HARTA KARUN VOC

Arata Kaivan
Chapter #45

43. PULAU TANPA NAMA

Langit di atas pelabuhan kecil tertutup kelambu awan rendah berwarna kelabu pekat, memantulkan bias cahaya pucat ke permukaan air laut yang bergulung tenang. Di atas geladak kapal sewaan, tumpukan logistik, jerigen bahan bakar cadangan, serta peti-peti peralatan lapangan diikat kencang menggunakan tali tambang tebal.

Beberapa orang anak buah Bambang bergerak dari satu sisi geladak ke sisi lainnya. Sebagian memeriksa tali pengikat peti, sementara yang lain mengangkut perlengkapan dari bagian belakang kapal. Suara langkah kaki mereka bercampur dengan bunyi peti kayu yang diletakkan di atas lantai geladak.

Damar berdiri di antara mereka, memeriksa daftar perlengkapan yang ada di tangannya. "Yang itu masuk ke kabin belakang." Ia menunjuk sebuah peti. "Jangan ditaruh di luar."

Salah seorang anak buah mengangguk, segera mengangkat peti tersebut bersama rekannya.

Di sisi lain geladak, Raka memeriksa perlengkapan lain. Ia membuka salah satu peti, memastikan isinya sesuai, lalu menutupnya kembali. "Air minum sudah?"

"Sudah, Bang."

"Cadangan?"

"Empat jerigen."

Raka mengangguk. "Amankan semuanya."

Salinan log ekspedisi Hendrick dan peta laut maritim terbaru terbentang di atas meja navigasi kecil di dalam kabin kemudi.

Almaz berdiri di sisi palka depan, mengenakan jaket windbreaker gelap. Pandangannya sesekali beralih dari laut ke aktivitas anak buah Bambang yang memenuhi geladak.

Damar kembali menghampirinya setelah memastikan perlengkapan terakhir sudah diamankan. "Lo lihat sendiri kan? Lo punya banyak fasilitas."

Almaz melirik beberapa orang yang masih bekerja di belakang mereka. "Kelihatannya begitu."

"Kalau sampai ada apa-apa di pulau, mereka yang pegang perimeter." Damar menunjuk ke arah anak buah Bambang dengan dagunya. "Gue sama Raka yang koordinasi."

Raka yang berada beberapa meter dari mereka menoleh. "Bagian depan sama sisi kanan gue," katanya kepada salah satu anak buah. "Jangan ada yang jalan sendiri."

"Siap, Bang."

Damar mengalihkan pandangan ke sisi lain kapal. "Yang belakang ikut gue."

"Siap."

Almaz kembali memandang laut.

Bambang melangkah keluar dari kabin utama, merapikan kerah mantelnya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kapal.

"Semua sudah diangkut?" tanya Bambang, suaranya bersaing dengan deru mesin diesel kapal yang mulai dinyalakan.

Damar mendongak, menyeka peluh di dahinya.

"Sudah, Bos. Logistik aman, bahan bakar cukup sampai titik koordinat."

Bambang mengalihkan pandangannya kepada Almaz yang berdiri di tepi geladak. Ia melangkah mendekat. "Kamu yakin lokasinya benar-benar di titik itu?"

Almaz menunduk sejenak ke arah peta di tangan Raka. "Kalau Anda ragu. Kita batalkan saja, Pak."

Bambang mengangguk sekali. "Kalau begitu, kita berangkat."

Mesin kapal berderu lebih keras, menghasilkan kepulan asap tipis dari cerobong belakang. Tali tunda dilepaskan dari pelabuhan, dan lambung kapal mulai membelah air, meninggalkan daratan utama di belakang mereka.

Perjalanan laut berlangsung dalam keheningan yang panjang. Lambung kapal bergerak naik turun secara, membentur deburan air.

Di dalam kabin kemudi, salinan log Hendrick dan peta maritim tetap terbentang di atas meja kecil. Almaz duduk di bangku sudut, sesekali membuka kembali catatan Hendrick.

Damar melirik ke arah Almaz. "Lo masih baca terus?"

Almaz mengangkat wajahnya sekilas. "Iya."

"Padahal pulaunya udah ketemu di atas peta. Buat apa dibaca lagi?"

Almaz menutup salinan log itu perlahan.

"Nemuin lokasinya di peta bukan berarti asetnya pasti masih ada di tempat yang sama setelah ratusan tahun," jawab Almaz.

Damar terdiam sejenak. "Masuk akal juga."

Raka, yang berdiri di samping kemudi, ikut menoleh, menunjuk garis koordinat di peta. "Menurut lo, aset itu bakal wujudnya seperti apa di sana?"

Almaz menatap lurus ke arah peta di hadapannya. "Kalau Hendrick benar-benar menyembunyikannya sesuai catatan, harusnya masih ada di tempatnya."

Perjalanan dilanjutkan dalam sunyi. Suara mesin kapal mendominasi segala ruang. Sesekali terdengar bunyi kertas peta yang dibentangkan, gesekan ujung pensil Damar yang mencatat waktu tempuh, atau tatapan kosong ke arah cakrawala laut lepas yang tak bertepi.

Almaz mengalihkan pandangannya keluar jendela kabin. Ia menatap bentangan air laut berwarna biru gelap yang tak berujung.

Suhu udara di luar kabin semakin dingin seiring laju kapal yang terus memotong arus selatan.

Bambang melangkah mendekati meja navigasi, menatap layar kecil perangkat GPS kelautan yang berkedip-kedip menampilkan koordinat.

"Berapa jam lagi?"

Damar memeriksa arloji dan catatan waktu di sisinya. "Sebentar lagi, Bos. Kalau kecepatan angin stabil, kita harusnya sudah masuk area perairan pulau itu."

Raka menatap lurus ke luar jendela kaca depan yang basah oleh cipratan air laut. "Harusnya daratannya sudah mulai kelihatan dari sini."

Almaz tetap diam di tempat duduknya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang tegang. Damar melirik Almaz dari sudut matanya. "Lo dari tadi diam terus."

Almaz menoleh perlahan. "Lagi mikir."

"Mikir apa lagi?"

Almaz kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela, menatap garis cakrawala yang mulai kabur di balik kabut tipis. "Apa yang bakal kita temuin di sana."

Damar mendengus pelan, lalu kembali fokus pada layar navigasi.

Raka berdiri paling depan di dekat anjungan, matanya menyipit menembus tirai kabut tipis laut selatan. "Itu." Ia menunjuk lurus ke depan.

Damar mendongak, mengikuti arah telunjuk Raka. "Yang mana?"

"Itu, di depan. Ada bayangan daratan."

Bambang melangkah cepat ke anjungan depan, mengangkat teropong monokular kecil ke depan matanya. Almaz bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati jendela kaca anjungan, ikut menatap ke arah bayangan hitam yang mulai memotong garis horizon.

Pulau itu semakin lama semakin jelas terlihat. Gugusan tebing batu karang hitam yang curam, menjulang tinggi menantang hantaman ombak besar, dikelilingi buih putih air laut yang pecah di atas karang mati.

Bambang menurunkan teropongnya, lalu membuka kembali salinan log Hendrick di tangan Raka.

Raka mencocokkan titik di peta. "Sesuai. Garis tebingnya sama persis dengan catatan Hendrick."

Bambang menarik napas panjang, ia tersenyum tipis. "Kita sudah sampai."

Almaz berdiri di sudut anjungan, menatap daratan sunyi itu dalam diam.

Lihat selengkapnya