekerja di bawah kendali birokrasi yang sewaktu-waktu bisa membuangnya begitu arsip itu membahayakan posisi atasannya."

Almaz mengangkat dagunya, menatap lurus ke arah bingkai sertifikat yang tergantung di dinding di belakang kepala Bambang.

Lihat selengkapnya