Hari bergulir dari satu tanggal ke tanggal berikutnya.
Setiap hari bak padang pasir luas yang sepi dan kering. Bermil-mil jauhnya ia tempuh jalur kering kerontang itu.
Sesekali ia tak kuat lagi dan terpuruk begitu saja di tengah gurun. Ia tidak mati, namun juga ia merasa tidak hidup. Nafasnya teratur, namun pandangannya hampa melayang ke langit.
Lalu perlahan ia akan bangkit lagi. Melanjutkan langkahnya yang gontai. Menyusuri jalur yang sepi dan kering. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Namun jika hatinya bisa bersuara, akan terdengar ratapan merana. Sesekali hati itu akan berteriak liar, kemudian tersedu, lalu meratap lagi mengiba-iba.
Ia ingat satu siang di kantor Pramono. Pria itu sedang agak sibuk namun tetap mempersilakannya duduk. “Kamu anak bimbing saya,” katanya. “Jadi ndak boleh ditolak.” Tawa kecilnya sedikit membangkitkan suasana. Namun selebihnya adalah suasana muram. Ensia duduk setengah terpuruk di kursi depan meja Pramono. Ia menarik nafas panjang, dan menaruh tali tasnya ke dahinya. Matanya memandang hampa ke langit-langit sementara bibirnya berucap, “Pak, apa sih gunanya hidup?”
Ia tidak ingat bagaimana wajah dosennya itu mendengar pertanyaannya. Yang jelas, Pramono kemudian memberikan sedikit ceramah tentang bersyukur dan bla bla bla sejenisnya. Selebihnya ia tidak ingat lagi. Kehampaan perasaannya seolah samudra luas yang menenggelamkan semua ujaran mentornya yang nampak sepenuh hati memberikannya itu.
Lalu ia pun berjalan lagi menyusuri padang pasir kering nan hampa itu . . .
Ensia tak ingat sudah berapa hari ia tak lagi berbincang nyaman dengan Pramono. Ia hanya berjuang keras membuat suasana hatinya sedikit cerah. Selain si Wekky, anjing kecil kesayangannya yang sehari-hari menemaninya di kamar, deru mobil dan keramaian lalu lintas sedikit mengisi hatinya. Wekky menyajikan keceriaan yang menggemaskan walau kadang menyebalkan, dan deru mobil di jalan raya memuncratkan adrenalin ke dalam darahnya. Karena ayahnya sudah membelikan mobil itu sebagai kendaraan pribadinya, ia leluasa mengendarainya ke mana pun dan kapan pun ia suka.
Mengemudi mobil membuat adrenalinnya sedikit terpacu. Ia menikmati sensasi alirannya mengisi dan meramaikan kehampaan dalam pikirannya. Ia injak pedal gas sedikit lebih kuat. Honda Jazz putih bersih itu meluncur makin cepat di jalanan yang belum penuh.