HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #42

40. KEMBALI

Ban mobil bergeser di atas aspal basah, deru mesin bergetar pelan merambat di bawah sepatu. Di dalam kabin yang temaram, Almaz duduk bersandar di sisi jendela, pandamgannya lurus keluar, menatap deretan lampu jalan yang mulai menyala bergantian menembus senja yang meredup.

Jemari Damar mengetuk setir kemudi, mengikuti irama musik dari radio. Radio memutar lagu lama dengan volume rendah. Suaranya sesekali tenggelam oleh desis ban yang membelah genangan air.

Almaz menggeser posisi duduknya. Punggungnya tetap menempel pada jok. Ia melirik sebentar ke arah tangan Damar, lalu kembali memandang keluar jendela.

"Lo dari tadi diem banget," ujar Damar.

Almaz mengangkat bahu. "Lagi mikir."

"Mikirin log?"

"Iya."

Damar mengangguk.

Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.

Lampu kendaraan dari arah berlawanan menyapu kaca depan, lalu menghilang di belakang mereka.

"Jangan terlalu dipaksain," kata Damar kemudian.

Almaz menoleh. "Maksudnya?"

"Kalau emang belum ketemu, ya belum ketemu."

Almaz menatap Damar beberapa saat. "Bos lo nggak bakal ngomong begitu."

Damar terkekeh. "Makanya gue yang ngomong."

"Lo masih kepikiran empat lembar itu?" tanya Damar.

"Iya," jawab Almaz tanpa menoleh.

"Masih nggak nemu titik terangnya?"

Almaz menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya lewat hidung. "Belum, Bang."

"Yaudah, anggap hari ini buat dapet angin seger."

"Gue udah baca berkali-kali dari sudut pandang mana pun." Ia menelan ludah. "Kalau memang ada petunjuknya di situ, harusnya gue udah nemu dari kemarin."

Damar mengangguk, melirik sekilas ke arah Almaz.

Almaz menutup matanya sejenak, menghela napas lelah.

Lampu teras beberapa rumah sudah dimatikan. Cahaya lampu jalan yang sesekali memantul di kaca mobil.

Laju SUV hitam melambat, lalu berhenti dengan mulus di tepi jalan beberapa meter dari rumah Aulia. Lampu teras menyala kuning, memantulkan bayangan tiang dan pot-pot bunga ke atas lantai.

Almaz mendorong gagang pintu mobil, lalu melangkah keluar. Udara malam menyapa kulit wajahnya.

Damar ikut turun, memasang earphone ke telinga Almaz.

"Buat apaan?" Almaz menyentuh earphone yang terpasang di telinganya.

"Gue bisa denger yang lo omongin di dalem sana." Damar menyetel frekuensi perangkatnya dengan earphone Almaz. "Jangan coba-coba ninggalin pesan, gue bisa pantau dari sini." Ia menunjuk teropong di dalam dashboard mobil.

"Nggak percayaan amat." Almaz memegang kabel kecil yang menjuntai dari telinganya. Ia memeriksa benda itu sebentar.

Damar berdiri di samping pintu mobil. "Suara gue kedengeran?"

Almaz mengangguk. "Jelas."

"Bagus."

Damar menatap Almaz beberapa detik. "Lo ambil barang, ngobrol seperlunya."

Almaz tersenyum tipis. "Kayak tahanan dikasih waktu ketemu keluarga."

"Anggap aja begitu."

Senyum Almaz perlahan menghilang. "Oke."

Damar menepuk bahu Almaz sekali. "Jangan bikin gue susah."

Lihat selengkapnya