HARUSKAH KUAKHIRI KISAH INI

Atis Dee Jay
Chapter #3

3. CINCIN ITU


Ensia, lehernya jenjang, wajahnya tenang, melangkah dengan sepatu berhak sedang menyusuri koridor itu. Matanya agak memicing menahan serbuan cahaya sang mentari dari jendela kaca jauh di depan. Suara langkah sepatunya mengiringi debar jantungnya. Suara beberapa mahasiswa mengobrol berlalu lalang di telinganya, bak keramaian lalu lintas yang riuh namun tak bermakna. Dari ekor matanya, ia melihat beberapa mata pria berlabuh ke dirinya dan terjebak disitu. Tak sulit menebak alasannya. Enya wanita dengan tinggi rata-rata, berambut panjang sedikit bergelombang disemir coklat, dengan pinggang berlekuk elok, dan pinggul mengantar ke sepasang bokong padat, berakhir pada sepasang betis padat. Kedua matanya tidak lebar sehingga jika ia tertawa–satu hal yang amat jarang dia lakukan–mereka akan sedikit menyipit. Hidung bangirnya kecil, di atas sepasang bibir yang penuh. Pandangannya menyiratkan intensitas perhatiannya, seperti seolah bertanya apa kabar. Namun kesan itu hanya sekilas, selebihnya adalah tatapan setengah hampa yang serasa menembus orang yang sedang ditatapnya, melayang entah kemana. Ketika orang lain memandang wajahnya, mereka bak melihat sebuah kamar bermandikan cahaya lampu kuning yang rapi, nyaman, bersih, namun sepi sudah ditinggalkan penghuninya, entah karena mati atau pergi tak kembali.

Pria itu sedang duduk di sana, di kantornya, menekuni komputer mejanya. Ensia menengok ke dalam melalui jendela kaca; tangan kanannya dengan gugup memutar handel pintu. Macet! Sekali lagi ia putar. Pintu masih bandel tak terbuka.

Sang pria beranjak dari kursinya, berjalan menuju pintu, dan dengan senyum simpul memutar handel pintu dari dalam. Pintu terbuka dengan mudah.

"Makanya, gak boleh gugup kalau mau buka pintu saya," katanya. 

Ensia tersenyum. Melangkah masuk, ia menatap pria itu. Pendek, ramping, rambutnya sudah menipis sehingga nyaris botak, pria itu memandangnya balik dengan mata berbinar. "Kamu dari rumah? Ada kuliah hari ini?" ia bertanya.

Ensia mengiyakan. "Nanti jam sepuluh dua puluh," katanya. "Bapak ngajar juga kan nanti jam satu?"

"Wow, sampe hafal jadwal saya," pria itu tersenyum. Ia melangkah kembali ke kursi kerjanya. Ensia duduk di depannya.

Sementara mereka berbincang ringan, Ensia mengeduk tasnya. Ia menarik keluar sebuah cincin perak yang cukup tebal. Motif hitam putihnya sedikit berkilau ditimpa lampu neon ruangan itu.

"Ini buat bapak," pelan namun pasti ia menyodorkan cincin itu ke pria di depannya.

Si bapak agak terkejut. Matanya yang lebar terbelalak.

"Wow, Ensia! Bagus sekali," pujiannya terlontar. "Buat saya?"

Lihat selengkapnya