Sore menjelang. Mentari yang sudah lelah sudah bersiap masuk ke peraduannya di balik gunung. Kampus riuh rendah dipenuhi suara manusia bersiap pulang. Ensia berjalan pelan menyusuri koridor dari lab Akuntansi. Kepalanya yang sejak tadi menunduk sedikit mendongak. Ia merasa ada yang memperhatikannya. Ia menoleh, dan jantungnya berdetak keras melihat Pram berdiri di ujung koridor, menatapnya lekat.
“Selamat sore, Pak.”
“Sore, Ensia.”
Ensia menahan langkahnya, membiarkan beberapa teman sekelasnya melewati mereka. Ketika sudah sepi, ia menengok memandang Pram. Untuk sejenak mereka berpandangan tanpa kata.
“Apa kabar?” bisik pria itu.
“Baik, Pak. Bapak?” Ensia tak kuasa menahan binar-binar di matanya menatap pria itu.
Mereka berbicara sekilas soal kuliah hari itu.
“Ens,” kata Pram dengan nada rendah. “Mau ikut ke rumah saya?”
Ensia ternganga.
“Saya punya rumah di dekat sini,” kata pria itu lagi. “Baru dua mingguan ini. Masih kosong. Kalau mau kita bisa ngobrol disana.”
“Wow,” Ensia berbisik tanpa sadar. “Tapi . . . istri Bapak?”
“Lagi ke luar negeri. Ngurusi bisnisnya. Tiga hari lagi datang.”
Beberapa orang berjalan ke arah mereka sambil mengobrol. Pram berujar cepat dengan nada rendah, “Ikuti mobil saya! Sampe ketemu di parkiran!” Lalu ia berbalik ke arah kantornya.
Rumah baru Pram terletak di kompleks perumahan eksklusif, tak jauh dari kampus itu. Mungil,sekitar 70 meter persegi, namun kelihatan terawat baik.
“Saya beli dari pemiliknya, seorang pengusaha kafe yang usahanya sudah mau tutup,” jelas Pram ketika mereka sudah berada di ruang tamunya yang kecil. “Saya dapat warisan orang tua, Ens.”
Ensia mengangguk paham.
Tiba-tiba saja Pram sudah menggandeng tangan Ensia. Ensia menuruti pria itu membawanya ke ruang tengah yang masih kosong. Agak tergesa, Pram membuka pintu kamar tidur di sebelah kanan. Mereka berpandangan tanpa bicara. Pram memegang kedua pipi gadis itu dan membungkuk untuk mencium bibirnya. Ensia masih berusaha menghindar, mendesah pelan, menggelengkan kepalanya. Namun Pram menyentuhnya lagi dengan bibirnya. Kali ini Ensia menyerah.
Detik berikutnya mereka sudah berpelukan di ranjang besar tanpa seprei di ruang itu. Pram menghujani Ensia dengan ciuman di pipi, leher, dan bibirnya.
“Pak . . .” desah Ensia. Masih berusaha bertahan. Mereka beradu pandang lagi. Nafas Pram memburu. Ia menjelajahi leher Ensia dengan bibirnya. Ensia memejamkan matanya. Tak guna melawan, pikirnya. Ia menyerah pada bara gairah yang menelan tubuh telanjangnya bulat-bulat,
Beberapa saat kemudian, Ensia terkulai di pelukan pria itu. Ia hanya mengenakan bra nya yang masih agak terbuka, dan celana dalamnya. Pram memejamkan mata, mengatur nafasnya yang masih sedikit tersengal, mengecup rambut sang gadis.