Ensia melaju ke arah pusat kota, kembali ke depan alun-alun. Setelah berputar dua kali dengan si Toyota Starlet masih di ekornya, akhirnya ia melihat mobil itu berbelok ke arah lain dan menghilang.
Ensia sampai di rumahnya beberapa menit kemudian. Sejenak ia terpekur di ranjangnya mencoba merajut pikirannya yang tercerai berai. Ia mengingat-ingat deretan mobil yang dilihatnya hampir setiap hari di parkiran kampusnya. Rasanya tidak ada mobil yang seperti Toyota Starlet tadi. Semua mobil kecil yang sehari-hari bertengger di parkiran kampusnya berwarna gelap atau abu-abu.
Letih melanda. Setelah mandi dan memanaskan susu dan meminumnya, ia kembali ke ruang tengah. Wekky melonjak melihatnya dan melompat ke pangkuannya. Ia belai anjing Shih Tzu itu. Matanya sekilas menatap siaran dari Youtube yang sedang memenjara mata ayah dan kakaknya. Acara komedi British tidak pernah menarik minatnya. Ia beranjak menggendong Wekky ke kamarnya dan menutup pintunya.
Wekky bergolek di sampingnya, lidahnya terjulur dan matanya ceria. Namun Ensia sedang memandang ke arah lain. Ia membuka Instagramnya dan menatap lekat wajah Pramono disitu . . .
Ensia menghabiskan hari-harinya seperti sebuah zombie: ia berjalan, bernafas, dan bekerja, namun jiwanya tidak sepenuhnya berada dalam tubuhnya. Ia hidup karena fungsi biologisnya masih bekerja baik, namun sejatinya ia sudah sekarat karena jiwanya tidak lagi bisa merasakan segala keceriaan, ketegangan, dan berbagai perasaan yang ikut mewarnai episode-episode hidup ini. Sang jiwa hanya merasa sedikit nyaman dan ceria ketika ia berbincang dengan Pramono entah di dunia nyata atau di dunia maya. Namun, sejak peristiwa Pramono membuang cincin pemberiannya itu, tak ada lagi yang bisa membuatnya ceria. Seingatnya, ia hanya menjalani hari-harinya di kampus, lalu bekerja di kantor membantu usaha ayahnya, sesekali marah-marah kepada karyawannya karena hal-hal sepele, lalu sepulang kerja terhempas ke tempat tidur menunggu malam menjelang dan kantuk menyerang.
Beberapa kali ia telungkup di ranjangnya, membuka foto Pramono, menatapnya dengan seribu perasaan berkecamuk di hatinya, lalu mendesah: “Ya Tuhan, sekangen ini aku sama kamu, pak . . . sampai berkeping-keping rasanya . . . ”
Mendung menggayut sejak tengah hari. Makin lama makin gelap. Hujan pun menyusul. Deras luar biasa. Kuliah Pramono hari itu dibatalkan. Teman-teman bilang Pak Pramono ada keperluan mendadak di luar kampus. Dengan mendung dan hujan lebat di luar, Ensia merasa seperti sedang dikubur hidup-hidup. Setelah termangu-mangu beberapa saat sendirian di luar kelas, ia melangkah turun mendekati kantor pria itu. Benarkah ia sedang di luar kampus di cuaca seburuk ini? Nah, benar juga. Ensia tersenyum tipis ketika melihat ruang kantor itu menyala. Pak Pramono pasti sedang ada di dalam. Kenapa ia harus main tipu-tipu?
Ensia melangkah menjauhi ruang itu, kembali ke koridor lalu mengarah ke perpustakaan. Kilat melecutkan cahayanya sekilas menerangi lorong itu. Sepersekian detik kemudian suara geledek dahsyat menggelegar bak mengoyak langit. Beberapa orang menjerit. Ensia diam saja, tetap melangkah dengan tenang seperti patung hidup. Ia membuka pintu kaca dan menemukan tempat sepi di ujung lantai pertama perpustakaan itu. Ia duduk, menenangkan diri. Lalu mulai mengurutkan kepingan-kepingan peristiwa yang dia alami sejak Pramono mengabarkan ia harus membuang cincin pemberiannya itu.
Sejak peristiwa itu, istrinya pasti terus mencecar Pram tentang cincin itu. Kecil kemungkinan Pram bisa mengelak. Itu menjelaskan kenapa ada sebuah mobil Toyota Starlet yang menguntitnya beberapa minggu silam. Baiklah, berarti sang istri sudah mengetahui identitasnya.
Sikap Pramono juga berubah drastis di kelas. Sejak peristiwa itu, ia mengajar dengan mata seperti menghindari para mahasiswanya. Semangatnya seperti kerupuk tersiram kuah, melempem. Lalu beberapa kali ia meminta para mahasiswanya kuliah secara daring dengan alasan harus ada kombinasi antara tatap muka dengan pembelajaran via media digital. Beberapa kali perkuliahan dilakukan seperti itu. Pada satu sesi Ensia menyalakan kameranya sambil dengan sengaja membaca buku teks kuliah Mandarin. Pun Pramono tak menegurnya.
Bayangan beralih ke suasana rumah tangga Pramono. Pastilah sudah mulai terasa seperti neraka kecil karena sang istri akan terus mencecar Pramono tentang gadis yang nekad memberinya cincin itu. Pram pasti mati-matian mengelak, mungkin mengatakan itu hanya sekedar oleh-oleh. Tapi mana ada wanita percaya pada omongan pria yang sudah menguarkan aroma busuk perselingkuhan?
“Mampuslah kau, sayangku, dirajam istrimu dengan interogasinya yang pasti tak kunjung berhenti,” batin Ensia.
***
Ensia berdiri mematung di depan cermin. Matanya cermat mengamati setiap lekuk wajah dan tubuhnya. Beberapa kali ia membayangkan dirinya di tengah kerumunan orang banyak. Ia bukan figur yang tinggi menjulang, hanya seorang wanita muda bertubuh rata-rata. Di tengah lautan manusia, seorang yang berniat jahat akan mudah melumpuhkannya.
Ia menghela nafas. Kali ini kedua tangannya di kedua pinggangnya, lalu naik ke belakang kepalanya, menyatukan rambutnya di bagian belakang sehingga membentuk kucir kuda. Lalu kedua tangannya mengepal di depan dadanya, sedikit di bawah dagunya. Ia mengencangkan rahangnya. “Aku perlu senjata untuk membela diri,” batinnya.
Pikirannya seolah berpindah cepat dari satu hal ke hal lainnya. Karate? Tidak mungkin. Ia bukan tipe yang pantas bersilat kaki dan tangan. Pisau? Hmm, terlalu umum. Bahkan tukang parkir pun bersenjatakan pisau. Pistol? Aha yaa. Sebuah pistol kecil di tangannya akan mematikan. Ia bisa menyimpannya di pinggangnya yang tertutup jaket, menariknya dengan cepat, lalu menembak sasaran.
Tapi ia bahkan belum pernah menembak.