Udara dingin sisa embun malam melekat di dinding-dinding beton tinggi, dikelilingi kawat berduri melingkar di atas gerbang utama yang berkarat. Mobil Pak Broto menepi perlahan di area parkir khusus tamu.
Pak Broto membuka pintu mobil lebih dulu, melangkah keluar. Di belakangnya, Aulia, Abde, dan Xavier menyusul turun berurutan.
Abde berdiri menyandarkan punggungnya sejenak di kap mobil, matanya menatap lurus ke arah pintu masuk utama penjara. "Akhirnya nyampe juga."
Xavier mengangguk di sampingnya, merapatkan jaketnya menahan angin pagi. "Iya."
Pandangan Aulia terpaku ke arah pintu besi tebal di seberang halaman. Pak Broto berdiri sedikit di depan mereka.
Seorang petugas berseragam keluar dari balik pintu pos, membawa map kecil di tangan, lalu memberikan isyarat anggukan kepala ke arah mereka.
Gerbang besi bercat hijau tua berderit nyaring ketika didorong terbuka dari bagian dalam. Almaz melangkah keluar melewati ambang pintu. Ia berhenti sejenak di anak tangga luar, matanya menyipit menatap cahaya matahari pagi yang menghantam wajahnya setelah beberapa bulan mendekam di balik tembok gelap.
Pandamgannya bergerak ke arah Pak Broto, beralih ke Abde, lalu ke Xavier. Tatapannya berhenti di Aulia.
Aulia tersenyum tipis. "Maz."
Almaz melangkah menuruni anak tangga, mendekati mereka. "Kalian datang semua."
Abde langsung melangkah maju, menepuk bahu Almaz. "Ya masa kita tinggalin lo sendirian di tempat jahanam kayak gini."
"Tadinya gue mau ninggalin lo aja di dalem sana karena lo belok ke musuh." Xavier ikut tersenyum, menyusul merapat. "Eh diomelin pak Broto."
"Kamu jangan fitnah ya, Xav," sahut pak Broto.
Almaz tertawa kecil.
Pak Broto melangkah mendekat, lalu mengangkat tangannya, menyentuh bahu Almaz dengan lembut. "Bagaimana kabarmu?"
Almaz menatap mata Pak Broto, lalu mengangguk hormat. "Baik, Pak."
Mereka mulai berjalan berdampingan meninggalkan area halaman penjara menuju mobil yang terparkir di luar pagar.
Almaz berhenti beberapa langkah dari gerbang. Ia menoleh ke belakang. Matanya menyapu dinding beton tinggi yang selama beberapa bulan terakhir menjadi batas antara dirinya dan dunia luar.
"Kenapa?" tanya Abde.
Almaz menggeleng pelan. "Nggak."
"Terus kenapa berhenti?"
Almaz memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. "Cuma mau lihat terakhir kali."
Xavier ikut berhenti. Ia menatap bangunan penjara itu sebentar, kemudian kembali melihat Almaz. "Jangan bilang lo kangen."
Almaz mendengus. "Nggak segila itu."
Abde tertawa. "Bagus. Gue juga nggak mau balik lagi cuma buat jemput lo kalau lo sengaja masuk."
Almaz berbalik. Ia menatap jalan di depannya.
"Ayo," ujar Pak Broto.
Almaz mengangguk.
Aulia memperlambat langkahnya sampai sejajar dengan Almaz. Beberapa detik mereka berjalan tanpa bicara.
Aulia melirik wajah Almaz dari samping. "Lo kurusan."
Almaz menoleh. "Serius?"
"Iya."
"Berarti makanan penjara berhasil."
Aulia mengerutkan kening. "Nggak lucu."
Almaz tersenyum tipis.
Aulia kembali menatap lurus ke depan. "Lo nggak apa-apa?"