Duniaku hancur kala melihat dia yang menjadi satu-satunya alasanku bertahan, justru meninggalkanku dengan cara yang tragis. Dengan sekuat tenaga, aku berusaha bangkit, berjalan tertatih untuk memeluk tubuhnya.
"Berikan pada saya. Saya mohon," pintaku begitu lirih.
Asistennya itu melirik padanya. "Madam, saya berikan atau dibuang saja?"
Aku menggeleng, berbalik, dan menggapai kakinya. Terisak pilu. "Madam, saya mohon berikan dia pada saya. Saya mau menguburnya dengan layak. Dia satu-satunya keluarga yang saya miliki. Jika Anda mengabulkannya, saya berjanji akan melakukan apa saja yang Anda perintahkan. Saya tidak akan membantah atau pun melarikan diri lagi."
Bukan rasa iba dan belas kasihan, justru dia menyeringai puas melihatku yang tidak berdaya.
"Apa saja?"
Aku mengangguk tanpa ragu. "Apa pun itu. Asalkan Anda berikan dia pada saya. Perintah Anda pasti akan saya lakukan dengan baik."
"Berikan padanya. Benda menjijikkan itu biar dia yang urus."
"Baik, Madam."
Tanganku terangkat, memeluknya begitu erat. Dengan gemetar, aku sentuh matanya yang tidak tertutup. Bisa aku rasakan, lehernya patah. Pasti dia sangat kesakitan.
Aku bersalah. Aku penyebab dia mati.
"Anak yang malang. Maafkan aku, Bintang. Maafkan aku."
Madam dan asistennya itu pergi. Meninggalkanku dengan luka yang entah akan sembuh atau malah menjadi luka kebencian.
"Bintang, aku hanya punya kamu. Tidak ada manusia yang menginginkanku. Hanya kamu yang mau bersamaku. Menemaniku dan menghiburku kala hatiku sesak. Hanya kamu yang tulus."
Lihatlah, dia seperti tersenyum padaku. Seolah mengatakan, 'Jangan bersedih, Haruna. Hapus air matamu'.
Saat tanganku mengelus lembut kepalanya, air mataku semakin tak terbendung. Jatuh membasahi wajahnya. Dia, kucing yang paling aku sayangi.
"Bintang, apa kamu ingat dengan awal pertemuan kita? Hari itu, kamu datang dengan bulu yang lusuh. Tubuh yang kurus. Aku pikir, aku yang paling kasihan."
Aku menggeleng, mengingat kembali ke masa di mana aku ingin mengakhiri hidup.
"Lebih baik aku mati."
Aku berjalan, menelusuri jalan setapak yang jarang dilalui. Tempat itu sangat jauh dari pemukiman warga. Tak seorang pun yang tahu, kalau di sana ada begitu banyak perempuan, laki-laki, mau pun anak kecil yang di sekap.
Aku menatap lurus ke depan. Jika berjalan dua puluh menit lagi, aku akan bertemu jalan raya. Tapi, semua akan sia-sia. Jalan raya itu juga sangat jarang di lalui orang. Pada akhirnya, aku akan tertangkap kembali.
Jadilah aku memilih jalan menuju jurang yang cukup dekat dengan keberadaanku. Ketika sampai dan akan melompat, hewan berbulu itu mendadak berada di kakiku.
"Menjauh. Jangan dekat-dekat denganku."
Kucing putih itu semakin mendekat, mengendus, dan mengelilingiku. Dia terus mengeong, menatapku dengan tatapan begitu dalam.
Sebuah ranting aku arahkan padanya. "Aku bilang jangan mendekat. Pergi."
Kucing itu tiba-tiba melompat dan membuatku terkejut. Aku pun tergelincir. Tubuhku sakit, namun semua sirna kala melihat sorotnya yang sendu. Dia sudah berada di atas tubuhku.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa menatapku seperti itu?"
Hanya tatapannya saja mampu menggetarkan hatiku. Di tambah, suaranya yang lembut. Ada rasa hangat yang perlahan menelusup masuk membuatku merasa nyaman.