Rumah Aulia kembali ke dalam kesunyian malam. Di ruang tengah, Ibu Aulia memegang gelas teh manis yang disiapkan untuk Almaz yang sudah pergi sebelum ia masuk ke ruang tengah.
Ibu Aulia meletakkan pelan gelas teh manis ke atas meja. Ia merapikan lembar catatan yang berserakan di atas meja kayu. Tangannya terulur merapikan tepian taplak. Gerakannya mendadak terhenti ketika jemarinya menyentuh selembar kertas putih yang terlipat rapi di sudut meja.
Ibu Aulia mengangkat kertas tersebut. Ia membuka lipatannya, lalu membaca beberapa baris pertama. Alisnya berkerut tipis. Matanya menangkap untaian kalimat tentang bersih-bersih rumah, debu, dan sudut ruangan yang kusam.
"Cerpen?" gumamnya pelan. Ia membalik kertas tersebut ke bagian belakang.
Aulia melangkah masuk ke ruang tengah, meletakkan ponselnya ke atas meja. Panggilan teleponnya ke Pak Broto belum tersambung sejak ia masuk ke dalam kamar.
Ibu Aulia melangkah menghampiri putrinya, membawa kertas di tangan. "Aulia."
Aulia berhenti, menoleh ke arah ibunya. "Apa, Bu?"
Ibu Aulia menyerahkan kertas putih. "Ini tadi Ibu temukan di atas meja ruang tengah. Nggak tahu punya siapa."
Aulia menerima kertas dari tangan ibunya. Ia membaca kalimat demi kalimat. Napasnya tertahan. Matanya melebar sesaat.
"Ini..."
Aulia meraih ponselnya kembali. Ia menekan kontak Pak Broto untuk kesekian kalinya. Ia menempelkan ponselnya ke telinga.
"Ada apa Aulia? Kamu telepon saya berkali-kali."
"Pak, Almaz tadi kesini, dia ninggalin sesuatu."
"Apa?"
Aulia menatap kertas di tangannya. "Cerpen."
Pak Broto terdiam sejenak. "Cerpen?"
"Iya. Tapi saya nggak tau ini tulisan Almaz atau bukan."
"Kamu yakin itu pesan dari dia?"
"Saya nggak yakin, pak." Aulia membaca tulisan tangan di atas kertas. "Abde sama Xavier harusnya kenal tulisan ini kalo ini bener dari Almaz."
"Oke. Simpan dulu. Saya lagi jalan pulang ke sana sekarang."
"Baik, Pak."
Sambungan terputus. Aulia menurunkan ponselnya.
Ibu Aulia berdiri di sampingnya menatap lurus wajah Aulia. "Memangnya kenapa kalau Almaz yang nulis?"
Aulia mengangkat wajahnya, menatap ibunya. "Almaz nggak mungkin capek-capek ninggalin cerpen di meja rumah kita tanpa alasan yang besar, Bu.
"
Lima belas menit kemudian, suara mesin kendaraan terdengar berhenti halaman depan. Aulia bergegas membuka pintu. Di luar, Pak Broto melangkah turun dari mobil, disusul oleh Abde dan Xavier yang mengekor di belakangnya.
Pak Broto berhenti tepat di hadapan Aulia. "Mana?"
Aulia menyerahkan kertas cerpen tanpa suara. Pak Broto menerimanya, membacakan beberapa baris pertama dengan matanya yang menyipit. Ia menyerahkan kertas tersebut ke Abde yang berdiri di sampingnya.
"Ini tulisan Almaz?" tanya Pak Broto.
Abde menerima kertas itu, mendekatkannya ke arah cahaya lampu gantung. Ia mengangkat wajahnya, menatap Pak Broto. "Ini... bener tulisan Almaz."
"Iya. Ini tulisan tangan dia." Xavier mengambil alih kertas dari tangan Abde. "Tapi..."