Ensia menatap wanita berkerudung biru itu. Pandangan matanya teduh. Anak kecil dalam gendongannya pastilah nyaman di pelukannya. Ensia memandang si kecil. Matanya yang beku seolah menatapnya kembali. “Bayi Yesus,” batin gadis itu. “Hari ini aku kembali ke gerejaMu. Tolong saya sembuh.”
Suara penuh wibawa dari Romo menyapa hatinya setelah sekian lama. “Tuhan datang untuk memberikan penghiburan bagi mereka yang jiwanya kering kerontang,” demikian sang Romo mengawali misa itu. Paduan suara menyusul. Kemerduannya serasa membasuh hati yang sudah compang-camping didera rutinitas dan gejolak batin tak dibelai. Ensia membuka mulutnya dan ikut menyanyi. Suaranya alto. Ia suka menyanyi walau tidak bagus sekali.
Lalu khotbah. Hanya selama tiga menit pertama Ensia bisa mencerna isinya. Selebihnya perhatiannya mengendor lalu lepas bak perahu di pantai terlepas dari tali penambatnya, hanyut terbawa ombak. Ensia menatap hampa ke altar.
Setelah menghormati roti Komuni dan setelah memakannya, Ensia berdoa khusyuk. “Mohon kesembuhan, Tuhan, mohon kesembuhan,” doanya berulang-ulang. “Hati saya hampa, tak tahu kenapa. Mohon kesembuhan–”. Ensia pelan mengusap setitik air mata yang menyeruak di ujung mata kirinya.
Misa usai. Dalam perjalanannya ke pintu, sekali lagi ia menengadah memandang wajah sang ibu dan sang bayi itu. “Tuhan Yesus,” ratap hatinya. “Saya sudah datang. Dimana Engkau? Tak kah Engkau dengar hatiku merana?”
Misa sudah selesai. Ensia berjalan tak tentu arah ke luar gereja. Ketika sampai di depan sebuah pintu kantor, ia baru tersadar. Oh, sial, kenapa pula bisa berakhir disini? Bukannya ia sedang mencari . . . mencari apa ya? Tiba-tiba pikirannya kosong. Ia bahkan tak ingat ia sedang akan berbuat apa. Matanya menangkap kilatan mentari yang terpantul dari mobilnya jauh di lapangan parkir di sana. Nah, kalau ia sedang menuju mobilnya, bagaimana ia bisa sampai disini?
"Selamat pagi," tiba-tiba sebuah suara pria menyapanya dari balik punggungnya. "Permisi . . . mau lewat."
Ensia menengok. Ah, rupanya ia menghalangi jalan keluar dari kantor sekretariat itu. Seorang pria berkulit sawo matang dengan rambut hitam ikal tebal berdiri di belakangnya. Rupanya ia hendak keluar dan terhalang tubuh Ensia di depan pintu itu. Ensia sontak menepi. Pandangannya menangkap seraut wajah tersenyum ramah memamerkan barisan gigi yang besar nan rapi di balik bibir tebal. Pria itu menghentikan langkahnya dan bertanya, "Anda mencari siapa? Ada yang bisa saya bantu?"
Sesaat Ensia tergagap tak bisa berkata-kata. "Emm . . . saya . . ." lalu terhenti begitu saja. "Anu . . . tadi itu, waktu di dalam . . . saya ingin tahu apa disini ada semacam . . . " Gila, sulit benar menyusun kata ketika pikiran hampa. Sang pria memandangnya dengan tenang, sabar menunggu ucapan Ensia. Matanya yang lebar menatap dengan senyum simpul di bibirnya yang dibingkai rahang kokoh. Tubuhnya yang tegap dan tinggi membuat Ensia harus sedikit mendongak memandangnya.
" . . . semacam . . . konsultasi psikologis gitu, Romo.," akhirnya selesai juga ujarannya.