Harus lupa

naraaa
Chapter #2

BAB 2

“Kerja bagus, Runi…kau sukses dalam tugas pertamamu, ditambah lagi narasumbermu adalah Baskara. Yaah.. aku tau kau hanya diam saja dan memperhatikan, tapi, terlepas-”

“Tidak, senior” Aku memotong kalimat senior Asa begitu kurasa ada yang salah. Hanya diam saja? Akulah yang mewawancarai orang dalam laporan itu, tentu aku harus meluruskan kesalahpahaman ini.

Wajah senior Asa terlihat bingung, “kau berhasil membuat Baskara menjawab pertanyaan mu? Baiklah, mungkin dia mau menjawabnya karena kau anak baru, dia tidak ingin popularitas nya jatuh dihadapan anak kelas 1” Senior Asa berucap sembari tangannya melepas kacamata lalu membersihkannya dengan hati-hati.

Hari ini jurnal mingguan klub dipajang di seluruh mading sekolah, dan salah satu jurnal yang dipajang adalah hasil laporan ku bersama senior Naya tentang kemenangan klub basket minggu lalu. Aku tahu senior Naya sangat berpengalaman dan tentu lebih baik dariku di bidang ini. Namun, bukan berarti aku diam saja saat melakukan wawancara. Senior Naya lah yang menyuruhku untuk melakukan wawancara, “Runi, aku hanya akan diam saja dan fokus pada dokumentasi, untuk wawancara nya, kuserahkan padamu”.

Dan tentu aku berusaha untuk menuruti senior yang menjadi panutanku, lalu dengan seenaknya si kacamata ini bilang aku hanya diam saja?!.

“Omong kosong apa yang kau ucapkan didepan Runi” senior Harsa si ketua klub tiba-tiba masuk, menjadi penengah diantara kami. 

“Kau bilang omong kosong” Senior Asa sedikit terganggu.

“Tentu saja, Runi bukankah Nayanika hanya sibuk dengan kamera? Kau tak perlu dengarkan dia, pergilah, jangan hiraukan”

Dengan raut bingung aku mengangguk, pergi? Yang benar saja, apa aku boleh melakukan hal tidak sopan itu. Meski senior Asa tidak menghargai usahaku sebagai jurnalis baru, bukankah aku harus tetap bersikap baik. 

Tangan senior Harsa terus mengusir ku, pergi, pergi. Begitu juga gerak mulutnya. Baiklah, tidak ada untungnya aku tetap berada disini dalam kondisi ini. 


:D

Nayanika

Aku menghela nafas lega, foto yang kuambil sebagai dokumentasi di lapangan basket minggu lalu telah sempurna hilang, aku menghapus semuanya. 

Dua tahun bergabung di klub jurnalistik membuatku memiliki dokumentasi seluruh klub sekolah, kecuali klub basket. Entahlah, jujur saja aku merasa bersalah setiap kali menghapus foto-foto mereka di kameraku, tapi aku juga tidak bisa menyimpan foto itu, aku tidak suka. Terlalu kasar jika aku bilang membenci mereka, karena aku menyukai mereka yang selalu menyambut baik kehadiranku. 

Otak dan hatiku sadar bila menghapus setiap foto mereka, dan hanya foto mereka itu tidak adil, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak suka. 

Lihat selengkapnya