Cahaya matahari pagi bergeser, memanjang di atas permukaan lantai keramik. Empat lembar log tetap terbentang bisu di tengah meja.
Damar akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kursi, melempar bolpoinnya ke atas meja.
"Pusing gue." Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Raka tertawa kecil. "Bisa capek juga lo? Ini aset kan udah lo kejar lama."
Damar melirik Raka melalui sela-sela jarinya.
"Siapa yang ngira dia naro asetnya di pulau tanpa nama."
Almaz menggeser salah satu lembar log lebih dekat ke arahnya. "Emang dari awal lo kira asetnya bakal gampang ditemukan?"
Damar mendengus. "Gue kira setidaknya ada alamat."
Raka tertawa kecil. "Alamat?"
"Ya nggak alamat rumah juga." Damar menunjuk salah satu baris dalam log. "Minimal ada petunjuk atau teka-teki yang bisa kita pecahin."
Almaz mengangguk. "Kalau semua itu ada, nggak mungkin sampai sekarang orang masih nyari."
Damar menatap Almaz beberapa detik. "Lo ngomong kayak orang yang udah tahu jawabannya."
Tangan Almaz berhenti di atas kertas, lalukembali menggeser lembar log di depannya. "Kalau gue tahu jawabannya, dari tadi gue udah kasih tahu."
Damar menyipitkan mata.
Raka melirik keduanya, lalu terkekeh kecil. "Udah, Mar. Jangan dicurigain terus. Bisa-bisa dia malah makin males bantu kita."
Damar menghela napas. "Gue cuma nggak mau kita muter-muter di tempat."
Almaz menatap kembali lembar log. "Berarti kita harus baca lagi."
"Udah gue baca tiga kali."
"Berarti baca empat kali."
Damar menatap Almaz dengan wajah datar. "Lo nyebelin juga."
Almaz tersenyum tipis. "Baru tahu?" Ia kembali memandangi baris-baris kalimat di atas kertas.
Raka berdiri sambil merenggangkan kedua bahunya. "Gue keluar sebentar. Kepala gue udah penuh sama tulisan Hendrick."
"Ambilin kopi," ucap Damar tanpa menoleh.
"Ambil sendiri," sahut Raka datar.
"Lo kan berdiri."
"Makanya gue berdiri buat pergi, bukan buat jadi pelayan lo."
Almaz menahan senyum.
Raka melirik ke arah Almaz. "Lo jangan ikut ketawa."
"Gue nggak ketawa."
"Bibir lo naik."
Almaz menundukkan wajahnya.
Damar menunjuk Raka dengan ujung bolpoin. "Dia yang paling waras di sini."
Raka mendengus. "Kalau gue waras, gue nggak mungkin masih ikut lo nyari harta karun beginian."
Damar tertawa kecil. "Ya udah. Sana."
Raka berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti, menoleh kepada Almaz. "Kalau lo nemu sesuatu duluan, bilang."