“Kamu memaksa saya untuk melakukannya!” suara Pram menggelegar seolah membelah tembok.
“Bapak tidak pernah bisa menjawab pertanyaanku. Tadi aku tanya, Bapak bisa membiayai hidup kita kalau nikah? Sekarang aku tanya, apa ini yang namanya sayang sama aku? Dua-duanya tidak Bapak jawab!”
Pram tertegun. Menatap Ensia, yang memandangnya balik dengan pandangan menuntut.
“Tuh kan? Bapak . . . bagaimana Anda memberikan makna pada hubungan kita ini? Dasarnya apa? Kalau sayang, kenapa Anda mau membunuh aku? Bapak hanya ingin memuaskan nafsu berahi saja kan? Karena Bapak sudah jenuh dengan pernikahan Bapak? Punya istri cerewet yang cemburuan dan selalu sibuk dengan bisnisnya? Atau ingin membuktikan Bapak bukan pria loyo yang masih–”
Tangan kanan Pram melesat menampar pipi Ensia. Ensia mengaduh, tubuhnya menggelosor ke lantai, dan tangisnya pecah. Tangannya menutup mulutnya, air mata deras mengaliri pipinya, dan ia terisak-isak.
Pram gemetar. Pandangan matanya nanar. Ia seperti orang mabuk baru disiram seember air. Pelan ia meraih Ensia dan membantunya berdiri. Pandangannya melunak. “Ens . . Ensia . . . sshh… sudah ya, tenang. Maafkan saya. Saya terbawa emosi. Maafkan saya–”
Ia merengkuh Ensia ke dalam pelukannya, namun Ensia berkelit menghindar. Perempuan itu melompat dari ranjang dan melesat ke ujung kamar, meraih tasnya, mencabut sebuah benda dan detik berikutnya Pram terkesiap melihat moncong pistol terarah langsung ke jantungnya. Kedua tangan Ensia gemetar, namun matanya penuh tekad.
“Pak,” desis wanita itu. “Bapak memaksaku melakukan ini. Pembelaan diri. Bapak maju satu langkah saja, aku tembak.”
“Ens, sayang, ya Tuhaan, tak saya sangka kamu bawa-bawa senjata api,” Pram terbelalak dengan gentar. “Sabar, sayang, kamu bisa membunuh orang.”
Pram bergerak maju. Ensia seketika menarik bagian atas pistolnya. Suara klik yang dingin itu seolah menjanjikan genangan darah dari luka parah.. “Pak, ini Glock sungguhan. Lima belas peluru. Dua bulan lebih training menembak. Hentikan, atau aku nekad menembak!”
“Ens, please,” suara Pram memelas sementara tubuhnya beku di tempatnya. “Ndak perlu lah sampai kayak gini. Lagipula kalau sampai saya terluka, kamu juga yang kena masalah. Ens, letakkan–”
“Masalah!” Ensia menyeringai getir. “Aku sudah hidup berlumur masalah sejak aku masih es em pe, Pak. Sekarang coba Bapak pikir. Kalau hubungan ini sampai tercium keluar, ke kampus, atau Bapak terluka kena tembak, siapa yang akan punya masalah lebih besar? Aku mungkin berakhir di penjara, sampai mati membusuk disana. Selesai. Tapi Bapak? Dengan keinginan Bapak mau menjadi seorang profesor seperti Profesor Sylvestra yang terhormat itu? Dengan keluarga Bapak? Hancur semuanya, bukan?”