Di tengah keramaian kafe itu, Ensia bak awan putih mungil nan elok di tengah kumpulan awan-awan yang lebih besar. Sendirian, bibirnya menghisap sedotan dari teh matchanya. Pandangannya menerawang ke depan. Orang berbincang di meja mereka. Beberapa melewati mejanya tanpa menengok. Agak jauh di luar, lalu lintas petang makin ramai. Lampu halogen di jalanan kontras dengan cahaya kuning teduh di dalam kafe.
Ensia sudah sering ke kafe itu. Selalu sendirian. Ia makin terbiasa dengan suasananya. Santai, cukup penuh orang namun tidak berisik, musiknya pun lamat-lamat di latar belakang. Ia menopang dagunya dengan tangannya. Pandangannya menyapu seluruh ruangan dari ujung ke ujung. Merasakan kontras antara suasana di luar sana dengan batinnya di dalam sini.
“Hmm,. . . .” pikirnya. “Jika saja ada seorang pria bersenjatakan senapan masuk ke kafe ini lalu mulai menembak membabi-buta barangkali akan seru.”
Sejenak ia berpikir lagi.
“Ah, barangkali penembakan massal itu terlalu seram,” batinnya lagi. “Bagaimana kalau perselingkuhan saja? Pria yang sedang bersama wanita di ujung ruangan itu dipergoki istrinya, lalu istrinya menyiramkan sup panas ke keduanya. Pasti akan menjadi tontonan seru.”
Tapi itu semua hanya khayalan di benaknya. Ia menghabiskan sisa croissantnya, lalu menghabiskan teh matchanya. Tangannya lalu meraih ponsel dan tas kecilnya. Ia beranjak meninggalkan kursinya dan melangkah ke luar. “Terima kasih kunjungannya, kakaak!” seorang staf menyapanya ramah di dekat pintu luar. “Kakak suka ya disini? Kami tunggu kunjungannya lain hari.”
Ensia membalas sapaan itu dengan senyum tipis nyaris datar.
Ia berjalan menyusuri komplek pertokoan itu. Sejenak ia berhenti, berdiri di depan sebuah kedai kopi kondang. Matanya mengarah ke jalan, ke mobil dan motor yang berseliweran, ke arah pasangan-pasangan yang menyusuri trotoar sambil bergandengan tangan, ke arah langit yang kelam. Semua itu hadir berkelebat dalam ruang pengalamannya tanpa menyentak, tanpa membelai. Angin terasa mati. Udara gerah pelan merambati wajah, leher dan punggungnya.
Ia berbalik badan. Kakinya sekarang mengarah ke sebuah kafe cukup besar. Ia berdiri di depan bar nya. Seorang bartender mendekatinya.
“Ya, Kak, ada yang bisa saya bantu?”