Halaman utama kampus siang itu berubah menjadi lautan toga hitam, topi berumbai kuning, dan tawa renyah bercampur isak tangis keluarga yang memadati setiap jengkal selasar. Suara pengeras suara memanggil nama-nama wisudawan bergantian, disusul tepuk tangan riuh yang memantul di antara dinding-dinding beton gedung rektorat.
Di tengah kerumunan manusia yang berdesakan, Xavier dan Abde berdiri berdampingan, mengenakan jubah toga tebal.
Xavier memegang map tebal berisi ijazah dan lembar kelulusannya dengan kedua tangan, Abde melonggarkan ikatan dasinya sedikit demi sedikit sambil mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya selesai juga," gumam Abde, suaranya tenggelam di antara bisingnya suara percakapan orang-orang di sekitar mereka.
Xavier ikut mengembuskan napas, bahunya merosot. "Skripsi kita ternyata beneran jadi."
"Setelah semua yang kita alami, kalau sampai nggak jadi, itu namanya tolol," balas Abde.
Xavier tertawa. Ia membuka map hitam di tangannya, menatap sejenak sampul luar skripsi mereka yang resmi disahkan dewan penguji. Judul besar penelitian sebuah karya ilmiah sejarah yang di dalamnya merangkum jejak pelayaran, perburuan, dan penemuan aset Hendrick yang hampir merenggut kewarasan mereka.
"Kalau bukan karena perjalanan ke pulau itu, gue nggak tahu kita bakal punya bahan sebanyak ini buat dibikin skripsi." Pandmavan Xavier menerawang menatap kerumunan mahasiswa yang sedang berfoto bersama keluarga.
Abde menoleh tersenyum tipis. "Bahan, ya?"
"Iya. Setengah isi skripsi kita isinya kejadian yang dulu bikin kita nggak bisa tidur tiap malam," jawab Xavier.
Abde tertawa lepas.
Mereka berdiri diam sejenak, memandangi bangunan kampus tempat mereka menimba ilmu.
"Tapi dia nggak di sini, Xav."
"Proses hukum emang ribet," jawab Xavier.
"Dia harus ngulang lagi satu semester."
Xavier menoleh ke arah Abde. "Selesai ini kita tengokin."
"Bawain apa aja?"
"Ijazah kita lah, pamerin ke dia."
Abde menepuk kepala Xavier. "Lo kayak Bambang. Jahatnya sampe ke tulang."
Jauh dari keramaian wisuda kampus yang riuh, suasana di dalam kamar kerja Aulia senyap dan terkunci dari dunia luar. Cahaya matahari menyusup lembut lewat celah tirai jendela, menyinari permukaan meja kayu tempat laptop terbuka lebar menampilkan lembar kerja kosong yang dipenuhi teks.
Di sekitar laptop, tumpukan buku sejarah kolonial, peta maritim kuno, dan catatan-catatan tangan berhamburan. Selembar cerpen berlipat milik Almaz terselip rapi di bawah buku catatan harian Aulia.
Aulia duduk tegak di kursi kerjanya. Jari-jarinya bergerak di atas papan tombol keyboard, mengetik paragraf demi paragraf. Ia berhenti sejenak, membaca ulang kalimat terakhir yang baru ia ketik di layar, lalu menghapusnya. Ia mengetik ulang kalimat itu dengan sudut pandang yang lebih objektif.