Desua AC sentral berdengung rendah. Di atas meja kerja mahoni berukuran besar, salinan cetak dari empat lembar log ekspedisi Hendrick terbentang rapi di atas permukaan kaca yang memantulkan cahaya lampu tabung putih dari langit-langit. Kertas-kertas itu masih menyisakan sedikit kehangatan dari mesin cetak di ruangan sebelah.
Almaz duduk di kursi putar berbahan kulit hitam, kedua sikunya menumpu di tepian meja. Di sebelah kanannya, Damar merapikan tumpukan kertas pelan dengan ujung jari telunjuknya. Raka berdiri di belakang Damar, sebelah tangannya bersidekap, tangan yang lain memegang cangkir kertas berisi kopi hitam yang mengepulkan uap tipis.
"Empat lembar," ucap Damar datar.
Raka mengangguk pelan, matanya menyapu barisan kata-kata tercetak di hadapannya.
"Yang terakhir semua?" tanya Damar, ia mencocokkan susunan itu dengan deretan foto di layar ponselnya.
"Sama. Nggak ada yang kurang." Raka menyesap kopinya perlahan.
"Udah di terjemahin ke bahasa Indonesia. Lo tinggal baca." Damar menyodorkan lembaran kertas ke depan Almaz.
Almaz menarik lembar pertama mendekat ke arahnya. Ia menatap bentuk goresan tinta di atas kertas, pupilnya matanya bergerak mengikuti kata demi kata.
Jemari Almaz bergerak lambat menelusuri baris demi baris. Matanya berhenti sejenak pada tanggal pencatatan, bergeser ke angka koordinat kasar yang ditulis di sisi margin.
Damar mengawasi setiap gerak gerik kecil di wajah Almaz, menatap rahangnya mengerah setiap kali matanya berpindah kalimat.
"Nemu?" tanya Damar tanpa menoleh.
Almaz menggeleng. "Belum."
Suara gesekan kertas tipis saat lembar demi lembar dibalik mengisi kesunyian di antara mereka. Ketukan kuku Raka berketuk pelan di atas permukaan kaca meja.
Damar mengubah posisi duduknya, mencari sudut pandang yang lebih terang.
Raka menunduk, membaca bagian awal yang mencatat keberangkatan dari pelabuhan asal. "Dia berangkat dari Batavia..."
Damar memegang salinan lembar kedua. Almaz menatap kertas di tangan Damar, jemarinya mengetuk pelan tepi meja.
"Ujung Genteng cuma jadi titik singgah," ujar Raka pelan.
Damar mengangguk. "Iya." Ia menyipitkan mata, menatap satu kalimat di lembar kedua. Ia menunjuk bagian tersebut dengan ujung bolpoin. "Ini yang soal peti."
Raka mencondongkan badan ke depan. "Yang satu peti itu?"
"Iya."
Almaz membaca ulang bagian yang sama. Ia menggeleng pelan. "Kalau aset akhirnya ada di sana, dia nggak perlu berlayar lagi."
Damar terdiam. Raka mengalihkan pandangannya dari kertas ke wajah Almaz.
"Berarti bukan Ujung Genteng."
Almaz mengangguk. "Kemungkinan besar bukan." Ia membalik lembar ketiga.
Raka bersandar ke sandaran kursi, menghembuskan napas panjang lewat hidungnya. "Ini gila."
Damar menoleh sekilas. "Kenapa?"
Raka menunjuk bagian tengah halaman. "Posisinya hilang."
Damar merebut lembar ketiga dari dekat Raka. "Setelah ini nggak ada koordinat sama sekali."
Almaz mengangguk dalam diam. "Berarti setelah badai, kita kehilangan titik pastinya."