Teriakan heboh menggema setelah sang kapten berhasil mencetak satu angka untuk timnya, selebrasi pun tak lepas ditengah jalannya pertandingan, setelah gerakan selebrasi tangannya langsung kembali menerima bola, tepat sesuai perhitungan.
Pertandingan kembali berlanjut dengan sengit, tim lawan tak terlihat ingin mengalah meski selisih skor mereka cukup jauh, dengan sedikit taktik, tim lawan berhasil merebut bola, digiring dan dilempar keatas ring.Tapi sepertinya ini memang bukan panggung mereka, bola meleset dan skor gagal didapatkan.
Peluit berbunyi, pertandingan berakhir. Kedua tim bermain dengan sportif, semua merasa puas dengan hasil pertandingan. Sejauh yang kulihat, tidak ada dendam dari kedua belah pihak.
“Ayo runi! Kita harus turun” Senior Naya menarik tanganku, bergegas menghampiri sekelompok anak berseragam basket.
“Hai Nayanika” Salah satu dari mereka menyapa senior dengan mengangkat tangan. Senior Naya membalas salam hangatnya dengan ikut mengangkat tangan, tos.
“Hei Baskara! Seseorang ingin bertemu denganmu, lebih tepatnya dua orang”Ia mengkoreksi kalimatnya setelah melirikku.
Beberapa anggota tim basket menyingkir memberi kami jalan. Meski bau dari keringat mereka sangat mengangguku, aku tidak bisa menutup hidung dan berpura-pura tidak mencium bau itu demi menghormati tim yang telah mengharumkan nama sekolah.
Seseorang keluar dari gerombolan bau itu dan menghampiri kami, dengan peluh yang masih mengalir serta senyum puas atas pertandingan. Aku bisa melihat wajahnya yang lebih antusias dibanding saat peluit tanda berakhir pertandingan berbunyi. Seakan menemukan oasis ditengah padang pasir.
“Hai, Nay, kau merindukanku? “ Senior Naya menghela nafas kasar, bisa kurasakan perasaan muak darinya.