HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #44

42. MERCUSUAR

Dengung pendingin ruangan berputar menghantarkan udara dingin yang menusuk kulit di balik dinding-dinding steril kediaman Bambang.

Almaz duduk di sisi kiri meja, kedua sikunya menumpu di atas permukaan kayu. Di sebelah kanannya, Damar dan Raka berdiri membungkuk, memandangi peta kontur laut yang digelar di samping lembaran log ekspedisi Hendrick.

"Gue masih mentok di sini." Damar menunjuk satu baris catatan di lembar ketiga menggunakan ujung pulpennya. "Bagian setelah badai ini bener-bener buta."

Almaz mengalihkan pandangannya ke bagian log yang ditunjuk Damar. "Tunggu."

Damar menoleh cepat, alisnya bertaut. "Apa?"

"Bagian ini..." Almaz menarik salinan lembar ketiga itu sedikit lebih dekat ke hadapannya, merapikan posisinya dengan ujung jari. "Lihat urutannya. Hendrick nggak lagi nyatet ke mana arah angin."

Damar ikut mencondongkan badan, matanya menyusuri arah telunjuk Almaz.

"Kalau catatan ini bukan sekadar jurnal harian pelayaran biasa..." Almaz berhenti sejenak. "...berarti Hendrick sedang meninggalkan jejak."

Damar menatap mata Almaz. "Jejak ke mana?"

"Gue belum tahu nama pulaunya."

"Tapi lo yakin?"

Almaz kembali menunduk, menatap baris-baris kalimat di atas kertas. "Sekarang gue ngerti maksud pola penulisannya," jawab Almaz.

Damar menarik kursi di sebelah Almaz, lalu duduk kembali. Ia mengambil salinan lembar kedua, meletakkannya berdampingan dengan lembar ketiga. "Kalau begitu, kita bandingin semuanya."

Almaz mengangguk.

Damar menyusun keempat lembar itu berdasarkan urutan tanggal. "Di sini dia masih nyatet posisi."

Raka menunjuk bagian atas lembar pertama. "Iya."

"Terus di lembar berikutnya posisi berubah."

Almaz menggeser jarinya mengikuti garis tulisan. "Dan setelah badai, dia berhenti."

Damar menatap Almaz. "Bukan berarti dia berhenti mencatat."

Almaz menggeleng. "Dia berhenti ngasih posisi."

Raka mengambil pensil, lalu membuat beberapa tanda kecil di kertas kosong. "Kenapa?"

Almaz menatap empat lembar itu bergantian. "Karena mungkin posisi bukan lagi bagian terpenting dari catatannya."

Damar menyandarkan punggung. "Terus apa?"

Almaz mengangkat bahu. "Tempat."

Raka menoleh. "Tempat?"

"Dia mulai lebih banyak mendeskripsikan apa yang dia lihat."

Damar kembali menunduk. Suara pendingin ruangan dan gesekan pensil Raka di atas kertas.

"Kalau begitu, kita cari semua tempat yang deskripsinya mirip."

"Selama ini kita keliru nyari lokasi persis tempat karamnya kapal Hendrick..." Almaz mengangguk pelan. "Padahal yang harus dicari pola pergerakan dan petunjuk yang ditinggalkan di daratan."

"Spesifikasi pulaunya?"

Almaz menarik lembar terakhir, menunjuk bagian bawah teks. "Pulau yang tidak lagi dihuni manusia." Ia menaikkan dagunya. "Dan punya bangunan peninggalan yang masih berdiri kokoh di atas tebingnya."

Suara langkah kaki mendekat dari arah pintu. Bambang melangkah masuk ke ruang kerja.

"Kalian menemukan sesuatu?"

Almaz menoleh ke arah Bambang. "Saya rasa iya."

Bambang melangkah mendekat, berdiri di sisi meja, menatap salinan log yang ditunjuk Almaz. "Jelaskan."

Almaz menunjuk lembar dokumen tersebut dengan ujung pena. "Kita selama ini membaca log ini sebagai catatan perjalanan biasa. Padahal, Hendrick kasih petunjuk lokasi aset di balik deskripsi tempat itu."

Bambang menunduk, membaca baris-baris yang ditunjuk Almaz. "Petunjuk lokasi?"

Almaz mengangguk. "Kemungkinan besar, tempat penyimpanan itu nggak pindah sejak kapal mereka dateng."

Bambang menegakkan tubuhnya, mengalihkan pandangan ke Damar dan Raka. "Cari semua pulau di wilayah selatan yang memenuhi spesifikasi petunjuk itu. Sekarang."

Damar berdiri. "Berapa luas wilayah yang mau kita cari?"

"Seluruh wilayah yang masuk kemungkinan jalur Hendrick."

"Kalau pakai jalur pelayaran dan perubahan arus, bisa puluhan titik."

"Kalau begitu coret satu per satu."

Raka mengambil laptop dari ujung meja. "Kita butuh data pulau yang sudah tidak dihuni."

"Ambil."

"Data bangunan kolonial juga?"

Bambang mengangguk. "Semua."

Almaz kembali menatap kertas di hadapannya. Ia menahan senyum.

Di ruang tengah rumah Aulia, aroma kopi dingin dan kertas-kertas peta kuno dibentangkan memenuhi permukaan meja.

Pak Broto berdiri di sisi meja, Aulia, Abde, dan Xavier duduk mengelilinginya. Cerpen akrostik buatan Almaz tergeletak berdampingan dengan salinan log ekspedisi Hendrick.

Abde menunjuk wilayah luas di atas peta navigasi digital di laptopnya. "Kalau garis haluannya ditarik ke arah Laut Selatan setelah badai, cakupan wilayahnya seluas ini. Terlalu banyak titik."

Xavier mengetukkan ujung pensilnya dj catatan kecil di samping peta. "Tapi kita punya satu saringan tambahan yang nggak dimiliki orang lain."

"Pulau yang ditinggalkan," sambung Aulia.

"Dan bangunan mercusuar," tambah Pak Broto. Ia menatap peta. "Kita nggak lagi nyari pulau berpenghuni. Kita nyari pulau mati yang menyimpan sisa sejarah."

Aulia mengambil pensil merah. Ia membuat garis dari satu catatan ke catatan lain di atas salinan log. "Kalau ini benar-benar petunjuk tempat, berarti deskripsi Hendrick harus punya pasangan di dunia nyata."

Abde mendekat. "Contohnya?"

"Kalau dia menyebut garis pantai, kita cari garis pantai."

Xavier menunjuk layar. "Kalau dia menyebut tebing?"

"Cari tebing."

Lihat selengkapnya