HARUSKAH KUAKHIRI KISAH INI

Atis Dee Jay
Chapter #5

5. HATI YANG REMUK


Tak satu pun omongan dosen di kelas pagi itu hinggap di benaknya. Ensia terdiam mematung di kursinya. Wajahnya datar seperti layar komputer sedang hang. Ia tidak tersedu, tidak berteriak, tidak memaki, tidak juga berucap. Ia diam saja membeku. Namun ada satu sudut di relung hatinya yang menjerit merintih-rintih.

Ensia tak tahan lagi. Ia bangkit dari kursinya, beranjak ke depan, dan meminta ijin untuk ke kamar kecil. Dosen itu mengangguk sekilas lalu meneruskan lagi ceramahnya.

Ensia bergegas turun ke lantai satu. Dari koridor itu matanya melihat seberkas sinar menyeruak dari ruang kantor di ujung gang. Ia mendekatinya, namun langkahnya berhenti tepat di ujung kelokan. Dari situ ia bisa melihat ruang kantor pria itu. Pintunya setengah terbuka. Ia bergerak sedikit ke depan, dan kini ia bisa melihat Pramono di kursinya. Pria itu sedang duduk dengan wajah menerawang menatap layar komputernya. Sesekali tangan kanannya bergerak mengelus dagunya, sesekali kedua tangannya menopang dagunya. Pandangannya mengambang tanpa fokus, bersusah payah mengembalikan perhatiannya ke layar namun nampaknya selalu ambyar. 

Ensia mendekat. Kembali jantungnya berdebar kencang. Makin dekat, dan akhirnya ia sampai ke pintu itu. Tangannya mengetuk jendela kaca di pintu itu. Pramono menoleh. Ensia mendorong pintu itu sehingga terbuka lebih lebar. Tenggorokannya serasa kering kerontang namun ia memaksanya berujar: “Pak, boleh saya masuk?”

Pramono menatapnya sayu. Kepalanya menggeleng. Ensia merandeg tak jadi meneruskan langkahnya. Namun ia kemudian mengangguk seolah paham, lalu segera beringsut mundur dan pergi.

Ensia bergegas di koridor itu. Ia berjalan cepat sambil menunduk, susah payah menahan tekanan dari dalam hatinya. Sedemikian keras ia harus bertahan sampai ia gigit bibirnya kuat-kuat. Akhirnya kamar kecil itu tercapai juga. Ensia menyerbu masuk ke salah satu biliknya, menutup dan mengunci pintunya, lalu menumpahkan tangisnya. 

Ia terisak-isak, tak kuasa menahan butiran air mata mengaliri pipinya. 

Lihat selengkapnya