“Pistol,” desis ayahnya. “Hmmm . . . terlalu berbahaya, Ens, cewek bawa-bawa pistol.”
“Pa, papa bisa lihat aku ini potongan kayak apa. Kecil begini. Nyetir sendirian, kadang harus pulang malam. Kalau yang begituan terjadi pada diriku, hanya pistol yang bisa mengusir penjahat yang mendekat.”
“Eh, apa kamu sudah bisa menembak?”
“Papa ndak tahu ya aku sudah lulus latihan menembak?”
“Haah? Kapaan? Kok ndak bilang-bilang kamu latihan nembak??”
Ensia mendecakkan lidahnya. “Papa kan keluar kota atau urusan ini itu. Aku pergi sendiri mendaftarkan diri ke tempat menembak, terus–”
“Kamu kenapa jadi suka menembak?!”
Ensia terdiam sejenak. “Hari gini, lho, Pa” katanya kemudian. “Malang aja udah ndak aman. Apalagi di daerah yang kalau malam udah sepi kayak di sekitar kampusku itu.”
Sang ayah menghembuskan nafas panjang. “Ndak lah, Ens. Terlalu berbahaya. Gini aja, kalau perlu Papa minta Mas Kirman atau Pak Kus untuk mengantar jemput kamu kalau kuliah atau kemana-mana.”
Kali ini Ensia mendengus kesal. Sang ayah berlalu.
Malam sudah larut. Sang ayah masih sibuk di depan tabletnya di ruang tengah, mengirim beberapa email setelah menutup sesi Zoom dengan rekan bisnisnya di luar negeri. Ensia datang mendekatinya.
“Gimana, Pa? Kapan bisa aku pinjam pistol itu?”
“Astaga Ens. Kan sudah Papa bilang–”
“Aku bawa setiap hari dan begitu pulang aku langsung kembalikan,” sergah Ensia. Tatapannya datar. Tekadnya bak tembok China tak kan terbendung. “Kita dulu kan pernah ngobrol soal nasib. Kalau gak siap, malah ada kejadian. Begitu siap dengan senjata atau apalah gitu, malah ndak pernah ada kejadian. Hari-hari ke depan ini aku akan banyak pulang malam karena kegiatan mahasiswa, belum kuliah daring tambahan sama mitra kampusku.”
Sang ayah akhirnya menyerah. Mereka menuju ke kamar kerjanya. Sebentar kemudian Ensia sudah menggenggam pistol itu, lengkap dengan magasin terisi penuh. Sang Papa masih berceramah panjang lebar tentang tindakan menahan diri ketika membawa senjata api, tentang cara pengamanannya dan sebagainya. Ensia terpekur menatap benda maut itu di tangannya. Kata-kata ayahnya hanya masuk sepotong-sepotong ke telinganya. Ia sedang sibuk sendiri merasakan sensasi menegangkan dari senjata itu. Ia bahkan hanya mengucapkan terima kasih sekilas lalu bergegas kembali ke kamarnya.