HARUSKAH KUAKHIRI KISAH INI

Atis Dee Jay
Chapter #2

2. TENGGELAM DI TELAGA PRAMONO


Hari menjelang siang dan Ensia masih termangu di bangkunya. Keriuhan ocehan teman-temannya menyodok-nyodok telinganya. Afni di sebelahnya masih sibuk bercerita, padahal Ensia sudah tidak lagi memperhatikan alurnya. Pandangannya menerawang ke depan kelas, tempat kursi dan meja dosen yang masih kosong. Mendadak suara Farrel, ketua kelasnya, menggeledek dari depan kelas: “Gaes! Dosennya sudah datang!” Serentak para mahasiswa yang masih kocar-kacir itu segera kembali ke bangkunya masing-masing. Obrolan yang tadi makin lama makin keras berangsur mereda, lalu mengerut menjadi bisik-bisik pelan. 

Seorang pria muncul di pintu, membawa tas laptop. Ensia masih ingat ucapan beberapa temannya beberapa menit yang lalu: “wah hari ini kita punya dosen baru. Moga ya cakep, gagah dan sabar, biar makin semangat belajar!”

“Pria kek gitu mah ga bakal jadi dosen,” kata seseorang. “Pasti lebih milih jadi model fitness!”

Betul juga ucapan jahil itu. Harapan para mahasiswi itu lenyap ketika sang dosen muncul di pintu. Pria itu itu bertubuh tidak tinggi. Kulitnya sawo matang, wajahnya cenderung halus dengan mata lebar, dan usianya sekitar 40 tahun ke atas. Namun gerak-geriknya mantap, pandangannya tegas menyapu seluruh ruangan, dan suaranya santun memberikan salam perkenalan dan sedikit alasan keterlambatannya. 

“Nama saya Pramono, panggil aja Pak Pram. Maaf saya terlambat. Tadi masih ada sedikit urusan di kantor Sumber Daya Manusia.”

Kuliahnya terasa agak datar tanpa banyak variasi humor. Namun penjelasannya lugas dan jelas. Beberapa kali ia dengan cerdik menyelingi ceramahnya dengan satu pertanyaan atau tugas kecil yang membuat mahasiswanya mengasah pikirannya.

Kuliah selesai. Begitu salam penutup dari Pram terucap, para mahasiswa serentak berdiri dan bergegas keluar dengan celotehan khas nya. Afni menengok ke Ensia yang masih duduk bersandar di tembok. “Kantin yuk?” ajaknya. 

“Kamu duluan gih, ntar aku nyusul,” jawab Ensia. “Lagi agak mager nih.”

“Lah, ntar kehabisan tempat?”

“Ga papa; aku bisa makan bekalku,” jawab Ensia. Afni pun berlalu sambil melambaikan tangannya.

Segera ia sendirian di kelas. Hanya tinggal dia dan Pak Pramono. Ensia terkesiap. Cepat ia mengemasi barang-barangnya dan bergegas melangkah dari bangkunya. Di dekat meja dosen, Pram menangkap pandangannya dan bertanya, “Eh, ini kotaknya dikembalikan ke mana ya?” Ia menunjuk wadah dari kain yang berisi remote AC, kunci ruangan, dan remote LCD. 

“Oh, itu biasanya dikembalikan ke lobi bawah, Pak,” kata Ensia. Entah bagaimana ia mengulurkan tangannya. “Mari saya bantu mengembalikan, Pak.”

Lihat selengkapnya