HARUSKAH KUAKHIRI KISAH INI

Atis Dee Jay
Chapter #11

11. PAPA, BELIKNO MOTOR PO'O!

Sore selepas jam lima, Ensia pulang dari kantornya. Setelah menaruh tas kerja dan beberapa map di rak dekat ruang makan, ia naik ke lantai dua. Papanya yang sedang duduk di meja makan mengucapkan beberapa kata. Ensia hanya menengok sekilas, lalu ia teruskan berjalan masuk kamar. Ia rebahkan badannya ke atas bed. Menghela nafas panjang, ia memejamkan matanya, lalu menaruh lengannya ke dahinya menutup matanya.

 “Eenss!” suara ayahnya berseru dari bawah. “Yang order kemarin sudah kamu bereskan kah??!!”

 Ensia membuka matanya dan mendengus pendek. “Iyaa,!” teriaknya tak kalah keras. “Besok aku urus, Pa!”

 Didengarnya sang ayah masih mengucapkan beberapa kata. Ensia tidak menjawab. Ia tetap memejamkan matanya dan menutupi dahinya dengan lengannya.

 Beberapa saat kemudian telinganya terusik oleh suara langkah kaki menaiki tangga dan menuju kamarnya. Ia membuka matanya sedikit. Ayahnya, pria tinggi besar itu, sudah berdiri di kamarnya. Wajahnya gusar dan mengandung heran.

 Ens, kok malah tiduran? Yang order dari Koh Salim kemarin lho, apa sudah–”

 “Iya, iyaa, kan aku bilang besok aku pasti urus, Pa!”

 Ensia bangkit dari posisinya yang terlentang. Ia duduk di kasur. Kedua lengannya terkulai lemas di pangkuannya. Wajahnya kuyu.

 “Kamu sakit kah?”

 Ensia membuka mulutnya. Tentu ia ingin menjawab namun entah kenapa seperti tak menemukan tenaga untuk mengujarkan kata. Perasaan hatinya menguasai pikirannya. Ia hanya sanggup memandang ayahnya dengan tatapan sayu, lalu memandang lantai.

 “Setiap sore Papa lihat kamu habis pulang kerja kok selalu langsung tiduran,” ujar ayahnya. “Kenapa? Sakit kah kamu?”

 Seseorang lewat di depan kamarnya. Sang ayah memanggilnya. Melly, anak kedua, merandeg dan berhenti di dekat pintu. “Sini, Mel, ini adikmu kayaknya sakit.”

 Melly, seorang wanita berusia 32 tahun, dengan wajah agak bulat berpipi tembem dan bertubuh sedikit gemuk, memasuki kamar dan ikut menatap adik bungsunya. “Sakit apa, Ens?”

 “Ndak tahu kenapa, Ce, tapi kok aku makin sering merasa . . . .” suaranya tercekat. “Merasa . . . kayak sediiih gitu.”

 Ayah dan kakaknya memandang dengan raut muka heran.

 “Sedih kenapa? Ingat Mama?”

 “Ya, ndak, ya, . . .iya juga tapi bukan hanya itu,” ujar Ensia berusaha memberikan jawaban terjelas. “Kayak merasa hampaa gitu. Kayak kosong, gak bisa merasakan semangat atau kegembiraan . . . .”

 Ayah dan kakaknya makin mengerutkan kening.

 “ . . . dan itu aku rasakan hampir setiap hari,” lanjut Ensia dengan wajah murung.

 “Kok bisa kayak gitu? Masa sedih bisa berkepanjangan kayak gitu?” Papanya heran sendiri. “Lha sedih kan pasti ada sebabnya? Sebabnya apa?”

 Ensia menghembuskan nafas panjang sambil menatap tajam ayahnya. “Ya, mana aku tahu. Aku juga heran kenapa bisa seperti itu, Pa!”

Lihat selengkapnya